Minggu, 31 Juli 2011

JANJI


            Dengan selembar kertas dan bolpoint seorang gadis termangu di sebuah Jembatan Tua, sesekali air mata mengalir membasahi kertas di pangkuannya. Disini, dijembatan tua ini, segala kenangan terlukis begitu nyata. Rani masih saja mengenang kekasih yang pernah menggandeng tangannya di jembatan ini.
“Rani, apa kau tahu bahwa diriku adalah lelaki buaya” Tanya Jo padanya
“hah? Seumur hidupku, baru kali ini ada lelaki buaya mengakui dirinya buaya” sahut Rani sambil melongo
Kemudian Jo mulai bercerita
“tahukah engkau mengapa orang betawi saat menikah selalu ada yang membawa roti buaya? Itu karena binatang buaya itu selalu setia pada satu pasangan seumur hidupnya”
“Oh ya? Aku tak tahu”
“Mengapa kamu selalu berkata tidak tahu untuk setiap hal yang kuungkapkan”
“aku benar-benar tidak tahu, aku tak mau sok tahu”
“cobalah menjawab dengan kalimat lain!”
“yang aku tahu hanya satu”
“apa itu?” sorot mata Jo penasaran
“Aku cinta kamu itu cukup bagiku” sahut Rani dengan memandang mata Jo lekat-lekat.
“aku berjanji akan setia padamu sayang, jika salah suatu saat nanti perpecahan terjadi diantara kita, salah satu dari kita harus mengingat janji kita hari ini”
“aku janji Jo, dan aku akan menepati janji ini” Rani dan Jo saling mengikatkan kelingking.
Keadaan berubah saat Jo menemukan kehidupan baru di sebuah perusahaan swasta dan Jo mendapat posisi yang penuh dengan peruntungan. Jo berkata bahwa dia malu memiliki kekasih seperti Rani. Dengan berat hati Rani berusaha menerima kenyataan pahit yang diberikan Jo. Rani tetap setia pada Jo meski lelaki itu mengingkari janjinya untuk hidup berdua. Rani tak mungkin mengharapkan Jo kembali kepadanya. Hanya dengan bait-bait kata Rani mengungkapkan rasa rindu pada kekasihnya.
Kali ini nasib berpihak pada Rani, seorang penerbit melirik tulisannya untuk dipublikasikan ke Media Masa. Kesediaan Rani atas publikasi melambungkan namanya di seluruh stasiun TV nasional. Kisah Rani dan Jo difilmkan oleh sutradara kondang di Ibu Kota.
Sebuah acara live menampilkan bincang-bincang seputar tulisan Rani yang booming. Presenter tampan mengajukan pertanyaan pada Rani
“jadi kisah ini merupakan kisah cinta anda 18 tahun yang lalu?”
“Iya”
“Bagaimana jika saat ini Jo melihat acara ini? Apa yang ingin anda sampaikan?”
“Jika Jo melihat saya disini, saya ingin menyampaikan kerinduan saya padanya. Hingga saat ini saya masih menantinya, saya takkan ingkar janji” jawab Rani sambil menyeka air matanya.


By: Filiya Putri Alfath (28 Juli 2011) 

Kamis, 21 Juli 2011

REALITY

read too much poetry ...
again the government, corruption, souls perish
then let alone ...???

Useless even though thousands of letters composing the word
piled between the rows of para
still remains deaf to deaf
the blind remain blind
the mice remain mice

how not?
when people banging on the gates and doors
they are just fun to play like a stack of file cards
             : 40% to 60% of my people for my pocket

halaah ...
promises promises is only a glimpse of the price mark brand labels
choose me and you're rich ...!
             : just like it sounds

Passing flash of reality
to what many critics write scathing
even if the ...
never change the situation


By: Filiya Sang Putri Alfath
Translate by: Mr. John Amstrong

Rabu, 20 Juli 2011

REALITA

terlalu banyak puisi terbaca...
lagi-lagi pemerintah, kebusukan, jiwa-jiwa binasa
lalu apalagi...???

Percuma saja meski ribuan huruf merangkai kata
tertumpuk antara barisan alinea
tetap saja yang tuli tetap tuli
yang buta tetap buta
yang tikus tetap tikus

bagaimana tidak?
saat rakyat menggedor-gedor gerbang dan pintu-pintu
mereka hanya asyik memainkan berkas bagai tumpukan kartu
              : 40 % untuk rakyatku 60% untuk kantongku

halaah...
janji janji hanya sekilas label merk tanda harga
pilih aku dan kau kaya...!
              :begitu saja kedengarannya

Sekelebat kenyataan melintas
untuk apa menuliskan bermacam kritik pedas
kalau toh...
tak pernah merubah keadaan

By: Filiya Sang Putri Alfath

Kamis, 14 Juli 2011

SUMPAH SERAPAHKU PADA CINTA


      Ternyata mencintai seseorang ga cukup dng cinta thok,ternyata kesetian itu tak perlu kalau selalu diragukan dan tak bisa dihargai.dan sekarang aku bisa bilang persetan dengan cinta,akan kubunuh semua rasa itu dan pergi berlalu dari hadapanmu,dan kepada yang bernama cinta tali ini akan menggantung dirimu,akan kupisahkan leher dan kepalamu,lalu kubuang kelembah neraka jahanam,dan atas nama cinta yang penuh tipu daya,akan kuhisap darahmu,kukeluarkan jantungmu dan matilah kau dalam sengsara,atas nama cinta akan kurobek robek hatimu,kunikmati kunyahan demi kunyahan sampai habis tak bersisa,atas nama cinta sumpah serapah ini lebih  baik daripada aku harus berduka dan menderita karena cinta,atas nama cinta,maka akan kubuat sang cinta jadi tak berharga,dendamku pada sang cinta adalah laut yang menggelora yang akan menenggelamkanmu,dalam rasa sesal teramat dalam,sampai kau tak bisa bedakan antara hidup dan mati,dan untuk kematian sang cinta,mari kita tundukkan kepala,mengenang arwahnya walaupun hanya pura pura,biar hanya kita yang tahu!!

16 january 2011
Romeo Falatehan Alpionda!