Tetaplah menjadi malam, Tetaplah menjadi malam semoga bintang mengerti, Seperti titik kecil berpijar dan semakin membesar saat aku mulai mendekat. Beberapa ingatan tentangmu masih tersamar. Aku tahu kamu tak suka berpuisi atau membaca sebuah runtutan kata yang berderet. Tapi aku masih berharap kau membacanya.
Entahlah aku juga tak mengerti antara tersamar dan terkikis. Hanya perlu beberapa menit sampai kau datang di samping mejaku dan mulai melempar senyum. Dan aku mulai berangan, mungkin aku bisa tersenyum hari ini jika waktu itu benar-benar tak perduli. Tapi bahasamu merubah segalanya. Andai saja kau ikut pergi dengan kawananmu waktu itu. Mungkin aku takkan mengajakmu bicara.
Sebuah bar kecil dan gerimis jadi saksi. Saat kita melewatkan beberapa menit bersama saling bercerita dan tertawa. Kamu manis kecil lucu dan aku terlalu dewasa untuk mengartikan senyummu yang bahkan mustahil untuk diartikan sebagai kebenaran. Apa kau berkata dengan hatimu atau beberapa bualan terselip diatasnya? aku percaya pada senyummu. Entah semuanya benar atau tidak. Aku hanya ingin berfantasi hari ini.
Butuh beberapa menit untuk saling menyapa dan saling melempar senyum. Dan hari ini hari kelima sejak aku bersua denganmu di meja itu. Tapi kau senyummu masih saja menari di awang-awang, seperti saat kutendang selimutku malam ini. Dan aku mulai bertanya-tanya sihir macam apa yang kau gunakan padaku?
Aku terhenyak dan terbangun menuju lemari obat lalu kuambil beberapa obat tidur. Untuk melupakan senyummu setidaknya untuk malam ini. Kemudian senyummu mengembang di butiran obat yang kugenggam. Kemudian aku menangis.
05032014
By: Filiya Sang Putri Alfath
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya tunggu kritik dan sarannya :D