Selasa, 29 Maret 2011

Sembuhlah sayang

Seketika langit mendung dan meneteskan air mata, Burung pipit kulihat matanya resah.  Sayap mulusnya basah oleh tangisan mendung. Sore ini kudengar kabar, kekasih hatiku sakit jauh disana. Seandainya jarak dan waktu tak menjeratku, mungkin aku tlah disisinya untuk mengelus lembut dahinya. Mengusap tetesan resah mengambang di pelupuk matanya…
Bila jarak dan waktu berpihak padaku, Aku ingin jadi yang pertama merasakan pahit dimatamu. Biar kutelan semua perih yang terucap dari bibir manismu. Ulurkan jemarimu sayang…! Biar ku genggam dan kudekatkan pada jantungku, dan rasakan setiap degubnya melantunkan do’a kesembuhanmu
Segera sembuh kekasihku
Aku tak sabar menanti senyummu…


By: Filiya Sang Putri Alfath

PUISI PROSAIK : Berburu Masa Kecil, 002

Aku mencari Vian. Dimana Vian? Hampir satu jam perempuan ini duduk manis di hadapanku. Matanya bening membiaskan sorot mataku, senyumnya jernih memantulkan sinis bibirku. Otot-ototku hampir lunglai lantaran menghirup nafasnya yang harum. Kok bengong melulu? Aku Vian teman kecilmu dulu. Bukan. Kamu bukan Vian. Kamu cuma sesosok badan dengan kulit wajah, lengkung alis dan lesung pipit yang mirip dengan punya Vian. Tapi kamu bukan Vian meski sepasang paru-paru yang kembung-kempis di dadamu dengan sekepal jantung di tengahnya yang berdegup persis di atas usus-usus yang tersusun rapi bersama hati dan empedu adalah benar-benar milik Vianku. Tapi Vian adalah Vian, bukan sekadar semua organ dalam itu atau sepasang mata kucing atau sebuah bibir merah yang ranum merekah.
Vian tidak merokok. Vian suka pakai jilbab dan main boneka, bukan pakai pelembab rambut dan main mata sepertimu. Vian suka minum susu dan bersenandung, bukan minum bir lalu berlincah kata bagai penyair sepertimu. Vian adalah teman kecil yang belasan tahun lalu menghilang, dan kini kutemukan kembali seonggok dagingnya di sebuah kafe, masih utuh, tapi tak ada lagi Vian di situ.


Negeri Katon, Maret 2011
oleh Puisi Prosaik pada 28 Maret 2011 jam 10:17
 
_____________________________________________________________

Aku rindu pada Vian-ku

Selasa, 22 Maret 2011

Belajar Dari Masa Lalu

Sebait embun
Jelas dijalan depan rumah
Suara dendang melantun
Menatap ramah

Tak lagi kusentuh
Album kusam rapuh
Sebuku kehidupan jenuh
Memikirkanmu hanya akan meneteskan peluh

Hanya masa lalu
Hanya masa lalu
Bergumam dengan lagu
Telah pergi rasa itu

Suara hati telah mati
Nurani telah terkunci
Hanya ada benci
bersama ribuan caci-maki

Matahari tetap berpijar
Rembulan tetap bersinar
Dan aku terus belajar


By: Filiya Sang Putri Alfath

Minggu, 20 Maret 2011

Folder

         Sebuah sub folder yang pernah kusimpan kunci hati disana. Kemudian sebuah virus trojan secara diam-diam merusak dan mengobrak-abrik system C,  sengaja kuambil kunci hatiku yang telah terinfeksi. Aku mencoba bertahan dengan virus-virus tanpa sanggup menginstal ulang karena takut folder tersebut ikut menghilang. namun diluar pengetahuanku.. Virus tersebut semakin ganas merangsek dan menginveksi folder-folder tak bersalah. Ia menghapus memori-memori pribadiku.

       Aku hanya diam dan tak sanggup melawan. 10 bulan berlalu aku hidup berdampingan dengan virus-virus yang aku tak ingin bersamanya. Aku ingin menjinakkan virus itu dan tak pernah bisa.
Di tempat yang baru dengan udara yang baru, atmosfer baru, bahkan nyawa yang baru. kutemukan aliran listrik yang mampu membuatku bangkit dan membuka mataku. atas semua kesalahan pilihanku.

     Dengan bantuan sahabat-sahabat aku berhasil memusnahkan virus laknat yang telah menjadi monster tersebut.  dan memberiku folder baru yang begitu indah dan sempurna.... Setahun berlalu, tak sengaja kutemukan kembali folder itu, folder itu telah koyak dan usang. Dia hanya tersenyum memandang kehidupanku yang baru. Maaf aku telah menemukan hidupku yang baru....
Apapun tentang dirimu, kau pernah ada dihatiku. Hanya itu yang kutahu....
Dan aku tetap bernyanyi dengan tangan malaikat tanpa sayap
Dengan insan yang mengajariku tentang rasa

By: Filiya Sang Putri Alfath

Rabu, 16 Maret 2011

KERJA

Pengap penuh sesak
tanpa mampu beranjak
mata-mata dicengkeram
Layar-layar tak padam

Lalu kaki-kaki
Dalam sepatu dan terkunci
Tangan-tangan merana
Terkungkung diatas meja

Berangkat pagi Pulang petang
Dengan kopi dan nasi serantang
Mereka tak sanggup melenggang
Dalam kotak bisu yang membayang

Kerja-kerja
Ah... Betapa lucunya
Bergumul dengan huruf dan angka-angka

Tiada hari yang berhaga
Di setiap Kelender Dinding meja
Hanya ada tanggal satu saja
 
By: Filiya Sang Putri Alfath

Senin, 14 Maret 2011

Rindu ini semakin menyakitkan

Aku ingin menyayangimu dengan sedehana
Dengan kata kasih yang sederhana
seperti titik hujan menghapus kemarau

tapi sayang...
kasihku padamu tak sederhana

Cinta ini lebih dalam
melebihi jutaan kata yang pernah kurangkai
Baru kali ini
Penaku tak sanggup berkata
Kertasku tak sanggup bergumam
tentang indahku padanya
Semakin ia menjaduh dan menghilang
bukan lupa yang kudapat
tapi rindu yang kurasa semakin sesak
semakin menghujam
Semakin dalam mencabik
mencakar setiap urat tubuhku
Angan-angan selalu melayang tentangnya
diantara tubuhku yang semakin lemah
lemah saat aku merindunya

Kubiarkan mereka menertawakan sajak
Sajak cinta terburuk
Taukah engkau...
Aku semakin sakit saat tak sanggup menulis
tak sanggup melukis rasa indahku padanya

jariku beku dan tak sanggup menari diatas tuts komputer
hanya tangis
hanya tangis
Yang bercerita
Aku benar-benar merindukannya

Jadilah pasanganku untuk yang terakhir kalinya



By: Filiya Sang Putri Alfath

Sabtu, 12 Maret 2011

Semoga tuhan memberi kesabaran

Dia...
Dia...
Semakin menjadi-jadi, aku tak tahan lagi. Aku mulai muak dengan semua ini. Aku menyesal telah jujur padanya. seharusnya rasa ini tak pernah menjadi nyata. Sahabat seharusnya aku mendengar nasehatmu, tentang rasaku padanya jangan berubah jadi cinta.
Maafkan aku sahabat...
Maafkan aku sahabat...
Tangan-tangan itu menari-nari diatas tuts komputer dan merendahkanku. Hya aku memang tak pantas jadi kakakmu. Kau punya segalanya dan aku tidak. Aku hanya orang melarat yang tak sengaja menghalangi tatapan matamu. 
Maafkan aku yang pernah merindukanmu....
Maafkan aku
Aku hanya makhluk jelek yang tak punya reputasi
Jangan biarkan tangan sampahku mengotori cat mobilmu


By: Filiya Sang Putri Alfath

Jumat, 11 Maret 2011

Tentang Rindu

senyum tergambar di awan kelabu
Sejenak terjebak
dalam sesak khayal rindu
Tak mampu beranjak

ingin menelan bayang itu
dan menarikan wAktu
yang tak tersentuh
walau hanya setetes peluh

lalu sekelebat
sebuah bayangan lari cepat
Setelah kudapat
Hanya angan yang terus melesat
 

By: Filiya Sang Putri Alfath

Selasa, 08 Maret 2011

Lihat Mereka

Biar saja waktu terus menerkamku
Hanyut dalam kesendirian yang bisu
Dan penaku terus melaju

Diatas kertas rapuh
Lukiskan cerita kehidupan yang lusuh
Suara perut-perut gaduh

Tak pandang bulu
Semua orang selalu
Begitu dan begitu

Yang berdasi
Yang berpeci
Yang berkeki

Kemudian yang bernyanyi
Diantara remah roti
Mengadahkan topi

Cerita kehidupan
Tanpa sungkan
Makan dan makan


By: Filiya Sang Putri Alfath

Rabu, 02 Maret 2011

Pada Kekasih

Ntah sampai kapan terus berdenyut
Satu kisah yg pernah hanyut
Dalam rindu tak luput
Nama itu selalu disebut

Adakah gelora untuk meredam
Adakah api untuk padam
Rasa ini bukan dendam
Hanya saja tak sanggup diam

Rinduku jangan dibenci
Saat detak perlahan mati
Adakah kau disini?
Adakah kau disini?
Hatiku tak bisa lari

Aku hanya berdiri
Di tempat yang sama saat kau pergi
Entah kapan kembali
Andai aku boleh memaki
Aku benci rasa ini

Senyum sinis mentari
Memandangku geli
Dan aku terus menanti
Aku tak perduli


By: Filiya Sang Putri Alfath

Selasa, 01 Maret 2011

Serdadu dan Gadisnya

Selamat tinggal sayang
Aku akan berlalu
Jangan hilang sayang
Rindu milikku

    Jika nanti aku kembali
    Senyummu yang kunanti
    Jika nanti aku tak kembali
    Jangan menangis saat aku mati

Andai seragam ini boleh kuganti
Akan kuganti dengan pelukmu
Agar kau bisa memelukku
Saat pelor menghentikan nafasku

    Selamat tinggal sayang
    Aku akan kembali
    Selamat tinggal sayang 
    Jangan menangis lagi


By: Filiya Sang Putri Alfath

Dalam Anganmu

Mungkin jarak mengaburkan rindu antara kita
Semoga ambisi itu senantiasa membara
Dalam mimpi kulihat wajahmu sembunyi
Dalam untai harapan tak bertepi
Terus melaju
Dalam panas jalanan berbatu
Apa yang ku tuju
Bukanlah mimpiku
Aku terus tergilas dan tak pernah bisa kembali
Dan pergilah
Gapai cita-citamu
Temui aku dalam anganmu
Jika ada
Jika aku masih ada 
Masih ada
Dalam anganmu

By: Filiya Sang Putri Alfath