Terik memanggang lautan, membuahkan sepoi sejuk
membuai lamunan, pantai bagaikan hamparan permadani safir berkilat-kilat
disiangi mentari. Burung-burung memamerkan bulu-bulu indah diantara sayap kokoh
menentang angin. Sepasang anak cucu adam bercengkrama diatas geladak balkon
pantai Kenjeran. Bersenda gurau dan tertawa geli melihat debur ombak yang
menarikan perahu kecil hingga manggut-manggut.
Pria jangkung bersama gadis berjilbab biru itu ialah
Dicky Setya Aji dan Fiona Putri, dua insan ini adalah sahabat sejak
perkenalan keduanya satu semester yang lalu. Tepat hari kedua saat Fiona
menginjakkan kaki di kampus universitas matahari terbit. Dari pertemuan yang
secara tidak sengaja itu lahirlah sebuah jalinan persahabatan diantara keduanya.
Diatas geladak keduanya bercengkrama, bersenda
gurau, ngobrol ngalor-ngidul
diselingi gelak tawa dengan sesekali menjumput bulir-bulir jeruk bali yang
sengaja dibeli saat perjalanan menuju pantai.
“ah, seandainya kita berada disini malam-malam aku
akan menyalakan lilin dan meletakkannya diatas mangkuk kecil, lalu
menghanyutkannya bersama debur ombak ini” ucap Dicky
“lantas tidak lama kemudian, kamu ditangkap satpol
PP yang sedang mengadakan operasi gepeng (gelandangan pengemis, blue)
hahhahahahah….” Fiona tertawa geli, lantas Dicky menyahuti
“kenapa ditangkap? Aku kan bukan gelandandangan atau
pengemis?” wajah manyun Dicky semakin menggelitik perut Fiona
“Bagaimana satpol PP tidak berfikir kamu gepeng kalo
kesini malam-malam hanya untuk menghayutkan lilin? Dikira gepeng masih bagus,
daripada dianggap gila?” sahut Fiona dan Dicky semakin terpojok, dan membalas
olokan Fiona dengan mencubit pipi Fiona kiri dan kanan
“Ayo, rasakan ini anak nakal?” ucap Dicky sambil
gemas dan kedua tangannya tak berhenti meremas pipi Fiona.
“Ahhh… Aduh
sakit tahu!” Fiona menjerit namun tak sedikitpun Dicky bergeming. Lantas Fiona
mencubit pinggang Dicky, alhasil Dicky menghentikan cubitannya. Sambil mengelus
pinggangnya ngilu karena cubitan Fiona. Dua insan ini masih saja tertawa
terpingkal-pingkal.
Situasi hening sejenak saat dua orang ini mengusap
bagian tubuh mereka yang sakit karena kehebohan yang baru saja terjadi. Dicky
masih menatap Fiona yang asyik mengayunkan kaki yang terjulur diatas balkon
hingga hampir menyentuh air laut.
“Fiona masih ingatkah engkau dengan puisi yang
pernah kuberikan padamu sore itu?” kata Dicky mulai memecah kesunyian diantara
keduanya.
“Puisi yang mana Dick?” jawab Fiona dengan sedikit
bingung membuat Dicky terdiam sejenak dan mulai membaca
Kau adalah detak jantungku
Kau adalah nafasku
Salahkah aku bila ku memujamu
Walau hanya dalam mimpi saja
Hanya dalam anganku
Hanya dalam khayalku
Kau kumiliki itu cukup bagiku
Fiona sedari tadi diam mendengar puisi yang terucap
di bibir Dicky mulai berkata “Iya, aku masih ingat puisi itu Dick” kata Fiona
“apa kau faham makna puisi itu Fiona?” Tanya Dicky
“Ya, tentu aku faham Dick. Tentang seseorang yang
kasmaran kan? Dan secara tidak langsung dalam puisi tersebut adalah makna yang
tersirat bahwa menyatakan cinta itu bukanlah suatu hal yang mudah” celoteh
Fiona.
“dan seperti itulah perasaanku padamu Fiona” kalimat
itu muncul seketika itu pula bibir Dicky bergetar.
“Ap… Ap… pa… Apa maksudmu Dick? Aku tidak faham
dengan apa yang barusan kau katakan” Fiona kaget dan terbata-bata dia
melanjutkan pembicaraan “Bukankah aku pernah mendengar ucapanmu bahwa kau telah
tunangan dengan gadis pesantren pilihan Ayahmu?”
“sudah lama aku tidak lagi bersamanya Fiona, kita
berdua dijodohkan antara Ayahnya dan Ayahku. Yang jatuh hati padanya adalah
Ayahku bukan diriku, demikian pula yang terjadi dengan orang tuanya” ucap Dicky
sambil menunduk lesu
“ehm..mm… lalu apa yang terjadi pada gadismu? Apakah
hatinya berat terhadap kepergianmu” Tanya Fiona dengan hati-hati. Dicky masih
menunduk lesu
“tak pernah ada rasa di hati kita berdua. Dan dia
tidak merasa menyesal dengan keputusan itu” jawab Dicky
“Adakah aku menjadi biang keladi diantara kalian berdua?
Aku takut, akhir-akhir ini aku terlalu dekat denganmu. Jika salah satu penyebab
perselisihan kalian adalah kehadiranku, maka dosalah diriku” Fiona merasa
sangat bersalah
“Tidak Fiona, kau bukan penyebab kejadian ini. Aku
memilihmu karena dia tak bisa mengerti diriku sepertimu” mata Dicky
berkilat-kilat memandang Fiona
Detik berjalan maju, Fiona masih membisu tidak ada
kata Ya atau Tidak. Fiona masih diam. Selama ini Fiona menganggap Dicky adalah
seorang sahabat atau seperti seorang saudara bahkan mungkin seorang kakak. Nun
jauh di hati kecil seorang Fiona Dicky adalah sosok yang sangat dikagumi
tentang Agamanya, prinsipnya, kecerdasannya dan keikhlasannya menjalani
kehidupan. Dicky adalah seorang sahabat yang baik, dan Fiona tak ingin
mengotori persahabatan itu dengan cinta. Sejauh ini Fiona menyayangi Dicky dan
mengungkung perasaannya agar tidak berubah menjadi cinta.
“ya sudahlah, tidak masalah bagiku kau menerima atau
tidak” kalimat Dicky tercekat “aku akan pergi berangkat ke Makassar menemui
saudaraku, dan mungkin… mungkin takkan pernah kembali” Dicky berkata sambil
melemparkan pandang ke lautan lepas, seolah tak ingin lagi melihat Fiona
“Dicky!” kata Fiona gugup, keringat dingin mulai
membanjiri tubuhnya sejenak ia memejamkan mata dan mulai berkata “saat kau
bercerita tentang cintamu padaku tidakkah kau tahu bagaimana caraku
mencintaimu?” Fiona berbicara tanpa memandang Dicky sedikitpun
Secercah sinar memancar dari mata Dicky yang
berbinar-binar. Dicky faham akan kalimat yang baru saja diucapkan Fiona
***
Dengan kekuatan cinta detik seolah berjalan lebih
cepat dari biasanya, semua kata hanya menjadi sampah yang tak pernah tuntas
mengartikan kedalaman rasa.
Fiona
menyayangi Dicky lebih dari apapun, pernah suatu ketika Dicky kecelakaan yang
mengakibatkan jempol kanannya robek dan dijahit beberapa senti. Dicky menangis
menjerit, bahkan ia sempat mengirim beberapa SMS kepada Fiona dengan nada yang
amat konyol.
"Fiona
aku kecelakaan, aku nangis, aku tak kuat Fiona....! Fiona kapan kau
kemari...???" saat itu Fiona sedang bekerja dan banyak kerjaan yang tak
bisa ditinggal seperti biasa ia mbolos kerja, Hari itu tepat tanggal 1 mei 2011
Fiona membagikan gaji atas karyawannya. Fiona adalah seorang mandor. Setelah
semuanya usai Fiona menghubungi Dicky dan Fiona separuh perjalanan menuju
tempat Dicky, Tiba-tiba Dicky SMS minta dibelikan pulsa, setelah diberi pulsa
ia menelfon Fiona.
"Kau
tak usah kesini Fiona, Ayah Ibuku akan datang menjengukku" katanya dari
jauh,
"Tapi
Ji? Aku sudah hampir sampai" kata Fiona dengan berat hati namun Fiona
mendengar ocehan Dicky, Fiona berbalik menuju pemberhentian selanjutnya.
Kampus yah
Kampus Fiona tempat Fiona menuntut ilmu. baru saja Fiona sampai di gerbang
kampus, Lagi-lagi handphone Fiona berdering "Sayang, Ayah dan Ibu batal
datang... kau boleh kesini kalau kau mau" ujar Adi. lagi-lagi Fiona gadis
tolol itu menyanggupi permintaan kekasihnya yang aneh.
Fiona menemuinya
di kontrakan rumah susun tempat Dicky tinggal bersama anak didiknya (mahasiswanya,
blue) Fiona sampai disana dan melihat Dicky tergelatak lemah dengan pembalut
tebal di jompol kirinya. Fiona terbelalak dan hampir menangis.
Lafadz Allah menggema diantara gedung gedung tinggi kota Surabaya. Waktunya
Sholat Fiona menanti Dicky untuk sholat, setelah maghrib berlalu Dicky meminta Fiona
untuk mengantarkan dirinya menuju kampus tempat ia mengajar, disana di teras
kampus Fiona duduk di lantai bersama Dicky. Fiona sakit Fiona belum makan
seharian, demi Dicky jangankan lapar hujan deras bercampur halilintar pun
diterjang Fiona demi Dicky. Perjalanan antara Sidoarjo Surabaya membuat Fiona
basah kuyup. Fiona kedinginan jemari Fiona mulai terasa membeku. Isi perut yang
kosong mulai berputar gemerincing, Fiona memuntahkan cairan kuning pahit ulah
kelenjar asam di lambungnya yang meronta dan berontak. Fiona muntah didepan Dicky.
Dicky mulai panik
Bagi Fiona,
semua rasa sakit terbayar lunas oleh senyum Dicky. Dicky adalah mentari yang
sanggup mempertahankan proses Fotosintesis diantara cabang-cabang neuron di
Otak Fiona
***
Diantara
deru panas jalanan berdebu, wajah itu kembali hadir menguak sunyi diantara
detak waktu yang semakin menggilas. mata kusam menanti janji-janji tak kunjung
berarti. gadis muda kurus tinggi melangkah cepat menuju REVO W 1422 YH. waktu
di layar HP menunjukkan pukul 14.00 BBWI “belum waktunya pulang kerja” gumamnya
dalam hati. tapi dengan secepat kilat Fiona menyambar jacket dan bergegas
menuju kampus Kekasihnya, Dicky kekasihnya bukan lagi mahasiswa namun di
seorang pengajar mahasiswa. Hampir satu bulan Dicky menghilang, pesan terakhir
dari Dicky ialah dia berjanji untuk menemui Fiona di kampus matahari terbit.
Fiona menunggu hingga larut malam namun Dicky tak datang jua, Fiona mencoba
menghubungi handphone Dicky namun hasilnya nihil. Nomor Dicky tidak aktif
Sesampainya dikampus Dicky gadis kurus Fiona bertanya pada beberapa rekan
yang ia mengenalnya, Dia adalah Yuni dan maz Sepuh, “mas, mbak aku mencari
keberadaan Dicky! Dimana Dicky?” tanyanya
“wah saya
kurang tahu mbak dari pagi kita berdua duduk disini, dan tidak melihat Dicky!”
jawab dua orang itu hampir serempak
“Dimana Dicky?” ”Dimana
Dicky?” bisik hati kecil Fiona bertanya-tanya. pagi jam 07.00 berangkat kerja
setelahnya jam 16.00 pulang. mbolos kerja demi Dicky mulai jam 14.00 Fiona
meninggalkan kantor lebih awal dari jam seharusnya. Kerja pulang cepat,
berangkat kuliah jadi telat dengan hasil nihil. Padahal dosen sudah masuk kelas
pada jam 16.00, Ah malangnya nasib Fiona.
Masihkah
tempat di hati Dicky masih sama seperti dulu saat pertama Dicky mengatakan
cinta padanya. Fiona selalu ada saat Dicky butuh, saat Dicky minta ini itu
terkadang dengan hal-hal diluar batas nalar untuk seorang gadis muda
sepertinya. tak kurang sejumlah sahabat menasehati untuk mulai melupakan
Dicky. Aline sahabat Fiona menduga bahwa Dicky adalah pria yang tidak
baik. Pernah suatu ketika Dicky menelpon dan merayu Aline, padahal Dicky telah
mengetahui Aline telah bertunangan dengan Toni. Sejak saat itu Aline tidak
mempercayai Dicky, Aline ragu mengungkapkan pada Fiona apa yang sesungguhnya
terjadi demi menjaga perasaan Fiona. Hingga suatu saat Aline menasehati Fiona
“Dicky
memang pintar dan dia adalah pria yang sesuai dengan apa yang kau harapkan dari
seorang lelaki, Namun apa artinya cinta jika kau hanya menyiksa diri
Fiona...??? Cinta itu saling mengasihi bukan memanfaatkan dan menelantarkan
orang yang mengasihi...! harusnya kau sadari itu kau cukup dewasa untuk
memikirkan hal itu. Kau selalu ada saat dia butuh tapi setelah kau butuh dia?”
Aline menasehati dengan lembut seperti biasa, Aline memang gadis cantik yang
bijaksana dan sederhana
“Cinta ini
tak sesederhana seperti yang kau lihat sobat” jawab Fiona dengan mata sayu.
“Apabila mentari terasing oleh tabir
mendung
Disanalah kau kan lihat betapa, angin dan rintik hujan menari elok bak melodi jiwa
Sesekali spektrum pelangi menyelinap diantara kabut
Warna ini...
Warna ini...
Warna yang pernah kau tunjukkan padaku kala itu
kini warna itu tak seindah seperti saat kau disini”
Disanalah kau kan lihat betapa, angin dan rintik hujan menari elok bak melodi jiwa
Sesekali spektrum pelangi menyelinap diantara kabut
Warna ini...
Warna ini...
Warna yang pernah kau tunjukkan padaku kala itu
kini warna itu tak seindah seperti saat kau disini”
Tidak lama setelah percakapan itu, hanphone Fiona berdering
ada satu pesan dari nomor tak dikenal
“Fiona, jangan
mengingatku lagi
lupakan aku
aku bukan yang terbaik
untukmu
Anggap saja aku sebagai
mimpi burukmu
yah mimpi buruk di
siang bolong
Terima kasih atas semua
yang pernah kau berikan
Dicky”
Fiona ternganga membaca pesan tersebut. Air mata
mengucur deras dari matanya. Aline kebingungan melihat Fiona yang berubah 100%.
Aline mengambil hanphone dari genggaman Fiona dan mulai membaca.
“Astaghfirullah. Mungkin Allah SWT punya rencana
yang lebih baik setelah semua ini Fiona” Aline faham dengan apa yang baru saja
terjadi pada sahabatnya. Hati Fiona remuk redam Fiona menangis dalam pelukan
Aline. Fiona masih menangis dan tak sanggup berucap, hatinya luluh lantak
menahan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
Fiona
mengambil hanphonenya dari Aline dan mengetik sms balasan untuk Dicky
“Apa
maksudmu Dicky?
Aku
mencintaimu
Aku
mencintaimu apa adanya dirimu
Apa
salahku, hingga kau ingin pergi dariku?”
Tak lama kemudian Dicky membalas
“KAU
TAK PERLU TAHU ALASANNYA
Aku
hanya ingin tenang
Lupakanlah
aku
Carilah
lelaki lain karena aku tak baik untukmu”
Fiona
menanggapi sms tersebut
“Aku
mencintaimu Dicky
Katakan
apa kesalahanku, dan aku akan memperbaikinya
Bukankah
dulu kau yang pertama kali mengatakan cinta padaku”
Dicky membalas pesan tersebut
dengan kalimat ketus
“Sudahlah,
jangan panggil namaku lagi
Dan
jangan sekali-kali menghubungiku lagi
Selamat
tinggal”
Fiona mencoba menelpn nomor tersebut namun sudah
tidak aktif “Aku tak kuat menahan semua ini Aline” ucap Fiona dengan air mata
yang tak henti menetes.
“Istighfar sobat, Allah tak akan memberikan cobaan
diatas batas kemampuan hambanya” Aline masih memeluk Fiona erat-erat. Fiona tak
mampu menahan gejolak di dadanya, ternyata seseorang yang selama ia kagumi
meninggalkannya begitu saja tanpa satu alasan yang jelas. Firasat Aline
terbukti bahwa sahabatnya Fiona hanya dipermainkan oleh Dicky, Fiona hanya
dimanfaatkan. Dan dibuang begitu saja saat tak lagi dibutuhkan.
“boleh aku pinjam laptop milikmu Aline?Aku ingin
menuliskan sesuatu” Tanya Fiona sambil mengusap air matanya yang tak henti
menetes. Aline segera memberikan laptopnya pada Fiona.
Fiona mengetik kata demi kata dengan air mata yang
terus mengucur. Aline membiarkan Fiona menumpahkan perasaannya kepada papan
barisan alfabeth dan numeric di laptopnya. Tak terasa suara adzan berkumandang
membuat Fiona beringsut dari tempat duduknya.
“Aline, boleh aku minta tolong untuk Upload tulisanku dalam blog” Dengan mata
yang masih sembab,
“Segeralah sholat agar reda kecamuk di dadamu sobat,
Aku tunggu disini aku sedang datang bulan” ucap Aline kemudian Fiona menulis
alamat email beserta password diatas kertas kecil dan memberikannya pada Aline.
“Aku akan cari masjid di sekitar sini” sahut Fiona
sambil menuju motor yang terparkir di depannya.
Sepanjang perjalanan menuju masjid Fiona melamun,
bayangan Dicky menari-nari dalam otaknya. Bagi Fiona Dicky seperti udara yang
selalu dicari untuk tetap bernafas dan bertahan hidup. Dicky adalah
segala-galanya, tanpa Dicky angin berhenti berhembus dan bunga-bunga enggan
mekar. Mungkin Dicky berfikir bahwa Fiona adalah gadis kecil yang tolol. Fiona
hanya akan penting jika Dicky membutuhkan, tanpa sesuatu yang penting dan
mendesak Fiona bagai hanay gombal di pojok sarung kumal. Wajah Dicky melintas
begitu saja di mata Fiona. Tanpa disadari motor yang dikendarainya diserempet
oleh angkot ugal-ugalan yang ngebut nyari setoran. Motor yang dikendarai Fiona
oleng dan jatuh ke kanan, tubuh Fiona terpelanting sejauh hampir satu meter.
Helm Fiona pecah, darah segar mengalir di pelipis kirinya.
Di lain tempat, Aline mulai gelisah karena Fiona tak
kunjung kembali. Aline memencet tombol untuk menelpon Fiona. Bukan Fiona yang
mengangkat telepon tapi suara lelaki yang besar dan berat. Pria itu adalah
polisi yang menjelaskan bahwa Fiona menjadi korban tabrak lari dan saat ini
Fiona berada di UGD. Aline tersentak dan segera meluncur ke rumah sakit tempat
Fiona dirawat.
Ruang Teratai blok J nomor 2, tempat Fiona dirawat.
Aline memanggil nama Fiona namun Fiona hanya bergumam Aline tidak bias
mendengar dengan jelas lantas Aline mendekatkan telinganya kea rah Fiona
“Dicky… Dicky” suara Fiona terdengar amat pelan
“Fiona, katakan Subhanallah… Subhanallah” Aline
berbisik ke telinga Fiona dan berharap Fiona mengikuti ucapannya disertai tetes
air mata Aline yang mulai meleleh.
“Sub… ha…na…llah” ucap Fiona lirih kemudian suara
mesin pendeteksi detak jantung yang berada di samping Fiona perlahan terputus.
Aline panic segera memanggil dokter jaga. Kemudian secepat kilat sang dokter
mendatangi tubuh Fiona dan menempelkan alat seperti setrika ke dada Fiona
hingga membuat Tubuh Fiona tersentak-sentak. Tangis Aline tumpah melihat
keadaan sahabatnya.
Beberapa menit berlalu sang Dokter menghampiri Aline
dan berkata “Kami telah mencurahkan segala kemampuan kami, namun tuhan
berkehendak lain” Badai petir menyambar ubun-ubun Aline mengetahui sahabatnya
telah pergi.
***
Sepinya hari tanpa kehadiran Fiona, masih terasa
hangat dalam otak Aline bagaimana detik-detik terakhir yang dilaluinya bersama
Fiona. Aline menangis terisak di hadapan Toni kekasihnya. Dengan penuh kasih
sayang Toni menghibur Aline
“Jangan menangis sayang, Fiona sudah tenang di sana.
Fiona juga akan sedih jika sahabatnya menangis” Ucap Toni lirih sembari
mengusap tangan Aline. Aline juga bercerita pada Toni tentang kejadian yang
menimpa Fiona sesaat sebelum kematiannya. Aline menggenggam kertas tulisan
terakhir Fiona yang berisi Email beserta Password. Lalu tentang sahabatnya itu
memanggil nama Dicky dua kali sebelum menghembuskan nafas terakhir. Kemudian
Toni dan Aline saling berpandangan dan memahami perasaan masing-masing, Inilah
wasiat Fiona. Tanpa pikir panjang Aline meraih kunci motor kemudian melesat
bersama Toni menuju kampus tempat Dicky mengajar.
Dicky tidak ada dikampus namun Aline mendapat
informasi alamat kontrakan Dicky. Aline meluncur ke kontrakan Dicky yang tak
jauh dari kampus. Sesampainya dikontrakan Aline melihat Dicky yang asyik
bercengkrama dengan kawannya
“Assalamualaikum, Aku ada penting denganmu!” kata
Aline dengan ketus, masih terbayang di benaknya bagaimana Pria didepannya
menghancurkan hati Fiona
“Walaikum salam, tumben datang kesini kelihatannya
buru-buru?” jawab Dicky dengan senyum mengembang namun Aline sudah tak
bersimpati padanya. Aline menggandeng lengan
Toni.
“Fiona kecelakaan” jawab Aline singkat
“Apa? Kecelakaan? Bagaimana Keadaannya? Dimana dia
sekarang?” acting Dicky bagus sekali, sok panic seolah tanpa dosa.
“Fiona ingin istirahat dengan tenang, Dia ingin kau
membuka ini” sahut Aline dengan menyodorkan kertas dengan tulisan tangan Fiona,
Dicky tidak faham dengan maksud Aline. Segera aline menyodorkan Laptop beserta
modem kepada Dicky. Dicky menyalakan laptop kemudian membuka alamat email dari
kertas tersebut.
Dari alamat email Dicky mendapat petunjuk untuk
login ke halaman Blogger pribadi milik Fiona dan menemukan beberapa puisi
disana.
Rembulan
menerawang jeruji jendela
Memandang
sayu, gadis yang hilang senyumnya
Sirna
sudah harap pada kasihnya
Meringis
gadis, di hati penuh luka
Ribuan
kelip bintang menetes di pelupuk matanya
Adakah
perih ini dia juga rasa
Rasa
ini cinta yang terindah, dan kau merusaknya yang ada hanya udara hampa
Aku
memilihmu bukan karena, apa, siapa, mengapa, atau kenapa
Aku
memilihmu seperti bayi yang dilahirkan bunda,
Dan
baru memahami saat telah dewasa
Aku
mencintaimu kering, lugas, tanpa hiasan tanpa improvisasi
Beginilah
caraku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya
Matamu
yang selalu bernyanyi di setiap benda yang kupandang
Bagai
udara dan debu-debu yang selalu bersatu
Dan
aku masih bernyanyi tentang indah jiwamu, seketika tanpa sadar kau ucap selamat
tinggal tanpa permisi, bersama segala pemberianmu kini kutangisi
Hampa
harapku disini, bersama seribu asa seketika mati
Kau
cintai aku dengan goresan dalam, sebuah belati
Hatiku
telah mati
Untuk
apa bernafas jika hidup tanpa hati
Aku
ingin mati
Aku
ingin mati
Aku
ingin mati
Adakah
kau menangis saat aku mati
Seperti
aku menangis saat kau pergi
By:
Fiona
“selamanya kau takkan pernah menemui Fiona, seperti
yang kau inginkan saat mengirim pesan padanya” ucap aline dengan mata
berkaca-kaca “Temui Fiona di Desa Sawocang RT 06 RW 02 Nomor 24, Fiona ingin
menemuimu untuk terakhir kalinya” Ucap Aline sambil berlalu
“Tunggu Aline, aku tak tahu tempat ini” kata Dicky
“Aku akan mengantarmu sekarang” Aline bergegas
menaiki motor bersama Toni dan Dicky membuntuti dari belakang. Dan sampailah
mereka bertiga pada kompleks pemakaman. Yang membuat perasaan Dicky was-was.
Aline turun dari motor dan memasuki makam tanpa kata. Dicky kebingungan dengan
sikap dua orang ini. Kemudian Aline menunjuk salah satu makam yang terlihat
baru dengan nisan yang tertulis nama Fiona. Dicky tertunduk lesu sambil
mengusap nisan Fiona
“Mungkin yang kau tahu, Fiona mati kecelakaan. Namun
yang aku tahu kau yang membunuh jiwanya” kata-kata Aline menghakimi Dicky
“Aku tak pernah membunuhnya!” kilah Dicky setengah
teriak.
“apa kau tak membaca puisinya hah? Cinta Fiona tulus
ikhlas untukmu. Fiona mempercayakan hatinya padamu. Tapi apa yang telah kau
lakukan padanya? Dasar kau pembohong, penjilat! Hingga saat inipun kau masih
berpura-pura? Pria Munafiq” Aline
meledak emosinya. Toni segera menenangkan kekasihnya.
“Sudahlah, Fiona telah pergi, percuma kau mengolok-oloknya.
Toh dia hanya binatang yang tak punya hati. Biar saja dia terbunuh dalam
penyesalan” ujar Toni seraya mengajak Aline untuk pulang.
Dicky menangis meratap menyesali perbuatannya yang
telah mempermainkan Fiona. Namun apa boleh dikata saat nasib berkata lain.
Fiona sudah tenang di alam sana, sendirian Dicky terpuruk dalam penyesalannya.
Jangan pernah ucapkan selamat
tinggal
aku kan slalu ada dihatimu, selama
masih kau luangkan tempat untuk namaku
Jangan pernah menangis saat aku
pergi. Aku hanya mulai lelah untuk bernafas
Saat pelangi jelaga menari diatas
ubun-ubun dan detak jantungku mulai terangkat naik
Aku tak pernah meninggalkanmu
Aku hanya ketempat dimana aku
berasal. Tempat tinggal yang abadi
Sehingga tak ada air mata lagi.
Sudahlah jangan menangis lagi
Air mata ini membuatku lelah untuk
tetap menangis
By: Filiya Sang Putri Alfath
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya tunggu kritik dan sarannya :D