Kamis, 10 Januari 2013

Kidung Rumekso Ing Wengi



MANTRA WEDHA
( Kidung Rumeksa ing wengi )
Sunan Kalijaga
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa ing bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno
Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning Wong lemah miring
Myang pakiponing merak
Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa
Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman
Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal
.
Ngger anakku
Menowo kowe wis mangerteni
Tembangno Kidung kuwi saben wengi
Ngleremake atimu lan murakabi sak kabehing
Lampahing uripmu nang ndonya iki
Nganti tumekaning akherat
Sajadahmu tuhu ngenteni
Ngrungokake kidungmu
Gusti gumuyu
Ngayomimu




.
TERJEMAHAN BEBAS
.
ARTI DOA
( Lantunan Kidung di Malam yang syahdu )
Sunan Kalijaga
Tahukah kamu,
Ada Lantunan Kidung dimalam yang syahdu
Yang menjadikanmu selamat, sehat dan kuat
Terhindar dari segala marabahaya
Jin dan setanpun tak kuasa
Semua sihir dan teluh tak mempan
Apalagi hanya perbuatan jahat
Guna guna pun menyingkir
Panas api menjadi sedingin air
Pencuripun kan menjauh darimu
Segala macam bahaya akan sirna
Semua penyakit tak akan datang lagi
Semua hama musnah tak menjangkiti
Dengan hati penuh kasih sayang
Segala macam senjata tak mempan
Laksana kapas membentur kerasnya besi
Segala macam racun hilang  bisanya
Binatang buas menjadi jinak
Walau seseram apapun daerahnya
Walau setajam apapun sang pertapa
Walau sekejam apapun penguasa
Walau dilahan kekuasan penjahat
Walau mataair dan lautan kering
Pada akhirnya
Kamu akan selamat
Karena dirimu
Di kelilingi bidadari
Dan di jaga malaekat malaekat
Semua Rosul turun dari haribaan Tuhan
Hatimu Adam, Otakmu Nabi Sis,
Ucapanmu adalah Nabi Musa
Nafasmu Nabi Isa yang mulia
Pendengaranmu Nabi Yakub,
Suaramu Nabi Daud,
Nyawamu Nabi Ibrahim,
Kesaktianmu Nabi Sulaiman,
Wajahmu Nabi Yusuf
Nabi Idris rambutmu
Ali sebagai kulitmu
Abubakar darahmu, Umar dagingmu
dan Usman sebagai tulangmu
Sumsummu adalah Fatimah yang amat mulia.
Siti Aminah sebagai kekuatan badanmu.
Nabi Ayub ada didalam ususmu.
Nabi Nuh didalam jantungmu.
Nabi Yunus didalam ototmu.
Pandangmu ialah Nabi Muhamad.
Air mukamu Rosul
Di Naungan Adam dan Hawa.
Lengkaplah semua Rosul
Menyatu dalam tubuhmu
.
Ngger anakku
Kalau dirimu sudah mengerti
Lantunkanlah Kidung itu tiap malam
Menenteramkan hatimu dan menyelesaikan
Semua permasalahanmu didunia fana ini
Maupun di akherat nanti
Sajadahmu menunggumu
Mendengar kidungmu
Alloh tersenyum
Menaungimu

.
.
JAKARTA , 18 MARET  2012
.
..
.
ZEN MUTTAQIN

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2012/03/19/kidung-rumekso-ing-wengi/

Sabtu, 05 Januari 2013

Inovasi Pendidikan

Secara etimologi inovasi berasal dari Kata Latin innovation yang berarti pembaharuan atau perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbaharui dan mengubah inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju kearah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan).
Istilah perubahan dan pembaharuan ada pebedaan dan persamaanya. Perbedaannya , kalau pada pembaharuan ada unsur kesengajaan. Persamaannya. Yakni sama sama memilki unsur yang baru atau lain dari yang sebelumnya. Kata “Baru” dapat juga diartikan apa saja yang baru dipahami, diterima, atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain. Nemun, setiap yang baru itu belum tentu baik setiap situasi, kondisi dan tempat.

Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil intervensi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan nasional.

Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu diperlukan suatau pendekatan belajar yang memberdayakan siswa.
Berikut ini adalah model inovasi pendidikan yang ada di Indonesia
  1. Top Down Inovation
  2. Bottom up Inovation
  3. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan
  4. KTSP
  5. Quantum learning
  6. Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) 

1.      Top Down Inovation

Inovasi model Top Down ini sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah) sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.



Ruang lingkupnya adalah di antara guru kelas dan kebijakan pemerintah yang harus sesuai dengan kondisi yang ada.
Contoh adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Seperti penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidikan dan lain-lain.
Kelebihannya adalah pemerintah pusat lebih mudah membuat kebijakan untuk di berlakukan di seluruh elemen pendidikan di Indonesia
Kekurangannya adalah banyak kejadian di lapangan yang tidak cocok untuk diterapkan sesuai peraturan, karena di Indonesia kondisi pendidikannya berbeda-beda antara satu dengan yang lain

  1. Bottom up Inovation

Yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru.
            Ruang lingkupnya yakni antara pendidik dan system pendidikan yang ada mulai dari guru, kepsek, dan dinas terkait
Disini Bottom up inovation memiliki banyak kelebihan, diantaranya kelebihan itu yaitu guru lebih bebas dalam mengeluarkan ide-ide cemerlangnya, bahkan pembelajarannya lebih beranka ragam dan inovatif.  Misalnya dalam suatu pembelajaran guru menempelkan di papan atau ditayangkan melalui media/ power point, selain itu juga kelebihan Bottom Up Innovation yaitu tujuan yang ingikan oleh guru itu agar dapat berjalan sesuai dengan apa yang diingkan oleh guru tersebut, misalnya : guru akan melaksanakan pembelajran IPA yang bertema “ Lingkungan” dengan mengajak anak didiknya jalan-jalan disekitar lingkungan sekolah sehingga anak didik dapat langsung melihat contoh kongkritnya dari lingkungan sekitar. Kelebihan battom up yang terkhir yaitu pemerintah tidak perlu bekerja keras karena disini ada peran para guru dan juga peran masyarakat luar yang banyaak mengambil peran tersebut. Contohnya adanya pembentukkan organisasi yang dijalankan oleh wali murid (paguyuban), misalnya dalam peduli lingkunganKekurangnnya pemerintah  kerepotan memilih mana kebijakan yang sesuai karena kondisi di setiap tempat yang berbeda
Bottom –Up Innovation juga memiliki kekurangan diantaranya yaitu guru tidak mempunyai tolak ukur kedepan, contohnya guru hanya memberikan materi seperti biasanya saja tanpa ada perkembangan yang lebih baik lagi, selain itu kekurangan dari bottom up innovation yakni susahnya mencapai kesepakatan bersama karena ide yang dilontarkan berbeda-beda, misalnya saja guru ingin memberikan strategi pembelajaran dengan Kooperative script tetapi pimpinan tidak memberikan izin dengan pembelajaran tersebut, pimpinan menginginkan pembelajaran yang ada di KTSP dan sudah di tetapkan oleh pemerintah. Kekurangan bottom upinnovation yang terakhir pemerintah tidak begitu berharga kerena perannya tidak begitu besar misalnya saja pemerintah hanya berdiam diri tidak ikut serta dalam pembelajaran di sekolah-sekolah

3. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan.

Perjalanan pendidikan nasional yang panjang mencapai suatu masa yang demokratis kalau tidak dapat disebut liberal-ketika pada saat ini otonomisasi pendidikan melalui berbagai instrument kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi negeri-dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampai UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan, pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah. Dalam konteks ini pula, pendidikan berusaha dikembalikan untuk melahirkan insan-insan akademis dan intelektual yang diharapkan dapat membangun bangsa secara demokratis, bukan menghancurkan bangsa dengan budaya-budaya korupsi kolusi dan nepotisme, dimana peran pendidikan (agama, moral dan kenegaraan) yang didapat dibangku sekolah dengan tidak semestinya.
Jika kita merujuk pada undang-undang Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah maka Desentralisasi pendidikan bisa diartikan sebagai pemberian kewenangan untuk mengatur pendidikan di daerah.
Ada dua konsep desentralisasi pendidikan.
Pertama, desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan. Desentralisasi lebih kepada kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah.
Konsep pertama berkaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah sebagai bagian demokratisasi. Konsep kedua lebih fokus mengenai pemberian kewenangan yang lebih besar kepada manajemen di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

  1. KTSP

KTSP yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum yang bersifat operasional dan dilaksanakan dimasing-masing tingkat satuan pendidikan. Landasan hukum kurikulum ini yaitu Undang-undang Sikdiknas No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun oleh masing-masing sekolah dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyerahan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tiap sekolah dengan mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan bertujuan agar kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuan sekolah masing-masing.
Pedoman penilaian dan penentuan kelulusan peserta didik mengacu pada SKL yang meliputi kompetensi untuk kelompok mata pelajaran atau kompetensi untuk seluruh mata pelajaran yang dinilai berdasarkan kualifikasi kemampuan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Standar isi merupakan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

  1. Quantum learning

Quantum learning berdasarkan pada konsep “ bawalah dunia mereka kedunia kita dan antarkan dunia kita kedunia mereka.” Segala hal yang dilakukan berdasarkan pada prinsip diatas ( Deporter, Bobbi, 2000)
Ada beberapa karakteristik quantum learning yang harus dipahami, agar pembelajaran dapat berjalan dengan benar. Adapun karakteristiknya adalah sebagai berikut: pertama setiap orang adalah pendidik dan sekaligus peserta didik, sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator, contohnya guru mau menerima masukan dari muridnya dan sering saling bertukar informasi.kedua Belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan tempat duduk, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa nyaman.ketiga Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga tidak perlu merubahnya. Dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberian fasilitator.keempat Kunci menuju kesuksesan model quantum learning adalah latar belakang musik klasik atau instrumental yang telah terbukti memberikan pengaruh positif dalam proses pembelajaran. Musik klasikal dapat meningkatakan kemampuan mengingat, mengurasi sterss, meredekan ketegangan, meningkatkan energi dan memberikan daya ingat.
Jadi menurut kelompok kami quantum learning adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada pemberian sugesty dan dituntut mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan serta efektif.

Kelebihan Quantum Learning
Beberapa kelebihan quantum learning diantaranya adalah:
Pertama, Pembelajaran kuantum membiasakan siswa untuk melatih aktivitas kreatifnya sehingga siswa dapat menciptakan suatu produk kreatif yang dapat bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Contonya ketika dikelas guru terbiasa mengajari siswa untuk selalu berfikir kreatif untuk menemukan hal yang baru.
Kedua, Dalam pembelajaran kuantum, emosi sangat diperlukan untuk menciptakan motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang tinggi dapat menambah kepercayaan diri siswa, sehingga siswa tidak ragu dan malu serta mau mengembangkan potensi-potensi yang ada.
Ketiga,Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna. Jadi guru bukan hanya menjelaskan tetapi menanamkan dalam diri siswa.
Keempat,Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Contohnya penggunaan music klasik akan merangsang percepatan daya tangkap siswa sehingga mudah dalam memahami materi yang diberikan.
Kelima, Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Contohnya guru memberikan konsep-konsep dengan contoh yang nyata bukan khayalan.
Keenam, Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan ketrampilan akademis, dan ketrampilan (dalam) hidup.
Ketujuh,Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Jadi seorang guru bukan hanya menyampaikan materi tetapi juga menanamkan karakter yang harus dimiliki siswa.
Kedelapan, Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Jadi siswa diberikan kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan melakukan aktifitas yang diminatinya.

Kekurangan Quantum Learning
Pertama, Membutuhkan pengalaman yang nyata. Karena kuantum learning menuntut guru untuk kreatif dan menjadikan kegitan belajar mengajar lebih menyenangkan sehingga diperlukan pengalaman yang matang untuk dapat menciptakan situasi yang diatas.
Kedua, Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar. Karena kuantum learning menggunakan metode pemberian sugesti sehingga dibutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan karakter yang diharapkan.
Ketiga, Kesulitan mengidentifikasi ketrampilan siswa. Karena setiap siswa memiliki ketrampilan yang berbeda-beda sehingga untuk mengidentifikasi ketrampilan setiap siswa memerlukan proses yang tidak mudah yaitu dengan mengamati perilaku dan minat setiap siswa.
Keempat, Memerlukan dan menuntut keahlian dan ketrampilan guru. Karena kuantum learning menuntut guru untuk kreatif dan menjadikan kegitan belajar mengajar lebih menyenangkan sehingga diperlukan keahlian dan ketrampilan guru untuk dapat menciptakan situasi yang diatas.
Kelima, Memerlukan proses perancanaan dan persiapan pembelajaran yang cukup matang dan terencana dengan cara yang lebih baik. Karena kuantum learning harus bisa menjadikan kegiatan belajar menyenangkan sehingga persiapan yang matang akan membantu terlaksananya kegiatan pembelajaran tersebut.
Keenam, Adanya keterbatasan sumber belajar, alat belajar dan menuntut situasi dan kondisi. Karena dengan keterbatasan sarana prasarana akan menghambat terlaksananya kegiatan tersebut dan hasilnya kegiatan belajar mengajar akan berjalan kurang efektif

  1.  Kontekstual Learning (CTL)
Depdiknas (2002:5) menyatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen, yakni kontruktivisme (Constuctivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), permodelan (Modeling), Refleksi (Reflection), penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

Dengan pemahaman menyeluruh yang tertuang dalam konsep pendekatan kontekstual. Hasil belajar diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran juga berlangsung alamiah, siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangannya
Kelebihan:
1.    Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2.    Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal.
3.    Siswa akan lebih percaya diri dalam mengungkapkan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka alami dalam kehidupan nyatanya.
4.    Kegiatan pembelajaran akan lebih menyenangkan karena siswa tidak mengalami belajar diluar kelas ( indoor ) saja tetapi juga pada luar kelas ( outdoor ). Sehingga membuat siswa tidak bosan untuk menerima pelajaran yang diberikan oleh seorang guru.
5.    Dengan pembelajaran yang seperti ini akan membuat siswa akan lebih mencintai lingkungan dan menjaga kelestarian lingkungan yang ada disekitarnya dan lebih peka terhadap alam.
6.    Siswa menjadi siswa yang pemberani dan siap menghadapi masalah-masalah yang muncul di masyarakat.
7.    Memudahkan guru untuk menciptakan tema pembelajaran yang mudah dipahami oleh siswa.

Kelemahan
1. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Hal ini kurang efektif bagi siswa yang sangat aktif
2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
3. Waktu yang digunakan dalam pembelajaran ini kurang efektif. Karena harus membutuhkan waktu lama untuk mengamati sesuatu yang berhubungan dengan materi.
4. Pendekatan ini tidak bisa diterapkan secara merata pada anak SD. Hanya kelas tinggi saja yang bisa diterapkan dalam pembelajaran yang seperti ini. Jika pembelajaran ini diterapkan dalam anak SD kelas awal sulit untuk mengaturnya.
5. Banyak materi yang diajarkan tidak sesuai dengan lingkungan sekitar.

KESIMPULAN
       Inovasi pendidikan di lakukan untuk menjadikan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan membuat output pendidikan Indonesia menjadi semakin optimal. Karena pendidikan harus terus berkembang mengikuti perkembangan jaman maka dicari inovasi yang tepat sasaran untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan itu sendiri, supaya kita mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain dan hal teknologi dan inovasi.

Latihan Soal
1.      Sebutkan macam-macam model inovasi
2.      Manakah model inovasi menurutmu yang paling cocok untuk diterapkan di Indonesia?
3.      Menurutmu siapa yang paling bertanggung jawab atas inovasi pendidikan yang diterapkan di Indonesia?
4.      Sebutkan inovasi apa yang menurutmu memiliki banyak kelemahan?
5.      Menurutmu bagaimana system inovasi yang diterapkan di Indonesia saat ini?

DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi. dan M. Hernacki. 1999. Quantum Learning. Bandung: KAIFA.
De Porter, Bobbi., dkk. 2000. Quantum Teaching. Bandung: KAIFA
Sudrajat, Akhmad. 2012. Quantum Learning.  http://www.tentangpendidikan.com . diakses 30 September 2012. Pukul 19:05
Maulana, Ginanjar. 2009. Quantum Learning. http://www.percikaniman.org. diakses 30 September 2012. Pukul 19:13
Yulianto, Joko. 2010. Sejarah dan Pengertian Quantum Learning. http://www.quantumlearning.com. diakses 30 September 2012. Pukul 20.03
Utama, Fajar. 2010. Quantum Learning. http://www.quantumlearning.com. diakses 30 September 2012. Pukul 20.17
Amri, S dan Ahmadi.2010.PROSES PEMBELAJARAN Kreatif dan Inovatif dalam kelas.Jakarta: PT. Prestasi Pustakakarya.
Nurhadi dan    Agus Gerad. 2003. Pembelajaran Konstektual dan Penerapannya dalam KBK. Universitas Negeri Malang. Surabaya.
Depdiknas ( 2002 ). Pendekatan Kontekstual ( Contextual Teaching and Learning ( CTL ). Jakarta : Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah.
http://pendekatan-kontekstual.blogspot.com/2009/08/pendekatan-kontekstual.html diunduh pada tanggal 25 september 2012 jam 22.00 bbwi
http://tbp-unj.blogspot.com/2011/10/pendekatan-kontekstual.html diunduh pada tanggal 25 september 2012 jam 22.00 bbwi
Noor Mohammad, 2010. Paikem Gembrot;- cet. I, jakarta, Multi Kreasi Satu Delapan.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com./) diunduh tanggal 2 Oktober 2012
Depdiknas.2005. Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Depdiknas.
Aminuddin.1996. Isi dan Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia Pendekatan Terpadu dan Pendekatan Proses. Malang: FPBS IKIP MALANG.
www.ahmadfauzimpd.wordpress.com diunduh tanggal 2 oktober pukul 18.15 wib
http://www.tarmizi.wordpress.com/ diunduh tanggal 3 oktober pukul 16.30 wib
Pendekatan kontekstual learning http://ipotes.wordpress.com/ diunduh pada tanggal 25 september 2012 jam 22.00 bbwi
Pendekatan kontekstual http://pendekatan-kontekstual.blogspot.com diunduh pada tanggal 25 september 2012 jam 22.00 bbwi
Pendekatan kontekstual http://tbp-unj.blogspot.com/ diunduh pada tanggal 25 september 2012 jam 22.00 bbwi
Hernowo, 2010; Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual, Mizan publishing
Guru dan pendekatan kontekstual http://s1-pgsd.blogspot.com/ diunduh pada tanggal 25 september 2012 jam 22.00 bbwi





 By: Filiya Sang Putri Alfath