Kamis, 21 April 2011

Pelangi jelaga

Jangan pernah ucapkan selamat tinggal
aku kan slalu ada dihatimu, selama masih kau luangkan tempat untuk namaku
Jangan pernah menangis saat aku pergi. Aku hanya mulai lelah untuk bernafas
Saat pelangi jelaga menari diatas ubun-ubun dan detak jantungku mulai terangkat naik
Aku tak pernah meninggalkanmu
Aku hanya ketempat dimana aku berasal. Tempat tinggal yang abadi
Sehingga tak ada air mata lagi.

Sudahlah jangan menangis lagi
Air mata ini membuatku lelah untuk tetap menangis


By: Filiya Sang Putri Alfath

Rabu, 20 April 2011

Tertulis

    Sepasang mata yang mampu melihat air mata diantara larik-larik sajak. bersama 5 paragraf cerita rindu menetes menelusuri kedua pipi. Adakah terbaca apa yang tertulis hari ini?

“Apabila mentari terasing oleh tabir mendung
Disanalah kau kan lihat betapa, angin dan rintik hujan menari elok bak melodi jiwa
Sesekali spektrum pelangi menyelinap diantara kabut
Warna ini...
Warna ini...
Warna yang pernah kau tunjukkan padaku kala itu
kini warna itu tak seindah seperti saat kau disini”


Bersama selembar potret bisu, membuka dialog tentang indah genggaman jemari bertudung jaket kala langit mengalirkan tugasnya. Betapa senyumnya menerobos mendobrak gerbang imaji

By: Filiya Sang Putri Alfath

Rabu, 13 April 2011

Mimpi yang dipaksakan

Mungkin bunda punya segudang cat, yang terbuat dari angan-angan dan mimpi untuk dibalurkan pada tubuhku. Untuk ditumpahkan pada pakaianku.
Bunda berhentilah berangan putrimu akan sewarna dengan seragam mimpimu di masa lalu.
Mungkin bunda bisa memaksa…. Namun takkan pernah sanggup menyergap bait kata yang meluncur dari jemari diatas tuts computer

Thursday, April 07, 2011
By: Filiya Sang Putri Alfath

Pesan Ibu Untuk Putri

Sebait embun mengambang di pelupuk mata.
Dengan kornea sejuta kata.
bersama lidah tak mampu berkata.
Lambai tangan untuk salam berpisah.

Cinta putri selaksa hasta
Untuk ibu dan senyumnya
Yang  tak mampu dibayar nyawa

Walaupun bulan dan bintang mampu kugenggam
Tanpa senyum ibu, tiada indah yang lebih mendalam

(tangannya kusut mengelus kepala putri sambil berkata)
Senyum ibu senantiasa milikmu nak….!
Lemparkan batu impianmu sejauh yang kau mau
Hanya satu pesan ibu, ingatlah tuhan sebagaimana yang kuajarkan padamu.
Pergilah….!
Pergilah…!
Raih mimpi dan anganmu
Tugas Ibu hanya merawat dan membesarkanmu. Dan menyayangimu.
Jika kau cinta padaku sayangilah aku.
Dan janganlah menyangiku karena kau kasihan padaku.
Sungguh aku selalu menyayangimu sejak kau di perutku.
Lantaran aku cinta padamu bukan kasihan padamu.

April 8, 2011
By: Filiya sang Putri Alfath