Rabu, 28 Desember 2011

PENDEK SAJA

ketika jurang berkabut terlihat seperti surga
para pecinta bahagia dengan cinta luruh dalam nista...
kehamilan disebut tak sengaja
Seperti tak sengaja meniup nyawa pada bayi-bayi tanpa dosa
Lalu manusia-manusia kecil itu menuntuk hak pembebasan dari dosa warisan orang tua...
Aku berteriak lantang...!!!
pada orang-orang atau ilalang-ilalang
"INIKAH BUAH CINTA"
16 November 2011
_____________________________________________
Sang bayu menyisir ombak di rambutmu
ada kesenduan yang ingin kupeluk diatas kilatan matamu yang berair
"aku rindu kamu bidadariku"
nafasku indah diatas senyummu.
Kurasa dunia berdegub lebih semakin cepat saat kau genggam tanganku

(lov u my sweety) @ 28 Desember 2011
By: Filiya Sang Putri Alfath

Kamis, 20 Oktober 2011

BENCI


Air mata ini membuatku lelah untuk menangis
Setiap kali meleleh karenamu
Kau injak namaku ku tahu kau pun bangga karenanya
Aku mengerti tentang semua ini
Aku betah melihatmu tetap tak peduli

Aku mencoba kuat
Bertahan dalam dendam
Tertawa dalam tangis
Mencinta dengan benci

Adakah namamu dalam harapku?
Adakah aku meminta sisa cintamu?....................
Cuih!"

Banyak mereka yang mampu menerimaku apa adanya
Tanpa menginginkan aku berlutut dikakinya
Berharap belas kasihan diatas tahta arogansimu
Akupun menangis saat kau meludahi wajahku

Inikah cinta sejati yang sanggup memberi tanpa harus menerima...????

oleh Filiya Poetry Alfath pada 23 Agustus 2010 jam 12:34

Sabtu, 08 Oktober 2011

Tuhan Jadikanlah Ia Imamku

Tuhan telah mengajarkan banyak hal tentang cinta
Dengan mengutus sahabat-sahabat sempurna
Tuhan…
Rasa ini bersemi kembali seperti dulu kala
Seperti pada insan-insan sebelumnya
Tuhan…
Apakah rasa ini realita?
Dengannya nafasku begitu sempurna
Tuhan…
Jika rasaku padanya adalah keridha’an yang nyata
Maka tetapkanlah aku padanya
Tuhan…
Di hatiku terdapat ketakutan yang membara
Aku takut cintaku padanya hanya sementara
Tuhan…
Aku ingin imamku mengajariku
Arti mengenal tuhan seperti tuhanku
Tuhan…
Jika dia mengajariku mengenalmu, lebih dari aku mengenalmu
Maka jadikanlah ia imamku




By: Filiya Sang Putri Alfath

Kamis, 06 Oktober 2011

Kepada Sang Awan Biru

       SELAMAT ATAS PRESTASI ANDA. SEMOGA PRESTASI ANDA MELAMBUNG TINGGI SETINGGI ANDA MEMBECI KEKASIH YG MENINGGALKAN ANDA. NAMUN APA ANDA PERNAH MERABA KEASALAHAN YANG ADA LAKUKAN PADA ANDA SEHINGGA KEKASIH ANDA MENINGGALKAN ANDA. COBA ANDA RABA KESALAHAN TERKECIL DAN TERBESAR ANDA SEBELUM ANDA. BERUCAP. SAYA ADALAH SALAH SATU YANG KAGUM DENGAN KESABARAN KEKASIH ANDA SAAT ANDA BERUCAP TAK PANTAS TENTANG KEKASIH ANDA SAAT DIHADAPAN MAHASISWANYA. APA PANTAS SEORANG KEKASIH MENGGOLOK SEDEMIKIAN RUPA KEPADA KEKASIHNYA. "GAJAH DUPELUPUK MATA TAK TERLIHAT SEMUT DISEBERANG PULAU NAMPAK" PEPATAH ITULAH YANG HARUS ANDA RENUNGI.


    Kekasihku mengatakan aku membuatnya sebagai kacung, dia mengolok-ngolok didepan orang lain. aku tahu itu dan bukan sekedar kabar angin belaka, jangankan kalimatnya, jamnya, menitnya detiknya, tanggalnya aku punya bukti orisinil dan otentik. aku mengerti dia orang teater yang pandai bersandiwara namun sayangnya kepandaiannya membuat naskah sandiwara dikalahkan oleh hacker. Dia mengatakan bahwa aku tak lagi selevel dengannya yang baru menjadi DOSEN. Kini air mataku menjadi telaga yang siap menenggelamkanmu. Api yang kau sulut kini mengaben jasadmu, mawar punya duri bukan untuk menyakiti tapi untuk melindungi diri.  PEPATAH ITULAH YANG HARUS ANDA RENUNGI

    Kebenaran selalu punya cara untuk membuktikan diri, dua paragraf berwarna diatas adalah sebuah perdebatan kusir tentang cinta yang apatis. 
     ketika cinta yang didewakan menjadi sebuah sarkasme yang tak berkesudahan. apalagi yang bisa diharapkan? itulah mengapa cupit si dewa cinta yang gendut selalu membawa panah, saat panah yang ditancapkan si cupit telah tercabut. Cinta akan hilang yang tersisa hanya luka dan hati yang koyak.
     Semakin dalam panah menancap semakin lebar dan dalam pula luka yang dihasilkan. adakah hati akan sembuh setelah terkoyak? TIME HEALS EVERY WOUNDS (waktu akan menyebukan luka) tapi bekas luka iu masih ada dan masih tetap ada seperti keloid yang menghitam tebal dan takkan pernah hilang.
       Jadi buat yang baca tulisan ini jangan macam-macam dengan cinta ya....!!! lima huruf C-I-N-T-A tak sesederhana seperti Bu Guru mengajari membaca dan mengeja kata.
BE CAREFULL...!!! ^_^

By: Filiya durung nggennah 

Rabu, 05 Oktober 2011

SUTRA DAN POHON SALAK

Saat mata sebening embun
Ada hati selembut sutra
Diantara cambuk cinta yang mengayun
Dewa-dewi mabuk olehnya

True love is builshit
Take it or leave it
Seperti jaring-jaring pahit
Di batas cakrawala yang kian sempit

Cerita cinta yang orang-orang bilang, sudah basi di telan realita
Yang kutahu, dimana ada harta disana ada cinta
Seperti wakil rakyat yang mengikat suara
Uang dapat bicara dan berkuasa

Aku seperti sutra dan pelepah pohon salak
Jangan kau dekati, atau duriku akan menyalak
Welcome to our game
Do it…! Or die
 
Aku berdiri disini dan takkan mendekat
Ku tahu durimu kan menjerat
Tapi aku terlambat
Dosa yang kau buat terlalu nikmat

Lalu nyanyian asa membuatku terbuai dengan paksa
Once again
Welcome to our game
Do it….! Or die

Wahai para pecinta
Jurang berkabut memang terlihat seperti surga

Sekarang, mari kutunjukkan padamu
Perih cinta itu seperti sutra yang terlilit di sekujur pelepah salak
Sakit pada awalnya, lalu kau kan terbiasa
Setelah kau terbiasa
Tangan tangan itu akan merengkuh sutra dengan paksa
Hingga koyak tanpa sisa
Jangan pernah membayangkan sakitnya
Seperti sakaratul maut kiranya.

Apalagi yang bisa kau andalkan tentang cinta
Layla Majnun? Mereka berdua mati tanpa pernah bersatu
Romeo Juliet? Romeo meminum racun lalu Juliet bunuh diri
Rama dan Shinta? Shinta diculik dan Rama dibantai

Mungkin Barbie cintanya selalu bahagia
Sayangnya Barbie bukan manusia.

By: Filiya Sang Putri Alfath

Kamis, 29 September 2011

Goresan tinta

Delta Sastra

    I have a dream and i will make it real, Aku punya mimpi dan aku akan membuatnya menjadi nyata. aku pernah terjatuh tersungkur dan kehilangan kendali atas diriku sendiri, aku hanya menangis dan terus menangis. lelaki itu bernama Bangsat yang meniupku dengan segala angan-angan kosong. Lalu lelaki itu melepaskan genggamanku dan menjatuhkanku dari langit mimpi. aku pun kehilangan kendali, akupun terhempas, aku remuk
   Kuraba kembali tanganku yang pernah kau genggam. Dingin, dan nadi berdenyut kosong. riuh rendah manusia-manusia berlalu-lalang. aku tertunduk di sudut mati. Tak pernah kusesali semua yang terjadi, hanya kini aku kehilangan mimpi. Lelaki itu bilang saat aku bersamanya mimpiku akan terwujud tapi sekarang...???
      Bolpoin usang di pojok meja, kuamati, kudekati, kupengang. masih ada tintanya. dengan tinta aku bercerita bagaimana lelaki bangsat itu melenyapkan semuanya. huruf demi huruf merangkai cerita. 
       Lelaki itu yang menjanjikan aku untuk menjadi penulis, namun semua itu tak pernah nyata. lelaki itu pergi dariku dengan menguras isi dompetku, untuk penerbitan katanya, tapi entahlah. aku terlalu bodoh untuk mengerti semua dari awalnya.
       Ku ingat kalimat dari seorang penulis terkenal KIRANA KEJORA di kampung seni Sidoarjo, bersama Cak Ugeng, Mbak Ayu, Mbak Mia. KIRANA BERKATA
Berterima kasihlah pada orang yang telah menyakitimu
 aku tersenyum kecut, tapi inilah realitanya. tanpa lelaki bangsat itu. Namaku tak pernah tercetak di sampul buku, hati kecilku mulai tersenyum simpul. ingin sekali rasa terima kasihku didengar lelaki bangsat itu.

"TERIMA KASIH BANYAK LELAKI BANGSAT....!!!"


By: Filiya Sang Putri Alfath

Rabu, 10 Agustus 2011

MASIH

Aku masih berjalan

Dari titik goyang ke sudut limbung
Entah
Jika angin malam mampu mendinginkan lara hati
Aku kan mendekap senja hingga fajar
Tujuh ramadhan sekalipun

Sepi meraung-raung menyeretku kesudut ambigu
Terbayang senyummu menendang ulu hatiku
Masih kucoba melupakan parasmu
Kulihat detik melaju menertawakanku

Masih terasa hangat di pipiku
Bekas kau genggam malam itu
Cinta itu telah meraja dalam hati
Harus ku akui
Harus ku akui
Aku menggigil ketakutan mendengar kau akan pergi
Dan kini kau benar-benar pergi

Bulan pucat bersaksi pada alam
Kerinduan membuatku mati perlahan

Menyuruhku menghapus rasa ini?
Bak mentawarkan garam di laut

Selepas kepergianmu
Cintaku masih tetap tumbuh
Seperti ilalang di padang tak bertuan



By: Filiya Sang Putri Alfath

Minggu, 31 Juli 2011

JANJI


            Dengan selembar kertas dan bolpoint seorang gadis termangu di sebuah Jembatan Tua, sesekali air mata mengalir membasahi kertas di pangkuannya. Disini, dijembatan tua ini, segala kenangan terlukis begitu nyata. Rani masih saja mengenang kekasih yang pernah menggandeng tangannya di jembatan ini.
“Rani, apa kau tahu bahwa diriku adalah lelaki buaya” Tanya Jo padanya
“hah? Seumur hidupku, baru kali ini ada lelaki buaya mengakui dirinya buaya” sahut Rani sambil melongo
Kemudian Jo mulai bercerita
“tahukah engkau mengapa orang betawi saat menikah selalu ada yang membawa roti buaya? Itu karena binatang buaya itu selalu setia pada satu pasangan seumur hidupnya”
“Oh ya? Aku tak tahu”
“Mengapa kamu selalu berkata tidak tahu untuk setiap hal yang kuungkapkan”
“aku benar-benar tidak tahu, aku tak mau sok tahu”
“cobalah menjawab dengan kalimat lain!”
“yang aku tahu hanya satu”
“apa itu?” sorot mata Jo penasaran
“Aku cinta kamu itu cukup bagiku” sahut Rani dengan memandang mata Jo lekat-lekat.
“aku berjanji akan setia padamu sayang, jika salah suatu saat nanti perpecahan terjadi diantara kita, salah satu dari kita harus mengingat janji kita hari ini”
“aku janji Jo, dan aku akan menepati janji ini” Rani dan Jo saling mengikatkan kelingking.
Keadaan berubah saat Jo menemukan kehidupan baru di sebuah perusahaan swasta dan Jo mendapat posisi yang penuh dengan peruntungan. Jo berkata bahwa dia malu memiliki kekasih seperti Rani. Dengan berat hati Rani berusaha menerima kenyataan pahit yang diberikan Jo. Rani tetap setia pada Jo meski lelaki itu mengingkari janjinya untuk hidup berdua. Rani tak mungkin mengharapkan Jo kembali kepadanya. Hanya dengan bait-bait kata Rani mengungkapkan rasa rindu pada kekasihnya.
Kali ini nasib berpihak pada Rani, seorang penerbit melirik tulisannya untuk dipublikasikan ke Media Masa. Kesediaan Rani atas publikasi melambungkan namanya di seluruh stasiun TV nasional. Kisah Rani dan Jo difilmkan oleh sutradara kondang di Ibu Kota.
Sebuah acara live menampilkan bincang-bincang seputar tulisan Rani yang booming. Presenter tampan mengajukan pertanyaan pada Rani
“jadi kisah ini merupakan kisah cinta anda 18 tahun yang lalu?”
“Iya”
“Bagaimana jika saat ini Jo melihat acara ini? Apa yang ingin anda sampaikan?”
“Jika Jo melihat saya disini, saya ingin menyampaikan kerinduan saya padanya. Hingga saat ini saya masih menantinya, saya takkan ingkar janji” jawab Rani sambil menyeka air matanya.


By: Filiya Putri Alfath (28 Juli 2011) 

Kamis, 21 Juli 2011

REALITY

read too much poetry ...
again the government, corruption, souls perish
then let alone ...???

Useless even though thousands of letters composing the word
piled between the rows of para
still remains deaf to deaf
the blind remain blind
the mice remain mice

how not?
when people banging on the gates and doors
they are just fun to play like a stack of file cards
             : 40% to 60% of my people for my pocket

halaah ...
promises promises is only a glimpse of the price mark brand labels
choose me and you're rich ...!
             : just like it sounds

Passing flash of reality
to what many critics write scathing
even if the ...
never change the situation


By: Filiya Sang Putri Alfath
Translate by: Mr. John Amstrong

Rabu, 20 Juli 2011

REALITA

terlalu banyak puisi terbaca...
lagi-lagi pemerintah, kebusukan, jiwa-jiwa binasa
lalu apalagi...???

Percuma saja meski ribuan huruf merangkai kata
tertumpuk antara barisan alinea
tetap saja yang tuli tetap tuli
yang buta tetap buta
yang tikus tetap tikus

bagaimana tidak?
saat rakyat menggedor-gedor gerbang dan pintu-pintu
mereka hanya asyik memainkan berkas bagai tumpukan kartu
              : 40 % untuk rakyatku 60% untuk kantongku

halaah...
janji janji hanya sekilas label merk tanda harga
pilih aku dan kau kaya...!
              :begitu saja kedengarannya

Sekelebat kenyataan melintas
untuk apa menuliskan bermacam kritik pedas
kalau toh...
tak pernah merubah keadaan

By: Filiya Sang Putri Alfath

Kamis, 14 Juli 2011

SUMPAH SERAPAHKU PADA CINTA


      Ternyata mencintai seseorang ga cukup dng cinta thok,ternyata kesetian itu tak perlu kalau selalu diragukan dan tak bisa dihargai.dan sekarang aku bisa bilang persetan dengan cinta,akan kubunuh semua rasa itu dan pergi berlalu dari hadapanmu,dan kepada yang bernama cinta tali ini akan menggantung dirimu,akan kupisahkan leher dan kepalamu,lalu kubuang kelembah neraka jahanam,dan atas nama cinta yang penuh tipu daya,akan kuhisap darahmu,kukeluarkan jantungmu dan matilah kau dalam sengsara,atas nama cinta akan kurobek robek hatimu,kunikmati kunyahan demi kunyahan sampai habis tak bersisa,atas nama cinta sumpah serapah ini lebih  baik daripada aku harus berduka dan menderita karena cinta,atas nama cinta,maka akan kubuat sang cinta jadi tak berharga,dendamku pada sang cinta adalah laut yang menggelora yang akan menenggelamkanmu,dalam rasa sesal teramat dalam,sampai kau tak bisa bedakan antara hidup dan mati,dan untuk kematian sang cinta,mari kita tundukkan kepala,mengenang arwahnya walaupun hanya pura pura,biar hanya kita yang tahu!!

16 january 2011
Romeo Falatehan Alpionda!

Jumat, 24 Juni 2011

Pelangi jelaga


Terik memanggang lautan, membuahkan sepoi sejuk membuai lamunan, pantai bagaikan hamparan permadani safir berkilat-kilat disiangi mentari. Burung-burung memamerkan bulu-bulu indah diantara sayap kokoh menentang angin. Sepasang anak cucu adam bercengkrama diatas geladak balkon pantai Kenjeran. Bersenda gurau dan tertawa geli melihat debur ombak yang menarikan perahu kecil hingga manggut-manggut.
Pria jangkung bersama gadis berjilbab biru itu ialah Dicky Setya Aji dan Fiona Putri, dua insan ini adalah sahabat sejak perkenalan keduanya satu semester yang lalu. Tepat hari kedua saat Fiona menginjakkan kaki di kampus universitas matahari terbit. Dari pertemuan yang secara tidak sengaja itu lahirlah sebuah jalinan persahabatan diantara keduanya.
Diatas geladak keduanya bercengkrama, bersenda gurau, ngobrol ngalor-ngidul diselingi gelak tawa dengan sesekali menjumput bulir-bulir jeruk bali yang sengaja dibeli saat perjalanan menuju pantai.
“ah, seandainya kita berada disini malam-malam aku akan menyalakan lilin dan meletakkannya diatas mangkuk kecil, lalu menghanyutkannya bersama debur ombak ini” ucap Dicky
“lantas tidak lama kemudian, kamu ditangkap satpol PP yang sedang mengadakan operasi gepeng (gelandangan pengemis, blue) hahhahahahah….” Fiona tertawa geli, lantas Dicky menyahuti
“kenapa ditangkap? Aku kan bukan gelandandangan atau pengemis?” wajah manyun Dicky semakin menggelitik perut Fiona
“Bagaimana satpol PP tidak berfikir kamu gepeng kalo kesini malam-malam hanya untuk menghayutkan lilin? Dikira gepeng masih bagus, daripada dianggap gila?” sahut Fiona dan Dicky semakin terpojok, dan membalas olokan Fiona dengan mencubit pipi Fiona kiri dan kanan
“Ayo, rasakan ini anak nakal?” ucap Dicky sambil gemas dan kedua tangannya tak berhenti meremas pipi Fiona.
 “Ahhh… Aduh sakit tahu!” Fiona menjerit namun tak sedikitpun Dicky bergeming. Lantas Fiona mencubit pinggang Dicky, alhasil Dicky menghentikan cubitannya. Sambil mengelus pinggangnya ngilu karena cubitan Fiona. Dua insan ini masih saja tertawa terpingkal-pingkal.
Situasi hening sejenak saat dua orang ini mengusap bagian tubuh mereka yang sakit karena kehebohan yang baru saja terjadi. Dicky masih menatap Fiona yang asyik mengayunkan kaki yang terjulur diatas balkon hingga hampir menyentuh air laut.
“Fiona masih ingatkah engkau dengan puisi yang pernah kuberikan padamu sore itu?” kata Dicky mulai memecah kesunyian diantara keduanya.
“Puisi yang mana Dick?” jawab Fiona dengan sedikit bingung membuat Dicky terdiam sejenak dan mulai membaca
Kau adalah detak jantungku
Kau adalah nafasku
Salahkah aku bila ku memujamu
Walau hanya dalam mimpi saja
Hanya dalam anganku
Hanya dalam khayalku
Kau kumiliki itu cukup bagiku

Fiona sedari tadi diam mendengar puisi yang terucap di bibir Dicky mulai berkata “Iya, aku masih ingat puisi itu Dick” kata Fiona
“apa kau faham makna puisi itu Fiona?” Tanya Dicky
“Ya, tentu aku faham Dick. Tentang seseorang yang kasmaran kan? Dan secara tidak langsung dalam puisi tersebut adalah makna yang tersirat bahwa menyatakan cinta itu bukanlah suatu hal yang mudah” celoteh Fiona.
“dan seperti itulah perasaanku padamu Fiona” kalimat itu muncul seketika itu pula bibir Dicky bergetar.
“Ap… Ap… pa… Apa maksudmu Dick? Aku tidak faham dengan apa yang barusan kau katakan” Fiona kaget dan terbata-bata dia melanjutkan pembicaraan “Bukankah aku pernah mendengar ucapanmu bahwa kau telah tunangan dengan gadis pesantren pilihan Ayahmu?”
“sudah lama aku tidak lagi bersamanya Fiona, kita berdua dijodohkan antara Ayahnya dan Ayahku. Yang jatuh hati padanya adalah Ayahku bukan diriku, demikian pula yang terjadi dengan orang tuanya” ucap Dicky sambil menunduk lesu
“ehm..mm… lalu apa yang terjadi pada gadismu? Apakah hatinya berat terhadap kepergianmu” Tanya Fiona dengan hati-hati. Dicky masih menunduk lesu
“tak pernah ada rasa di hati kita berdua. Dan dia tidak merasa menyesal dengan keputusan itu” jawab Dicky
“Adakah aku menjadi biang keladi diantara kalian berdua? Aku takut, akhir-akhir ini aku terlalu dekat denganmu. Jika salah satu penyebab perselisihan kalian adalah kehadiranku, maka dosalah diriku” Fiona merasa sangat bersalah
“Tidak Fiona, kau bukan penyebab kejadian ini. Aku memilihmu karena dia tak bisa mengerti diriku sepertimu” mata Dicky berkilat-kilat memandang Fiona
Detik berjalan maju, Fiona masih membisu tidak ada kata Ya atau Tidak. Fiona masih diam. Selama ini Fiona menganggap Dicky adalah seorang sahabat atau seperti seorang saudara bahkan mungkin seorang kakak. Nun jauh di hati kecil seorang Fiona Dicky adalah sosok yang sangat dikagumi tentang Agamanya, prinsipnya, kecerdasannya dan keikhlasannya menjalani kehidupan. Dicky adalah seorang sahabat yang baik, dan Fiona tak ingin mengotori persahabatan itu dengan cinta. Sejauh ini Fiona menyayangi Dicky dan mengungkung perasaannya agar tidak berubah menjadi cinta.
“ya sudahlah, tidak masalah bagiku kau menerima atau tidak” kalimat Dicky tercekat “aku akan pergi berangkat ke Makassar menemui saudaraku, dan mungkin… mungkin takkan pernah kembali” Dicky berkata sambil melemparkan pandang ke lautan lepas, seolah tak ingin lagi melihat Fiona
“Dicky!” kata Fiona gugup, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya sejenak ia memejamkan mata dan mulai berkata “saat kau bercerita tentang cintamu padaku tidakkah kau tahu bagaimana caraku mencintaimu?” Fiona berbicara tanpa memandang Dicky sedikitpun
Secercah sinar memancar dari mata Dicky yang berbinar-binar. Dicky faham akan kalimat yang baru saja diucapkan Fiona
***
Dengan kekuatan cinta detik seolah berjalan lebih cepat dari biasanya, semua kata hanya menjadi sampah yang tak pernah tuntas mengartikan kedalaman rasa.
Fiona menyayangi Dicky lebih dari apapun, pernah suatu ketika Dicky kecelakaan yang mengakibatkan jempol kanannya robek dan dijahit beberapa senti. Dicky menangis menjerit, bahkan ia sempat mengirim beberapa SMS kepada Fiona dengan nada yang amat konyol.
"Fiona aku kecelakaan, aku nangis, aku tak kuat Fiona....! Fiona kapan kau kemari...???" saat itu Fiona sedang bekerja dan banyak kerjaan yang tak bisa ditinggal seperti biasa ia mbolos kerja, Hari itu tepat tanggal 1 mei 2011 Fiona membagikan gaji atas karyawannya. Fiona adalah seorang mandor. Setelah semuanya usai Fiona menghubungi Dicky dan Fiona separuh perjalanan menuju tempat Dicky, Tiba-tiba Dicky SMS minta dibelikan pulsa, setelah diberi pulsa ia menelfon Fiona.
"Kau tak usah kesini Fiona, Ayah Ibuku akan datang menjengukku" katanya dari jauh,
"Tapi Ji? Aku sudah hampir sampai" kata Fiona dengan berat hati namun Fiona mendengar ocehan Dicky, Fiona berbalik menuju pemberhentian selanjutnya.
Kampus yah Kampus Fiona tempat Fiona menuntut ilmu. baru saja Fiona sampai di gerbang kampus, Lagi-lagi handphone Fiona berdering "Sayang, Ayah dan Ibu batal datang... kau boleh kesini kalau kau mau" ujar Adi. lagi-lagi Fiona gadis tolol itu menyanggupi permintaan kekasihnya yang aneh.
     Fiona menemuinya di kontrakan rumah susun tempat Dicky tinggal bersama anak didiknya (mahasiswanya, blue) Fiona sampai disana dan melihat Dicky tergelatak lemah dengan pembalut tebal di jompol kirinya. Fiona terbelalak dan hampir menangis. 
       Lafadz Allah menggema diantara gedung gedung tinggi kota Surabaya. Waktunya Sholat Fiona menanti Dicky untuk sholat, setelah maghrib berlalu Dicky meminta Fiona untuk mengantarkan dirinya menuju kampus tempat ia mengajar, disana di teras kampus Fiona duduk di lantai bersama Dicky. Fiona sakit Fiona belum makan seharian, demi Dicky jangankan lapar hujan deras bercampur halilintar pun diterjang Fiona demi Dicky. Perjalanan antara Sidoarjo Surabaya membuat Fiona basah kuyup. Fiona kedinginan jemari Fiona mulai terasa membeku. Isi perut yang kosong mulai berputar gemerincing, Fiona memuntahkan cairan kuning pahit ulah kelenjar asam di lambungnya yang meronta dan berontak. Fiona muntah didepan Dicky. Dicky mulai panik
Bagi Fiona, semua rasa sakit terbayar lunas oleh senyum Dicky. Dicky adalah mentari yang sanggup mempertahankan proses Fotosintesis diantara cabang-cabang neuron di Otak Fiona
***
Diantara deru panas jalanan berdebu, wajah itu kembali hadir menguak sunyi diantara detak waktu yang semakin menggilas. mata kusam menanti janji-janji tak kunjung berarti. gadis muda kurus tinggi melangkah cepat menuju REVO W 1422 YH. waktu di layar HP menunjukkan pukul 14.00 BBWI “belum waktunya pulang kerja” gumamnya dalam hati. tapi dengan secepat kilat Fiona menyambar jacket dan bergegas menuju kampus Kekasihnya, Dicky kekasihnya bukan lagi mahasiswa namun di seorang pengajar mahasiswa. Hampir satu bulan Dicky menghilang, pesan terakhir dari Dicky ialah dia berjanji untuk menemui Fiona di kampus matahari terbit. Fiona menunggu hingga larut malam namun Dicky tak datang jua, Fiona mencoba menghubungi handphone Dicky namun hasilnya nihil. Nomor Dicky tidak aktif
       Sesampainya dikampus Dicky gadis kurus Fiona bertanya pada beberapa rekan yang ia mengenalnya, Dia adalah Yuni dan maz Sepuh, “mas, mbak aku mencari keberadaan Dicky! Dimana Dicky?” tanyanya
“wah saya kurang tahu mbak dari pagi kita berdua duduk disini, dan tidak melihat Dicky!” jawab dua orang itu hampir serempak
      “Dimana Dicky?” ”Dimana Dicky?” bisik hati kecil Fiona bertanya-tanya. pagi jam 07.00 berangkat kerja setelahnya jam 16.00 pulang. mbolos kerja demi Dicky mulai jam 14.00 Fiona meninggalkan kantor lebih awal dari jam seharusnya. Kerja pulang cepat, berangkat kuliah jadi telat dengan hasil nihil. Padahal dosen sudah masuk kelas pada jam 16.00, Ah malangnya nasib Fiona. 
       Masihkah tempat di hati Dicky masih sama seperti dulu saat pertama Dicky mengatakan cinta padanya. Fiona selalu ada saat Dicky butuh, saat Dicky minta ini itu terkadang dengan hal-hal diluar batas nalar untuk seorang gadis muda sepertinya. tak kurang sejumlah sahabat menasehati untuk mulai melupakan Dicky. Aline sahabat Fiona menduga bahwa Dicky adalah pria yang tidak baik. Pernah suatu ketika Dicky menelpon dan merayu Aline, padahal Dicky telah mengetahui Aline telah bertunangan dengan Toni. Sejak saat itu Aline tidak mempercayai Dicky, Aline ragu mengungkapkan pada Fiona apa yang sesungguhnya terjadi demi menjaga perasaan Fiona. Hingga suatu saat Aline menasehati Fiona
“Dicky memang pintar dan dia adalah pria yang sesuai dengan apa yang kau harapkan dari seorang lelaki, Namun apa artinya cinta jika kau hanya menyiksa diri Fiona...??? Cinta itu saling mengasihi bukan memanfaatkan dan menelantarkan orang yang mengasihi...! harusnya kau sadari itu kau cukup dewasa untuk memikirkan hal itu. Kau selalu ada saat dia butuh tapi setelah kau butuh dia?” Aline menasehati dengan lembut seperti biasa, Aline memang gadis cantik yang bijaksana dan sederhana  
“Cinta ini tak sesederhana seperti yang kau lihat sobat” jawab Fiona dengan mata sayu.

“Apabila mentari terasing oleh tabir mendung
Disanalah kau kan lihat betapa, angin dan rintik hujan menari elok bak melodi jiwa
Sesekali spektrum pelangi menyelinap diantara kabut
Warna ini...
Warna ini...
Warna yang pernah kau tunjukkan padaku kala itu
kini warna itu tak seindah seperti saat kau disini”
           
Tidak lama setelah percakapan itu, hanphone Fiona berdering ada satu pesan dari nomor tak dikenal
“Fiona, jangan mengingatku lagi
lupakan aku
aku bukan yang terbaik untukmu
Anggap saja aku sebagai mimpi burukmu
yah mimpi buruk di siang bolong
Terima kasih atas semua yang pernah kau berikan
Dicky”
Fiona ternganga membaca pesan tersebut. Air mata mengucur deras dari matanya. Aline kebingungan melihat Fiona yang berubah 100%. Aline mengambil hanphone dari genggaman Fiona dan mulai membaca.
“Astaghfirullah. Mungkin Allah SWT punya rencana yang lebih baik setelah semua ini Fiona” Aline faham dengan apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya. Hati Fiona remuk redam Fiona menangis dalam pelukan Aline. Fiona masih menangis dan tak sanggup berucap, hatinya luluh lantak menahan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
Fiona mengambil hanphonenya dari Aline dan mengetik sms balasan untuk Dicky
“Apa maksudmu Dicky?
Aku mencintaimu
Aku mencintaimu apa adanya dirimu
Apa salahku, hingga kau ingin pergi dariku?”

Tak lama kemudian Dicky membalas

“KAU TAK PERLU TAHU ALASANNYA
Aku hanya ingin tenang
Lupakanlah aku
Carilah lelaki lain karena aku tak baik untukmu”

Fiona menanggapi sms tersebut
“Aku mencintaimu Dicky
Katakan apa kesalahanku, dan aku akan memperbaikinya
Bukankah dulu kau yang pertama kali mengatakan cinta padaku”

Dicky membalas pesan tersebut dengan kalimat ketus

“Sudahlah, jangan panggil namaku lagi
Dan jangan sekali-kali menghubungiku lagi
Selamat tinggal”

Fiona mencoba menelpn nomor tersebut namun sudah tidak aktif “Aku tak kuat menahan semua ini Aline” ucap Fiona dengan air mata yang tak henti menetes.
“Istighfar sobat, Allah tak akan memberikan cobaan diatas batas kemampuan hambanya” Aline masih memeluk Fiona erat-erat. Fiona tak mampu menahan gejolak di dadanya, ternyata seseorang yang selama ia kagumi meninggalkannya begitu saja tanpa satu alasan yang jelas. Firasat Aline terbukti bahwa sahabatnya Fiona hanya dipermainkan oleh Dicky, Fiona hanya dimanfaatkan. Dan dibuang begitu saja saat tak lagi dibutuhkan.
“boleh aku pinjam laptop milikmu Aline?Aku ingin menuliskan sesuatu” Tanya Fiona sambil mengusap air matanya yang tak henti menetes. Aline segera memberikan laptopnya pada Fiona.
Fiona mengetik kata demi kata dengan air mata yang terus mengucur. Aline membiarkan Fiona menumpahkan perasaannya kepada papan barisan alfabeth dan numeric di laptopnya. Tak terasa suara adzan berkumandang membuat Fiona beringsut dari tempat duduknya.
“Aline, boleh aku minta tolong untuk Upload tulisanku dalam blog” Dengan mata yang masih sembab,
“Segeralah sholat agar reda kecamuk di dadamu sobat, Aku tunggu disini aku sedang datang bulan” ucap Aline kemudian Fiona menulis alamat email beserta password diatas kertas kecil dan memberikannya pada Aline.
“Aku akan cari masjid di sekitar sini” sahut Fiona sambil menuju motor yang terparkir di depannya.
Sepanjang perjalanan menuju masjid Fiona melamun, bayangan Dicky menari-nari dalam otaknya. Bagi Fiona Dicky seperti udara yang selalu dicari untuk tetap bernafas dan bertahan hidup. Dicky adalah segala-galanya, tanpa Dicky angin berhenti berhembus dan bunga-bunga enggan mekar. Mungkin Dicky berfikir bahwa Fiona adalah gadis kecil yang tolol. Fiona hanya akan penting jika Dicky membutuhkan, tanpa sesuatu yang penting dan mendesak Fiona bagai hanay gombal di pojok sarung kumal. Wajah Dicky melintas begitu saja di mata Fiona. Tanpa disadari motor yang dikendarainya diserempet oleh angkot ugal-ugalan yang ngebut nyari setoran. Motor yang dikendarai Fiona oleng dan jatuh ke kanan, tubuh Fiona terpelanting sejauh hampir satu meter. Helm Fiona pecah, darah segar mengalir di pelipis kirinya.
Di lain tempat, Aline mulai gelisah karena Fiona tak kunjung kembali. Aline memencet tombol untuk menelpon Fiona. Bukan Fiona yang mengangkat telepon tapi suara lelaki yang besar dan berat. Pria itu adalah polisi yang menjelaskan bahwa Fiona menjadi korban tabrak lari dan saat ini Fiona berada di UGD. Aline tersentak dan segera meluncur ke rumah sakit tempat Fiona dirawat.
Ruang Teratai blok J nomor 2, tempat Fiona dirawat. Aline memanggil nama Fiona namun Fiona hanya bergumam Aline tidak bias mendengar dengan jelas lantas Aline mendekatkan telinganya kea rah Fiona
“Dicky… Dicky” suara Fiona terdengar amat pelan
“Fiona, katakan Subhanallah… Subhanallah” Aline berbisik ke telinga Fiona dan berharap Fiona mengikuti ucapannya disertai tetes air mata Aline yang mulai meleleh.
“Sub… ha…na…llah” ucap Fiona lirih kemudian suara mesin pendeteksi detak jantung yang berada di samping Fiona perlahan terputus. Aline panic segera memanggil dokter jaga. Kemudian secepat kilat sang dokter mendatangi tubuh Fiona dan menempelkan alat seperti setrika ke dada Fiona hingga membuat Tubuh Fiona tersentak-sentak. Tangis Aline tumpah melihat keadaan sahabatnya.
Beberapa menit berlalu sang Dokter menghampiri Aline dan berkata “Kami telah mencurahkan segala kemampuan kami, namun tuhan berkehendak lain” Badai petir menyambar ubun-ubun Aline mengetahui sahabatnya telah pergi.
***
Sepinya hari tanpa kehadiran Fiona, masih terasa hangat dalam otak Aline bagaimana detik-detik terakhir yang dilaluinya bersama Fiona. Aline menangis terisak di hadapan Toni kekasihnya. Dengan penuh kasih sayang Toni menghibur Aline
“Jangan menangis sayang, Fiona sudah tenang di sana. Fiona juga akan sedih jika sahabatnya menangis” Ucap Toni lirih sembari mengusap tangan Aline. Aline juga bercerita pada Toni tentang kejadian yang menimpa Fiona sesaat sebelum kematiannya. Aline menggenggam kertas tulisan terakhir Fiona yang berisi Email beserta Password. Lalu tentang sahabatnya itu memanggil nama Dicky dua kali sebelum menghembuskan nafas terakhir. Kemudian Toni dan Aline saling berpandangan dan memahami perasaan masing-masing, Inilah wasiat Fiona. Tanpa pikir panjang Aline meraih kunci motor kemudian melesat bersama Toni menuju kampus tempat Dicky mengajar.
Dicky tidak ada dikampus namun Aline mendapat informasi alamat kontrakan Dicky. Aline meluncur ke kontrakan Dicky yang tak jauh dari kampus. Sesampainya dikontrakan Aline melihat Dicky yang asyik bercengkrama dengan kawannya
“Assalamualaikum, Aku ada penting denganmu!” kata Aline dengan ketus, masih terbayang di benaknya bagaimana Pria didepannya menghancurkan hati Fiona
“Walaikum salam, tumben datang kesini kelihatannya buru-buru?” jawab Dicky dengan senyum mengembang namun Aline sudah tak bersimpati padanya. Aline menggandeng lengan  Toni.
“Fiona kecelakaan” jawab Aline singkat
“Apa? Kecelakaan? Bagaimana Keadaannya? Dimana dia sekarang?” acting Dicky bagus sekali, sok panic seolah tanpa dosa.
“Fiona ingin istirahat dengan tenang, Dia ingin kau membuka ini” sahut Aline dengan menyodorkan kertas dengan tulisan tangan Fiona, Dicky tidak faham dengan maksud Aline. Segera aline menyodorkan Laptop beserta modem kepada Dicky. Dicky menyalakan laptop kemudian membuka alamat email dari kertas tersebut.
Dari alamat email Dicky mendapat petunjuk untuk login ke halaman Blogger pribadi milik Fiona dan menemukan beberapa puisi disana.
Rembulan menerawang jeruji jendela
Memandang sayu, gadis yang hilang senyumnya
Sirna sudah harap pada kasihnya
Meringis gadis, di hati penuh luka

Ribuan kelip bintang menetes di pelupuk matanya
Adakah perih ini dia juga rasa
Rasa ini cinta yang terindah, dan kau merusaknya yang ada hanya udara hampa
Aku memilihmu bukan karena, apa, siapa, mengapa, atau kenapa
Aku memilihmu seperti bayi yang dilahirkan bunda,
Dan baru memahami saat telah dewasa

Aku mencintaimu kering, lugas, tanpa hiasan tanpa improvisasi
Beginilah caraku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

Matamu yang selalu bernyanyi di setiap benda yang kupandang
Bagai udara dan debu-debu yang selalu bersatu
Dan aku masih bernyanyi tentang indah jiwamu, seketika tanpa sadar kau ucap selamat tinggal tanpa permisi, bersama segala pemberianmu kini kutangisi
Hampa harapku disini, bersama seribu asa seketika mati
Kau cintai aku dengan goresan dalam, sebuah belati
Hatiku telah mati
Untuk apa bernafas jika hidup tanpa hati
Aku ingin mati
Aku ingin mati
Aku ingin mati

Adakah kau menangis saat aku mati
Seperti aku menangis saat kau pergi

By: Fiona

“selamanya kau takkan pernah menemui Fiona, seperti yang kau inginkan saat mengirim pesan padanya” ucap aline dengan mata berkaca-kaca “Temui Fiona di Desa Sawocang RT 06 RW 02 Nomor 24, Fiona ingin menemuimu untuk terakhir kalinya” Ucap Aline sambil berlalu
“Tunggu Aline, aku tak tahu tempat ini” kata Dicky
“Aku akan mengantarmu sekarang” Aline bergegas menaiki motor bersama Toni dan Dicky membuntuti dari belakang. Dan sampailah mereka bertiga pada kompleks pemakaman. Yang membuat perasaan Dicky was-was. Aline turun dari motor dan memasuki makam tanpa kata. Dicky kebingungan dengan sikap dua orang ini. Kemudian Aline menunjuk salah satu makam yang terlihat baru dengan nisan yang tertulis nama Fiona. Dicky tertunduk lesu sambil mengusap nisan Fiona
“Mungkin yang kau tahu, Fiona mati kecelakaan. Namun yang aku tahu kau yang membunuh jiwanya” kata-kata Aline menghakimi Dicky
“Aku tak pernah membunuhnya!” kilah Dicky setengah teriak.
“apa kau tak membaca puisinya hah? Cinta Fiona tulus ikhlas untukmu. Fiona mempercayakan hatinya padamu. Tapi apa yang telah kau lakukan padanya? Dasar kau pembohong, penjilat! Hingga saat inipun kau masih berpura-pura? Pria Munafiq”  Aline meledak emosinya. Toni segera menenangkan kekasihnya.
“Sudahlah, Fiona telah pergi, percuma kau mengolok-oloknya. Toh dia hanya binatang yang tak punya hati. Biar saja dia terbunuh dalam penyesalan” ujar Toni seraya mengajak Aline untuk pulang.
Dicky menangis meratap menyesali perbuatannya yang telah mempermainkan Fiona. Namun apa boleh dikata saat nasib berkata lain. Fiona sudah tenang di alam sana, sendirian Dicky terpuruk dalam penyesalannya.

 
Jangan pernah ucapkan selamat tinggal
aku kan slalu ada dihatimu, selama masih kau luangkan tempat untuk namaku
Jangan pernah menangis saat aku pergi. Aku hanya mulai lelah untuk bernafas
Saat pelangi jelaga menari diatas ubun-ubun dan detak jantungku mulai terangkat naik
Aku tak pernah meninggalkanmu
Aku hanya ketempat dimana aku berasal. Tempat tinggal yang abadi
Sehingga tak ada air mata lagi.

Sudahlah jangan menangis lagi
Air mata ini membuatku lelah untuk tetap menangis

By: Filiya Sang Putri Alfath