Seekor burung yang terbang kesana
kemari tanpa tahu darimana asalnya, kemana dia akan pergi. Dari dahan satu ke
dahan yang lain ia bertengger sambil bernyanyi melantunkan syair tentang hampa
di setiap pandang matanya. Demikian pula dengan Flo hari-hari berlalu tak
pernah sependapat dengan argument miliknya, hidup serupa rel-rel yang terus
tergilas, legam dipanggang terik, pucat diikat dingin angin-angin, dan basah
saat langit mengalirkan tugasnya. Flo seorang gadis muda yang jatuh cinta pada
sastra dan puisi-puisi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tak ada yang tahu
ia menyukai seni dengan caranya sendiri dia memaknai hidup dengan bahasanya
sendiri. Hidup bagaikan sebuah puisi, terasa indah bagi mereka yang mampu
menikmati, terasa nyaman bagi mereka yang mampu mengerti.
Flo tak pernah lepas dari genggaman
orang tuanya. Dia hidup serupa dengan doktrin-doktrin yang diajarkan orang
tuanya padanya. Bahkan untuk bermimpi saja orang tuanya selalu memegang
kendali. Hanya dengan puisi-puisi ia mampu berdiri terbang bersama segala
ekstasi.
Membagi waktu antara kerja dan
kuliah bukanlah suatu tugas yang mudah. Lelah penat mulai bergelayut meremas
sendi-sendi ngilu, sore hari matahari pucat beringsut turun dari singgahsana
arsyi. Langit senja mulai temaram, mata kuliah pertama telah usai. Adzan magrib
menggema di batas cakrawala burung-burung bersayap hitam hilir mudik entah
kemana. Tenggorokan tercekat membutuhkan seteguk fluida bersama seorang gadis cantik berkulit pucat dia bernama
Aline. Bersama Aline Flo pergi ke kantin untuk segelas teh dingin. Tiba-tiba
muncul seorang lelaki yang boleh dibilang usia lumayan tuwir untuk seukuran
mahasiswa
“beli
es mbak…?? Udah gabung ma UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)?” Tanya lelaki itu
sambil nyerocos “ mari gabung ma kita di Teater Kocak” ujarnya lagi
“Ehm.
Asyik sepertinya. Tar deh aku kesana ambil formulir untuk gabung sekaligus
liat-liat” jawab Flo.
“Yuk
Sholat Flo. Tar aja urusan formulir yang penting sholat dulu” kata Aline gadis
berjilbab merah itu hampir menyihir Flo, Flo hanya diam dan menurut tanpa
banyak kata.
Pukul 20.30 mata kuliah terakhir telah
usai, Flo bergegas menghampiri secretariat Teater Kocak. Disini Flo baru
menyadari kalau lekaki yang magrib tadi nyerocos padanya bernama Abul. Di secretariat
teater dia berkenalan dengan beberapa orang seperti Lingga pria jangkung
berambut jagung, Atau Akip
si ganteng mungil berhidung mancung. Yah lelaki berhidung mancung itu adalah
ketua perkumpulan ini. Flo bahagia dengan celoteh-celoteh mereka seperti burung
pipit rebutan gabah dengan petani di panas hari. Flo mulai cerita pada mereka
tentang kegemarannya terhadap teater sejak usia SD, Flo pertama kali mengenal
Teater dari ayahnya yang pernah menjadi sutradara pementasan Teater, Flo begitu
antusias bahkan Flo sempat menunjukkan salah satu karya puisi yang berhasil
dibuatnya, termasuk berhasil di dokumentasikan. Karena Flo adalah sosok yang
lumayan teledor banyak dari beberapa karyanya yang tercecer hilang lantas harus
jadi pembungkus pisang goreng panas.
Perkenalan selanjutnya yakni dengan
pria Jangkung kurus dengan nama yang cukup aneh ****(sebut saja Aji) inilah
awal mula perkenalan Flo dengan Aji. Aji adalah sarjana kesenian dan satu gelar
lainnya ialah sarjana pendidikan. Di dua universitas terkemuka di Ibu Kota.
Entah mengapa dan bagaimana dia bisa sampai di PTS kecil di Sidoarjo ini. Aji
sangat asyik dan lucu, entah bagaimana mulanya flo diam-diam menaruh hati
padanya. Flo memanggilnya dengan sebutan Kakak. Flo mulai mengikuti latihan
teater dengan Aji dan anggota teater lainnya. Disini Flo belajar mengenai
banyak hal termasuk Olah Gerak, Olah rasa
dan sebagainya.
------*******------
Pada suatu ketika terdapat satu
acara di teater kocak yakni pergantian ketua umum. Acara demi acara perlahan
usai, seketika itu Aji mendekati Flo
“Adek
bawa puisi adek? Kemarin kakak nyuruh adek untuk mendokumentasikan semua karya
yang pernah adek buat kan?” Kata Aji
“Iya.
Aku bawa semuanya. Mulai dari yang paling awal tahun 2006 hingga yang terbaru.
Baru selesai dua hari yang lalu” jawab Flo
“nanti
kamu musti baca salah satu karya kamu didepan, terserah yang mana aja” kata Aji
“Okelah, aku akan bacakan satu karya yang terbaru tentang kebanggaanku dengan
teater Kocak” jawab Flo “Bagus…” sahut Aji
Hingga saatnya pun tiba, Flo berdiri
di depan audiens dan mulai berpuisi dengan karyanya yang berjudul “NYAWAKU YANG
BARU” semua orang terpaku saat Flo mulai membaca….
….Ku temukan setitik pijar, panas, suci menyilaukan
mata
Perlahan
sadar
Kurangkai
kembali optimis yang telah lama mati
Harapku
bersemi kembali
Terasa
jantung ini terpacu untuk berdegub
Lebih
cepat, lebih cepat, semakin cepat
Cahaya
itu terasa hangat membasuh sendi-sendi beku
Inilah
tempatku
Disinilah
jiwaku
Teater
kocak tempat nyawaku kembali
Dari
sini pencerahan bersemi….
By:
Fly P Alfath, Sabtu 16 Oktober 2010
Suara tepuk tangan bergemuruh, untuk
Flo dan karyanya yang luar biasa memukau para hadirin pada malam itu. Flo
melirik Aji yang tersenyum simpul. Pembacaan puisi dilanjutkan, oleh salah satu
senior exentrik bernama Mia. Dia membawakan puisi dengan gaya dan bahasa yang
luar biasa. Selanjutnya ialah Hakim lelaki bertubuh subur ini membacakan salah
satu Puisi Flo yang berjudul “MEMIMPIKAN SEBUAH MIMPI”. Puisi ini-puisi ini
adalah puisi yang dibuat Flo saat Flo kecelakaan saat Flo depresi, saat Flo tak
punya lagi harapan untuk tetap hidup. Puisi yang menggambarkan kehidupan Flo
yang amburadul tanpa harapan tanpa mimpi, bahkan tanpa cita-cita. Flo tak kuasa
menahan air mata saat bait-bait awal puisi itu mulai dibacakan, Flo tak ingin
menangis namun Flo tak sanggup menahan air matanya. Aji kebetulan berada di
dekat Flo. Aji mendekati Flo dan memeluk Flo. Aji mengusap jilbab Flo, dan Flo
menangis sesenggukan di pundak Aji. Inilah kali pertama Flo benar-benar
merasakan kasih sayang Aji.
------*******------
Gunung Merapi di Magelang Jawa
Tengah. Murka tanpa satu alasan yang jelas, orang-orang mulai panic saat gunung
yang indah dan tenang itu mulai memuntahkan kerikil-kerikil membara. Hampir
seluruh stasiun televisi memuat gambaran tentang segala sesuatu yang terjadi
disana. Flo dan rekan-rekan teater kocak menyampaikan rasa belasungkawa dengan
mengadakan penggalangan dana social untuk membantu korban-korban merapi.
Setelah Dana terkumpul beberapa
rekan memutuskan untuk langsung pergi ke lokasi untuk menjadi relawan disana.
Demikian halnya dengan Aji, dia berangkat kesana dalam hal yang sama.
Detik berlalu menyanyikan waktu.
Rembulan dan matahari bertukar posisi. Hampir purnama namun Aji tak jua nampak
batang hidungnya . tak disangka tiba-tiba di sore yang hangat Flo menyalakan
computer dan menancapkan Flashdisk, Flashdisk Flo error dan seluruh file yang
disimpan di dalamnya menjadi hilang. Flo bingung bercampur putus asa. Flo
mengirim pesan kepada Aji via Facebook inti
pesan itu ialah Flo mengharap File dokumentasi puisi yang pernah diketiknya dan
diberikan pada Aji masih utuh. Hanya itu satu-satunya harapan Flo.
Aji membalas pesan tersebut dengan
satu kalimat yang menggetarkan hati Flo “Kemungkinan besar kita ndak akan
ketemu lagi dek” satu kenyataan pahit bagi Flo. Flo menangis sejadi-jadinya.
Dalam isak tangis itu Flo menulis sebuah Puisi
SAHABAT
Untuk
seorang sahabat
Tak
serahim namun saling mengikat
Bersamamu
aku semakin kuat
Jalani
hari-hari yang semakin berat
Ku
bawakan mawar seikat
Merah
bak senyummu memikat
Tanpamu
detik berlalu dalam sekarat
Kau
beri segenggam kasih untukku
Tentang
arti kepercayaan yang sekian lama kutunggu
Ingin
kulukiskan rasa ini padamu
Rasa
yang mengharu biru
Terima
kasih sahabat
Hanya
kau yang mampu
Melihat
pahit di mataku
Makna
kehidupan yang kau ajarkan padaku
Terpahat
indah dihatiku yang lama beku
Andai
dapat kulukiskan indahku padamu
Merah
mawar ini tak lebih cantik dari hatimu
03
November 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya tunggu kritik dan sarannya :D