Minggu, 05 Juni 2011

ARTI PUISI



            Seekor burung yang terbang kesana kemari tanpa tahu darimana asalnya, kemana dia akan pergi. Dari dahan satu ke dahan yang lain ia bertengger sambil bernyanyi melantunkan syair tentang hampa di setiap pandang matanya. Demikian pula dengan Flo hari-hari berlalu tak pernah sependapat dengan argument miliknya, hidup serupa rel-rel yang terus tergilas, legam dipanggang terik, pucat diikat dingin angin-angin, dan basah saat langit mengalirkan tugasnya. Flo seorang gadis muda yang jatuh cinta pada sastra dan puisi-puisi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tak ada yang tahu ia menyukai seni dengan caranya sendiri dia memaknai hidup dengan bahasanya sendiri. Hidup bagaikan sebuah puisi, terasa indah bagi mereka yang mampu menikmati, terasa nyaman bagi mereka yang mampu mengerti.
            Flo tak pernah lepas dari genggaman orang tuanya. Dia hidup serupa dengan doktrin-doktrin yang diajarkan orang tuanya padanya. Bahkan untuk bermimpi saja orang tuanya selalu memegang kendali. Hanya dengan puisi-puisi ia mampu berdiri terbang bersama segala ekstasi.
            Membagi waktu antara kerja dan kuliah bukanlah suatu tugas yang mudah. Lelah penat mulai bergelayut meremas sendi-sendi ngilu, sore hari matahari pucat beringsut turun dari singgahsana arsyi. Langit senja mulai temaram, mata kuliah pertama telah usai. Adzan magrib menggema di batas cakrawala burung-burung bersayap hitam hilir mudik entah kemana. Tenggorokan tercekat membutuhkan seteguk fluida bersama seorang gadis cantik berkulit pucat dia bernama Aline. Bersama Aline Flo pergi ke kantin untuk segelas teh dingin. Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang boleh dibilang usia lumayan tuwir untuk seukuran mahasiswa
“beli es mbak…?? Udah gabung ma UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)?” Tanya lelaki itu sambil nyerocos “ mari gabung ma kita di Teater Kocak” ujarnya lagi
“Ehm. Asyik sepertinya. Tar deh aku kesana ambil formulir untuk gabung sekaligus liat-liat” jawab Flo.
“Yuk Sholat Flo. Tar aja urusan formulir yang penting sholat dulu” kata Aline gadis berjilbab merah itu hampir menyihir Flo, Flo hanya diam dan menurut tanpa banyak kata.
           

            Pukul 20.30 mata kuliah terakhir telah usai, Flo bergegas menghampiri secretariat Teater Kocak. Disini Flo baru menyadari kalau lekaki yang magrib tadi nyerocos padanya bernama Abul. Di secretariat teater dia berkenalan dengan beberapa orang seperti Lingga pria jangkung berambut jagung, Atau Akip si ganteng mungil berhidung mancung. Yah lelaki berhidung mancung itu adalah ketua perkumpulan ini. Flo bahagia dengan celoteh-celoteh mereka seperti burung pipit rebutan gabah dengan petani di panas hari. Flo mulai cerita pada mereka tentang kegemarannya terhadap teater sejak usia SD, Flo pertama kali mengenal Teater dari ayahnya yang pernah menjadi sutradara pementasan Teater, Flo begitu antusias bahkan Flo sempat menunjukkan salah satu karya puisi yang berhasil dibuatnya, termasuk berhasil di dokumentasikan. Karena Flo adalah sosok yang lumayan teledor banyak dari beberapa karyanya yang tercecer hilang lantas harus jadi pembungkus pisang goreng panas.
            Perkenalan selanjutnya yakni dengan pria Jangkung kurus dengan nama yang cukup aneh ****(sebut saja Aji) inilah awal mula perkenalan Flo dengan Aji. Aji adalah sarjana kesenian dan satu gelar lainnya ialah sarjana pendidikan. Di dua universitas terkemuka di Ibu Kota. Entah mengapa dan bagaimana dia bisa sampai di PTS kecil di Sidoarjo ini. Aji sangat asyik dan lucu, entah bagaimana mulanya flo diam-diam menaruh hati padanya. Flo memanggilnya dengan sebutan Kakak. Flo mulai mengikuti latihan teater dengan Aji dan anggota teater lainnya. Disini Flo belajar mengenai banyak hal termasuk Olah Gerak, Olah rasa  dan sebagainya.
------*******------
            Pada suatu ketika terdapat satu acara di teater kocak yakni pergantian ketua umum. Acara demi acara perlahan usai, seketika itu Aji mendekati Flo
“Adek bawa puisi adek? Kemarin kakak nyuruh adek untuk mendokumentasikan semua karya yang pernah adek buat kan?” Kata Aji
“Iya. Aku bawa semuanya. Mulai dari yang paling awal tahun 2006 hingga yang terbaru. Baru selesai dua hari yang lalu” jawab Flo
“nanti kamu musti baca salah satu karya kamu didepan, terserah yang mana aja” kata Aji “Okelah, aku akan bacakan satu karya yang terbaru tentang kebanggaanku dengan teater Kocak” jawab Flo “Bagus…” sahut Aji
            Hingga saatnya pun tiba, Flo berdiri di depan audiens dan mulai berpuisi dengan karyanya yang berjudul “NYAWAKU YANG BARU” semua orang terpaku saat Flo mulai membaca….
….Ku temukan setitik pijar, panas, suci menyilaukan mata
Perlahan sadar
Kurangkai kembali optimis yang telah lama mati
Harapku bersemi kembali
Terasa jantung ini terpacu untuk berdegub
Lebih cepat, lebih cepat, semakin cepat
Cahaya itu terasa hangat membasuh sendi-sendi beku
Inilah tempatku
Disinilah jiwaku
Teater kocak tempat nyawaku kembali
Dari sini pencerahan bersemi….

By: Fly P Alfath, Sabtu 16 Oktober 2010

            Suara tepuk tangan bergemuruh, untuk Flo dan karyanya yang luar biasa memukau para hadirin pada malam itu. Flo melirik Aji yang tersenyum simpul. Pembacaan puisi dilanjutkan, oleh salah satu senior exentrik bernama Mia. Dia membawakan puisi dengan gaya dan bahasa yang luar biasa. Selanjutnya ialah Hakim lelaki bertubuh subur ini membacakan salah satu Puisi Flo yang berjudul “MEMIMPIKAN SEBUAH MIMPI”. Puisi ini-puisi ini adalah puisi yang dibuat Flo saat Flo kecelakaan saat Flo depresi, saat Flo tak punya lagi harapan untuk tetap hidup. Puisi yang menggambarkan kehidupan Flo yang amburadul tanpa harapan tanpa mimpi, bahkan tanpa cita-cita. Flo tak kuasa menahan air mata saat bait-bait awal puisi itu mulai dibacakan, Flo tak ingin menangis namun Flo tak sanggup menahan air matanya. Aji kebetulan berada di dekat Flo. Aji mendekati Flo dan memeluk Flo. Aji mengusap jilbab Flo, dan Flo menangis sesenggukan di pundak Aji. Inilah kali pertama Flo benar-benar merasakan kasih sayang Aji.
------*******------
            Gunung Merapi di Magelang Jawa Tengah. Murka tanpa satu alasan yang jelas, orang-orang mulai panic saat gunung yang indah dan tenang itu mulai memuntahkan kerikil-kerikil membara. Hampir seluruh stasiun televisi memuat gambaran tentang segala sesuatu yang terjadi disana. Flo dan rekan-rekan teater kocak menyampaikan rasa belasungkawa dengan mengadakan penggalangan dana social untuk membantu korban-korban merapi.
            Setelah Dana terkumpul beberapa rekan memutuskan untuk langsung pergi ke lokasi untuk menjadi relawan disana. Demikian halnya dengan Aji, dia berangkat kesana dalam hal yang sama.
            Detik berlalu menyanyikan waktu. Rembulan dan matahari bertukar posisi. Hampir purnama namun Aji tak jua nampak batang hidungnya . tak disangka tiba-tiba di sore yang hangat Flo menyalakan computer dan menancapkan Flashdisk, Flashdisk Flo error dan seluruh file yang disimpan di dalamnya menjadi hilang. Flo bingung bercampur putus asa. Flo mengirim pesan kepada Aji via Facebook inti pesan itu ialah Flo mengharap File dokumentasi puisi yang pernah diketiknya dan diberikan pada Aji masih utuh. Hanya itu satu-satunya harapan Flo.
            Aji membalas pesan tersebut dengan satu kalimat yang menggetarkan hati Flo “Kemungkinan besar kita ndak akan ketemu lagi dek” satu kenyataan pahit bagi Flo. Flo menangis sejadi-jadinya. Dalam isak tangis itu Flo menulis sebuah Puisi
SAHABAT
Untuk seorang sahabat
Tak serahim namun saling mengikat
Bersamamu aku semakin kuat
Jalani hari-hari yang semakin berat
Ku bawakan mawar seikat
Merah bak senyummu memikat
Tanpamu detik berlalu dalam sekarat

Kau beri segenggam kasih untukku
Tentang arti kepercayaan yang sekian lama kutunggu
Ingin kulukiskan rasa ini padamu
Rasa yang mengharu biru

Terima kasih sahabat
Hanya kau yang mampu
Melihat pahit di mataku
Makna kehidupan yang kau ajarkan padaku
Terpahat indah dihatiku yang lama beku

Andai dapat kulukiskan indahku padamu
Merah mawar ini tak lebih cantik dari hatimu

03 November 2010


By: Filiya Sang Putri Alfath

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya tunggu kritik dan sarannya :D