Jumat, 24 Juni 2011

Pelangi jelaga


Terik memanggang lautan, membuahkan sepoi sejuk membuai lamunan, pantai bagaikan hamparan permadani safir berkilat-kilat disiangi mentari. Burung-burung memamerkan bulu-bulu indah diantara sayap kokoh menentang angin. Sepasang anak cucu adam bercengkrama diatas geladak balkon pantai Kenjeran. Bersenda gurau dan tertawa geli melihat debur ombak yang menarikan perahu kecil hingga manggut-manggut.
Pria jangkung bersama gadis berjilbab biru itu ialah Dicky Setya Aji dan Fiona Putri, dua insan ini adalah sahabat sejak perkenalan keduanya satu semester yang lalu. Tepat hari kedua saat Fiona menginjakkan kaki di kampus universitas matahari terbit. Dari pertemuan yang secara tidak sengaja itu lahirlah sebuah jalinan persahabatan diantara keduanya.
Diatas geladak keduanya bercengkrama, bersenda gurau, ngobrol ngalor-ngidul diselingi gelak tawa dengan sesekali menjumput bulir-bulir jeruk bali yang sengaja dibeli saat perjalanan menuju pantai.
“ah, seandainya kita berada disini malam-malam aku akan menyalakan lilin dan meletakkannya diatas mangkuk kecil, lalu menghanyutkannya bersama debur ombak ini” ucap Dicky
“lantas tidak lama kemudian, kamu ditangkap satpol PP yang sedang mengadakan operasi gepeng (gelandangan pengemis, blue) hahhahahahah….” Fiona tertawa geli, lantas Dicky menyahuti
“kenapa ditangkap? Aku kan bukan gelandandangan atau pengemis?” wajah manyun Dicky semakin menggelitik perut Fiona
“Bagaimana satpol PP tidak berfikir kamu gepeng kalo kesini malam-malam hanya untuk menghayutkan lilin? Dikira gepeng masih bagus, daripada dianggap gila?” sahut Fiona dan Dicky semakin terpojok, dan membalas olokan Fiona dengan mencubit pipi Fiona kiri dan kanan
“Ayo, rasakan ini anak nakal?” ucap Dicky sambil gemas dan kedua tangannya tak berhenti meremas pipi Fiona.
 “Ahhh… Aduh sakit tahu!” Fiona menjerit namun tak sedikitpun Dicky bergeming. Lantas Fiona mencubit pinggang Dicky, alhasil Dicky menghentikan cubitannya. Sambil mengelus pinggangnya ngilu karena cubitan Fiona. Dua insan ini masih saja tertawa terpingkal-pingkal.
Situasi hening sejenak saat dua orang ini mengusap bagian tubuh mereka yang sakit karena kehebohan yang baru saja terjadi. Dicky masih menatap Fiona yang asyik mengayunkan kaki yang terjulur diatas balkon hingga hampir menyentuh air laut.
“Fiona masih ingatkah engkau dengan puisi yang pernah kuberikan padamu sore itu?” kata Dicky mulai memecah kesunyian diantara keduanya.
“Puisi yang mana Dick?” jawab Fiona dengan sedikit bingung membuat Dicky terdiam sejenak dan mulai membaca
Kau adalah detak jantungku
Kau adalah nafasku
Salahkah aku bila ku memujamu
Walau hanya dalam mimpi saja
Hanya dalam anganku
Hanya dalam khayalku
Kau kumiliki itu cukup bagiku

Fiona sedari tadi diam mendengar puisi yang terucap di bibir Dicky mulai berkata “Iya, aku masih ingat puisi itu Dick” kata Fiona
“apa kau faham makna puisi itu Fiona?” Tanya Dicky
“Ya, tentu aku faham Dick. Tentang seseorang yang kasmaran kan? Dan secara tidak langsung dalam puisi tersebut adalah makna yang tersirat bahwa menyatakan cinta itu bukanlah suatu hal yang mudah” celoteh Fiona.
“dan seperti itulah perasaanku padamu Fiona” kalimat itu muncul seketika itu pula bibir Dicky bergetar.
“Ap… Ap… pa… Apa maksudmu Dick? Aku tidak faham dengan apa yang barusan kau katakan” Fiona kaget dan terbata-bata dia melanjutkan pembicaraan “Bukankah aku pernah mendengar ucapanmu bahwa kau telah tunangan dengan gadis pesantren pilihan Ayahmu?”
“sudah lama aku tidak lagi bersamanya Fiona, kita berdua dijodohkan antara Ayahnya dan Ayahku. Yang jatuh hati padanya adalah Ayahku bukan diriku, demikian pula yang terjadi dengan orang tuanya” ucap Dicky sambil menunduk lesu
“ehm..mm… lalu apa yang terjadi pada gadismu? Apakah hatinya berat terhadap kepergianmu” Tanya Fiona dengan hati-hati. Dicky masih menunduk lesu
“tak pernah ada rasa di hati kita berdua. Dan dia tidak merasa menyesal dengan keputusan itu” jawab Dicky
“Adakah aku menjadi biang keladi diantara kalian berdua? Aku takut, akhir-akhir ini aku terlalu dekat denganmu. Jika salah satu penyebab perselisihan kalian adalah kehadiranku, maka dosalah diriku” Fiona merasa sangat bersalah
“Tidak Fiona, kau bukan penyebab kejadian ini. Aku memilihmu karena dia tak bisa mengerti diriku sepertimu” mata Dicky berkilat-kilat memandang Fiona
Detik berjalan maju, Fiona masih membisu tidak ada kata Ya atau Tidak. Fiona masih diam. Selama ini Fiona menganggap Dicky adalah seorang sahabat atau seperti seorang saudara bahkan mungkin seorang kakak. Nun jauh di hati kecil seorang Fiona Dicky adalah sosok yang sangat dikagumi tentang Agamanya, prinsipnya, kecerdasannya dan keikhlasannya menjalani kehidupan. Dicky adalah seorang sahabat yang baik, dan Fiona tak ingin mengotori persahabatan itu dengan cinta. Sejauh ini Fiona menyayangi Dicky dan mengungkung perasaannya agar tidak berubah menjadi cinta.
“ya sudahlah, tidak masalah bagiku kau menerima atau tidak” kalimat Dicky tercekat “aku akan pergi berangkat ke Makassar menemui saudaraku, dan mungkin… mungkin takkan pernah kembali” Dicky berkata sambil melemparkan pandang ke lautan lepas, seolah tak ingin lagi melihat Fiona
“Dicky!” kata Fiona gugup, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya sejenak ia memejamkan mata dan mulai berkata “saat kau bercerita tentang cintamu padaku tidakkah kau tahu bagaimana caraku mencintaimu?” Fiona berbicara tanpa memandang Dicky sedikitpun
Secercah sinar memancar dari mata Dicky yang berbinar-binar. Dicky faham akan kalimat yang baru saja diucapkan Fiona
***
Dengan kekuatan cinta detik seolah berjalan lebih cepat dari biasanya, semua kata hanya menjadi sampah yang tak pernah tuntas mengartikan kedalaman rasa.
Fiona menyayangi Dicky lebih dari apapun, pernah suatu ketika Dicky kecelakaan yang mengakibatkan jempol kanannya robek dan dijahit beberapa senti. Dicky menangis menjerit, bahkan ia sempat mengirim beberapa SMS kepada Fiona dengan nada yang amat konyol.
"Fiona aku kecelakaan, aku nangis, aku tak kuat Fiona....! Fiona kapan kau kemari...???" saat itu Fiona sedang bekerja dan banyak kerjaan yang tak bisa ditinggal seperti biasa ia mbolos kerja, Hari itu tepat tanggal 1 mei 2011 Fiona membagikan gaji atas karyawannya. Fiona adalah seorang mandor. Setelah semuanya usai Fiona menghubungi Dicky dan Fiona separuh perjalanan menuju tempat Dicky, Tiba-tiba Dicky SMS minta dibelikan pulsa, setelah diberi pulsa ia menelfon Fiona.
"Kau tak usah kesini Fiona, Ayah Ibuku akan datang menjengukku" katanya dari jauh,
"Tapi Ji? Aku sudah hampir sampai" kata Fiona dengan berat hati namun Fiona mendengar ocehan Dicky, Fiona berbalik menuju pemberhentian selanjutnya.
Kampus yah Kampus Fiona tempat Fiona menuntut ilmu. baru saja Fiona sampai di gerbang kampus, Lagi-lagi handphone Fiona berdering "Sayang, Ayah dan Ibu batal datang... kau boleh kesini kalau kau mau" ujar Adi. lagi-lagi Fiona gadis tolol itu menyanggupi permintaan kekasihnya yang aneh.
     Fiona menemuinya di kontrakan rumah susun tempat Dicky tinggal bersama anak didiknya (mahasiswanya, blue) Fiona sampai disana dan melihat Dicky tergelatak lemah dengan pembalut tebal di jompol kirinya. Fiona terbelalak dan hampir menangis. 
       Lafadz Allah menggema diantara gedung gedung tinggi kota Surabaya. Waktunya Sholat Fiona menanti Dicky untuk sholat, setelah maghrib berlalu Dicky meminta Fiona untuk mengantarkan dirinya menuju kampus tempat ia mengajar, disana di teras kampus Fiona duduk di lantai bersama Dicky. Fiona sakit Fiona belum makan seharian, demi Dicky jangankan lapar hujan deras bercampur halilintar pun diterjang Fiona demi Dicky. Perjalanan antara Sidoarjo Surabaya membuat Fiona basah kuyup. Fiona kedinginan jemari Fiona mulai terasa membeku. Isi perut yang kosong mulai berputar gemerincing, Fiona memuntahkan cairan kuning pahit ulah kelenjar asam di lambungnya yang meronta dan berontak. Fiona muntah didepan Dicky. Dicky mulai panik
Bagi Fiona, semua rasa sakit terbayar lunas oleh senyum Dicky. Dicky adalah mentari yang sanggup mempertahankan proses Fotosintesis diantara cabang-cabang neuron di Otak Fiona
***
Diantara deru panas jalanan berdebu, wajah itu kembali hadir menguak sunyi diantara detak waktu yang semakin menggilas. mata kusam menanti janji-janji tak kunjung berarti. gadis muda kurus tinggi melangkah cepat menuju REVO W 1422 YH. waktu di layar HP menunjukkan pukul 14.00 BBWI “belum waktunya pulang kerja” gumamnya dalam hati. tapi dengan secepat kilat Fiona menyambar jacket dan bergegas menuju kampus Kekasihnya, Dicky kekasihnya bukan lagi mahasiswa namun di seorang pengajar mahasiswa. Hampir satu bulan Dicky menghilang, pesan terakhir dari Dicky ialah dia berjanji untuk menemui Fiona di kampus matahari terbit. Fiona menunggu hingga larut malam namun Dicky tak datang jua, Fiona mencoba menghubungi handphone Dicky namun hasilnya nihil. Nomor Dicky tidak aktif
       Sesampainya dikampus Dicky gadis kurus Fiona bertanya pada beberapa rekan yang ia mengenalnya, Dia adalah Yuni dan maz Sepuh, “mas, mbak aku mencari keberadaan Dicky! Dimana Dicky?” tanyanya
“wah saya kurang tahu mbak dari pagi kita berdua duduk disini, dan tidak melihat Dicky!” jawab dua orang itu hampir serempak
      “Dimana Dicky?” ”Dimana Dicky?” bisik hati kecil Fiona bertanya-tanya. pagi jam 07.00 berangkat kerja setelahnya jam 16.00 pulang. mbolos kerja demi Dicky mulai jam 14.00 Fiona meninggalkan kantor lebih awal dari jam seharusnya. Kerja pulang cepat, berangkat kuliah jadi telat dengan hasil nihil. Padahal dosen sudah masuk kelas pada jam 16.00, Ah malangnya nasib Fiona. 
       Masihkah tempat di hati Dicky masih sama seperti dulu saat pertama Dicky mengatakan cinta padanya. Fiona selalu ada saat Dicky butuh, saat Dicky minta ini itu terkadang dengan hal-hal diluar batas nalar untuk seorang gadis muda sepertinya. tak kurang sejumlah sahabat menasehati untuk mulai melupakan Dicky. Aline sahabat Fiona menduga bahwa Dicky adalah pria yang tidak baik. Pernah suatu ketika Dicky menelpon dan merayu Aline, padahal Dicky telah mengetahui Aline telah bertunangan dengan Toni. Sejak saat itu Aline tidak mempercayai Dicky, Aline ragu mengungkapkan pada Fiona apa yang sesungguhnya terjadi demi menjaga perasaan Fiona. Hingga suatu saat Aline menasehati Fiona
“Dicky memang pintar dan dia adalah pria yang sesuai dengan apa yang kau harapkan dari seorang lelaki, Namun apa artinya cinta jika kau hanya menyiksa diri Fiona...??? Cinta itu saling mengasihi bukan memanfaatkan dan menelantarkan orang yang mengasihi...! harusnya kau sadari itu kau cukup dewasa untuk memikirkan hal itu. Kau selalu ada saat dia butuh tapi setelah kau butuh dia?” Aline menasehati dengan lembut seperti biasa, Aline memang gadis cantik yang bijaksana dan sederhana  
“Cinta ini tak sesederhana seperti yang kau lihat sobat” jawab Fiona dengan mata sayu.

“Apabila mentari terasing oleh tabir mendung
Disanalah kau kan lihat betapa, angin dan rintik hujan menari elok bak melodi jiwa
Sesekali spektrum pelangi menyelinap diantara kabut
Warna ini...
Warna ini...
Warna yang pernah kau tunjukkan padaku kala itu
kini warna itu tak seindah seperti saat kau disini”
           
Tidak lama setelah percakapan itu, hanphone Fiona berdering ada satu pesan dari nomor tak dikenal
“Fiona, jangan mengingatku lagi
lupakan aku
aku bukan yang terbaik untukmu
Anggap saja aku sebagai mimpi burukmu
yah mimpi buruk di siang bolong
Terima kasih atas semua yang pernah kau berikan
Dicky”
Fiona ternganga membaca pesan tersebut. Air mata mengucur deras dari matanya. Aline kebingungan melihat Fiona yang berubah 100%. Aline mengambil hanphone dari genggaman Fiona dan mulai membaca.
“Astaghfirullah. Mungkin Allah SWT punya rencana yang lebih baik setelah semua ini Fiona” Aline faham dengan apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya. Hati Fiona remuk redam Fiona menangis dalam pelukan Aline. Fiona masih menangis dan tak sanggup berucap, hatinya luluh lantak menahan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
Fiona mengambil hanphonenya dari Aline dan mengetik sms balasan untuk Dicky
“Apa maksudmu Dicky?
Aku mencintaimu
Aku mencintaimu apa adanya dirimu
Apa salahku, hingga kau ingin pergi dariku?”

Tak lama kemudian Dicky membalas

“KAU TAK PERLU TAHU ALASANNYA
Aku hanya ingin tenang
Lupakanlah aku
Carilah lelaki lain karena aku tak baik untukmu”

Fiona menanggapi sms tersebut
“Aku mencintaimu Dicky
Katakan apa kesalahanku, dan aku akan memperbaikinya
Bukankah dulu kau yang pertama kali mengatakan cinta padaku”

Dicky membalas pesan tersebut dengan kalimat ketus

“Sudahlah, jangan panggil namaku lagi
Dan jangan sekali-kali menghubungiku lagi
Selamat tinggal”

Fiona mencoba menelpn nomor tersebut namun sudah tidak aktif “Aku tak kuat menahan semua ini Aline” ucap Fiona dengan air mata yang tak henti menetes.
“Istighfar sobat, Allah tak akan memberikan cobaan diatas batas kemampuan hambanya” Aline masih memeluk Fiona erat-erat. Fiona tak mampu menahan gejolak di dadanya, ternyata seseorang yang selama ia kagumi meninggalkannya begitu saja tanpa satu alasan yang jelas. Firasat Aline terbukti bahwa sahabatnya Fiona hanya dipermainkan oleh Dicky, Fiona hanya dimanfaatkan. Dan dibuang begitu saja saat tak lagi dibutuhkan.
“boleh aku pinjam laptop milikmu Aline?Aku ingin menuliskan sesuatu” Tanya Fiona sambil mengusap air matanya yang tak henti menetes. Aline segera memberikan laptopnya pada Fiona.
Fiona mengetik kata demi kata dengan air mata yang terus mengucur. Aline membiarkan Fiona menumpahkan perasaannya kepada papan barisan alfabeth dan numeric di laptopnya. Tak terasa suara adzan berkumandang membuat Fiona beringsut dari tempat duduknya.
“Aline, boleh aku minta tolong untuk Upload tulisanku dalam blog” Dengan mata yang masih sembab,
“Segeralah sholat agar reda kecamuk di dadamu sobat, Aku tunggu disini aku sedang datang bulan” ucap Aline kemudian Fiona menulis alamat email beserta password diatas kertas kecil dan memberikannya pada Aline.
“Aku akan cari masjid di sekitar sini” sahut Fiona sambil menuju motor yang terparkir di depannya.
Sepanjang perjalanan menuju masjid Fiona melamun, bayangan Dicky menari-nari dalam otaknya. Bagi Fiona Dicky seperti udara yang selalu dicari untuk tetap bernafas dan bertahan hidup. Dicky adalah segala-galanya, tanpa Dicky angin berhenti berhembus dan bunga-bunga enggan mekar. Mungkin Dicky berfikir bahwa Fiona adalah gadis kecil yang tolol. Fiona hanya akan penting jika Dicky membutuhkan, tanpa sesuatu yang penting dan mendesak Fiona bagai hanay gombal di pojok sarung kumal. Wajah Dicky melintas begitu saja di mata Fiona. Tanpa disadari motor yang dikendarainya diserempet oleh angkot ugal-ugalan yang ngebut nyari setoran. Motor yang dikendarai Fiona oleng dan jatuh ke kanan, tubuh Fiona terpelanting sejauh hampir satu meter. Helm Fiona pecah, darah segar mengalir di pelipis kirinya.
Di lain tempat, Aline mulai gelisah karena Fiona tak kunjung kembali. Aline memencet tombol untuk menelpon Fiona. Bukan Fiona yang mengangkat telepon tapi suara lelaki yang besar dan berat. Pria itu adalah polisi yang menjelaskan bahwa Fiona menjadi korban tabrak lari dan saat ini Fiona berada di UGD. Aline tersentak dan segera meluncur ke rumah sakit tempat Fiona dirawat.
Ruang Teratai blok J nomor 2, tempat Fiona dirawat. Aline memanggil nama Fiona namun Fiona hanya bergumam Aline tidak bias mendengar dengan jelas lantas Aline mendekatkan telinganya kea rah Fiona
“Dicky… Dicky” suara Fiona terdengar amat pelan
“Fiona, katakan Subhanallah… Subhanallah” Aline berbisik ke telinga Fiona dan berharap Fiona mengikuti ucapannya disertai tetes air mata Aline yang mulai meleleh.
“Sub… ha…na…llah” ucap Fiona lirih kemudian suara mesin pendeteksi detak jantung yang berada di samping Fiona perlahan terputus. Aline panic segera memanggil dokter jaga. Kemudian secepat kilat sang dokter mendatangi tubuh Fiona dan menempelkan alat seperti setrika ke dada Fiona hingga membuat Tubuh Fiona tersentak-sentak. Tangis Aline tumpah melihat keadaan sahabatnya.
Beberapa menit berlalu sang Dokter menghampiri Aline dan berkata “Kami telah mencurahkan segala kemampuan kami, namun tuhan berkehendak lain” Badai petir menyambar ubun-ubun Aline mengetahui sahabatnya telah pergi.
***
Sepinya hari tanpa kehadiran Fiona, masih terasa hangat dalam otak Aline bagaimana detik-detik terakhir yang dilaluinya bersama Fiona. Aline menangis terisak di hadapan Toni kekasihnya. Dengan penuh kasih sayang Toni menghibur Aline
“Jangan menangis sayang, Fiona sudah tenang di sana. Fiona juga akan sedih jika sahabatnya menangis” Ucap Toni lirih sembari mengusap tangan Aline. Aline juga bercerita pada Toni tentang kejadian yang menimpa Fiona sesaat sebelum kematiannya. Aline menggenggam kertas tulisan terakhir Fiona yang berisi Email beserta Password. Lalu tentang sahabatnya itu memanggil nama Dicky dua kali sebelum menghembuskan nafas terakhir. Kemudian Toni dan Aline saling berpandangan dan memahami perasaan masing-masing, Inilah wasiat Fiona. Tanpa pikir panjang Aline meraih kunci motor kemudian melesat bersama Toni menuju kampus tempat Dicky mengajar.
Dicky tidak ada dikampus namun Aline mendapat informasi alamat kontrakan Dicky. Aline meluncur ke kontrakan Dicky yang tak jauh dari kampus. Sesampainya dikontrakan Aline melihat Dicky yang asyik bercengkrama dengan kawannya
“Assalamualaikum, Aku ada penting denganmu!” kata Aline dengan ketus, masih terbayang di benaknya bagaimana Pria didepannya menghancurkan hati Fiona
“Walaikum salam, tumben datang kesini kelihatannya buru-buru?” jawab Dicky dengan senyum mengembang namun Aline sudah tak bersimpati padanya. Aline menggandeng lengan  Toni.
“Fiona kecelakaan” jawab Aline singkat
“Apa? Kecelakaan? Bagaimana Keadaannya? Dimana dia sekarang?” acting Dicky bagus sekali, sok panic seolah tanpa dosa.
“Fiona ingin istirahat dengan tenang, Dia ingin kau membuka ini” sahut Aline dengan menyodorkan kertas dengan tulisan tangan Fiona, Dicky tidak faham dengan maksud Aline. Segera aline menyodorkan Laptop beserta modem kepada Dicky. Dicky menyalakan laptop kemudian membuka alamat email dari kertas tersebut.
Dari alamat email Dicky mendapat petunjuk untuk login ke halaman Blogger pribadi milik Fiona dan menemukan beberapa puisi disana.
Rembulan menerawang jeruji jendela
Memandang sayu, gadis yang hilang senyumnya
Sirna sudah harap pada kasihnya
Meringis gadis, di hati penuh luka

Ribuan kelip bintang menetes di pelupuk matanya
Adakah perih ini dia juga rasa
Rasa ini cinta yang terindah, dan kau merusaknya yang ada hanya udara hampa
Aku memilihmu bukan karena, apa, siapa, mengapa, atau kenapa
Aku memilihmu seperti bayi yang dilahirkan bunda,
Dan baru memahami saat telah dewasa

Aku mencintaimu kering, lugas, tanpa hiasan tanpa improvisasi
Beginilah caraku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

Matamu yang selalu bernyanyi di setiap benda yang kupandang
Bagai udara dan debu-debu yang selalu bersatu
Dan aku masih bernyanyi tentang indah jiwamu, seketika tanpa sadar kau ucap selamat tinggal tanpa permisi, bersama segala pemberianmu kini kutangisi
Hampa harapku disini, bersama seribu asa seketika mati
Kau cintai aku dengan goresan dalam, sebuah belati
Hatiku telah mati
Untuk apa bernafas jika hidup tanpa hati
Aku ingin mati
Aku ingin mati
Aku ingin mati

Adakah kau menangis saat aku mati
Seperti aku menangis saat kau pergi

By: Fiona

“selamanya kau takkan pernah menemui Fiona, seperti yang kau inginkan saat mengirim pesan padanya” ucap aline dengan mata berkaca-kaca “Temui Fiona di Desa Sawocang RT 06 RW 02 Nomor 24, Fiona ingin menemuimu untuk terakhir kalinya” Ucap Aline sambil berlalu
“Tunggu Aline, aku tak tahu tempat ini” kata Dicky
“Aku akan mengantarmu sekarang” Aline bergegas menaiki motor bersama Toni dan Dicky membuntuti dari belakang. Dan sampailah mereka bertiga pada kompleks pemakaman. Yang membuat perasaan Dicky was-was. Aline turun dari motor dan memasuki makam tanpa kata. Dicky kebingungan dengan sikap dua orang ini. Kemudian Aline menunjuk salah satu makam yang terlihat baru dengan nisan yang tertulis nama Fiona. Dicky tertunduk lesu sambil mengusap nisan Fiona
“Mungkin yang kau tahu, Fiona mati kecelakaan. Namun yang aku tahu kau yang membunuh jiwanya” kata-kata Aline menghakimi Dicky
“Aku tak pernah membunuhnya!” kilah Dicky setengah teriak.
“apa kau tak membaca puisinya hah? Cinta Fiona tulus ikhlas untukmu. Fiona mempercayakan hatinya padamu. Tapi apa yang telah kau lakukan padanya? Dasar kau pembohong, penjilat! Hingga saat inipun kau masih berpura-pura? Pria Munafiq”  Aline meledak emosinya. Toni segera menenangkan kekasihnya.
“Sudahlah, Fiona telah pergi, percuma kau mengolok-oloknya. Toh dia hanya binatang yang tak punya hati. Biar saja dia terbunuh dalam penyesalan” ujar Toni seraya mengajak Aline untuk pulang.
Dicky menangis meratap menyesali perbuatannya yang telah mempermainkan Fiona. Namun apa boleh dikata saat nasib berkata lain. Fiona sudah tenang di alam sana, sendirian Dicky terpuruk dalam penyesalannya.

 
Jangan pernah ucapkan selamat tinggal
aku kan slalu ada dihatimu, selama masih kau luangkan tempat untuk namaku
Jangan pernah menangis saat aku pergi. Aku hanya mulai lelah untuk bernafas
Saat pelangi jelaga menari diatas ubun-ubun dan detak jantungku mulai terangkat naik
Aku tak pernah meninggalkanmu
Aku hanya ketempat dimana aku berasal. Tempat tinggal yang abadi
Sehingga tak ada air mata lagi.

Sudahlah jangan menangis lagi
Air mata ini membuatku lelah untuk tetap menangis

By: Filiya Sang Putri Alfath

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya tunggu kritik dan sarannya :D