Sabtu, 08 Maret 2014

Bocah

Aku menyaksikan pagi saat semuanya membiru
Menggigil dicekam rindu pada air, tanah dan beberapa angin sore
Dan mencoba memutar kembali beberapa senyummu yang tercecer di sepanjang jalanku
Lalu aku berjalan menuju tempat dimana jasadmu pernah kujumpai
Disana hanya ada angin-angin
Dan aku masih saja tak berhenti menerka
Kamu dimana? disini HP-ku membeku
Tanganku lumpuh untuk memencet beberapa nomor hatimu disana
Orang bilang ini cinta, orang bilang ini gila
Aku bilang, aku hanya bocah yang mencoba mengartikan rasa


By: Filiya Sang Putri Alfath

Kamis, 06 Maret 2014

Bagaimana?

Bagaimana bisa semudah itu?
Kau tersenyum dan aku membalas
Tanganmu mengulur tanganku meraih
Tubuhku mendekat kau semakin merapat
Aih betapa mudahnya...
Aku cantik dan kau kaya
Bisa saja
Tapi bagaimana jika aku jelek dan kau melarat?
Akankah sama runtutan kejadiannya
Jika saja ada sedikit malu yang terselip disakumu
Barangkali tertinggal di tasku?
Sedetik mengenalmu
Seminggu aku bermimpi mendekapmu
Siapa yang bodoh?
Lalu dengan sumpah serapah melabrak cinta
Aku adalah langit terbuka yan kau tatap di pagi tak berawan


By: Filiya Sang Putri Alfath
Yang termangu sambil memungut senyum dari karyawan Mc Donald

Rabu, 05 Maret 2014

Sepenggal Senyuman Dari Meja Kopi

Tetaplah menjadi malam, Tetaplah menjadi malam semoga bintang mengerti, Seperti titik kecil berpijar dan semakin membesar saat aku mulai mendekat. Beberapa ingatan tentangmu masih tersamar. Aku tahu kamu tak suka berpuisi atau membaca sebuah runtutan kata yang berderet. Tapi aku masih berharap kau membacanya. 

Entahlah aku juga tak mengerti antara tersamar dan terkikis. Hanya perlu beberapa menit sampai kau datang di samping mejaku dan mulai melempar senyum. Dan aku mulai berangan, mungkin aku bisa tersenyum hari ini jika waktu itu benar-benar tak perduli. Tapi bahasamu merubah segalanya. Andai saja kau ikut pergi dengan kawananmu waktu itu. Mungkin aku takkan mengajakmu bicara.

Sebuah bar kecil dan gerimis jadi saksi. Saat kita melewatkan beberapa menit bersama saling bercerita dan tertawa. Kamu manis kecil lucu dan aku terlalu dewasa untuk mengartikan senyummu yang bahkan mustahil untuk diartikan sebagai kebenaran. Apa kau berkata dengan hatimu atau beberapa bualan terselip diatasnya? aku percaya pada senyummu. Entah semuanya benar atau tidak. Aku hanya ingin berfantasi hari ini. 

Butuh beberapa menit untuk saling menyapa dan saling melempar senyum. Dan hari ini hari kelima sejak aku bersua denganmu di meja itu. Tapi kau senyummu masih saja menari di awang-awang, seperti saat kutendang selimutku malam ini. Dan aku mulai bertanya-tanya sihir macam apa yang kau gunakan padaku?

Aku terhenyak dan terbangun menuju lemari obat lalu kuambil beberapa obat tidur. Untuk melupakan senyummu setidaknya untuk malam ini. Kemudian senyummu mengembang di butiran obat yang kugenggam. Kemudian aku menangis.

05032014

By: Filiya Sang Putri Alfath