Selasa, 22 November 2016

Sore

Sore mengelepar di ujung beranda
Dan kain kain kumal berserak
Tak basah tak jua kering lembab bacin
Terompah kehilangan warna di ujung balai balai
Kucing malas menggeliat
Ada dedaunan meluncur terombang ambing
Lalu jatuh dalam nestapa
Pegawai pulang dengan wajah membara
Akhir tahun bakal demo lagi
Minta jatah minta upah
Pada orang orang yang konon bernama pemerintah
Buruh naik gaji
Pabrik naik ongkos produksi
Barang barang mahal makin hari
Tahun depan demo lagi
Gaji tak cukup untuk beli indomi
Bensin naik lagi
Yang turun hanya ada dalam kamar mandi
Tak apa lah
Tahun depan masih bisa demo lagi
Ternyata harga harga jadi mahal karena ulah sendiri
Dengan konyol pemerintah hendak dihakimi
Bodoh amat yang penting bisa rekreasi
Mejeng di headline koran dan berita televisi
Berteriak lantang besok demo lagi
Emak bangun pagi lupa mencuci panci
Anak pergi bawa panci buat demo katanya demi nasi

Otak

Hai ti
Te kecil dengan i mungil
Apa kebencianmu masih tetap sma ti?
Ti. Sudah berulang kali kukatakan padamu
Jangan pernah berjalan sendiri

Bukankah semua sudah kuberikan
Ya g kau kinta semua telah kulakukan
Berhentilah memintaku ti
Atau kau akan mengeras
Saat aku terlalu sering menuruti segala yang kau mau

Aku lelah terus mengalah ti
Hanya saat terjepit kau mengandalkan aku
Selebihnya kau hidup semaumu sendiri
Aku letih menasehatimu ti

Ti....! Hati...!
Bukankah sudah kubilang jangan berjalan sendiri

Friday
070616

Persetan

Saya menulis untuk menikmati waktu
Saya menulis apa saja yang ingin saya tulis
Bukan apa yang ingin anda baca
Jika anda tak suka membaca
Tontonlah tv, dengarkan radio atau apa saja
Dan apa apa saja yang tak perlu dibaca
Saya menulis untuk merasai
Saya menulis untuk memaknai
Saya menulis untuk membenci
Kemudian anda datang lalu memaki
Lalu saya tidak perduli
Dan anda terus mencaci
Lantas apa yang anda cari
Kalau anda benci anda boleh pergi
Bukan menanti saya untuk menulis lagi
Nanti lama lama anda semakin sakit hati
Dan saya masih tetap mejulis sesuka hati
Kemudian dengan anda memperingati saya agar hati hati
Bagi saya menulis itu tidak perlu hati hati
Biarkan saja semuanya mengalir seperti sungai
Kalau salah tinggal pencet panah arah ke kiri
Bukankah anda membuang waktu anda untuk menasehati?
Karena saya tidak akan beranjak apalagi berdiri
Saya pun tidak akan berhenti menggerakkan jari
Apalagi untuk sekedar mendengar anda mencaci maki
Saya bisa catatkan omelan anda yang penuh intonasi
Bisa juga ocehan itu jadi puisi
Barangkali lain waktu anda butuh orasi
Wong gendheng kok dituturi
(Orang gila kok dinasehati)

Senin, 21 November 2016

Hanya lewat

Semua salahku
Hukuman ini pantas kuterima
Setelah semua ini lalu apalagi
Aku hilang ditelan gulungan sepi Semuanya menggelayut menggerus kakiku
Telingaku yang merah membara sudah menjadi abu
Lalu bersenyawa dengan debu debu Adakah aku sebutir debu yang memburam dimatamu?
Kau tahu cinta
Saat aku menjadi debu
Aku bisa melekat bersamamu
Melebur dalam nafasmu Bersatu dengan mimpi mimpi ditelingamu
Di bajumu. Di bibirmu
Dan ah....
Jumlahku terlalu banyak untuk di diskripsikan satu persatu
Aku tak hilang
Aku berubah
Seperti superhero ala ala film Menghilang dalam sekejap
Muncul dalam sekejap
Aku menyaksikan semuanya berlalu
Satu persatu detik
Melaju sepersenti senyum diwajahmu menjadi kerutan
Aku masih ditempat yang dulu pernah kau tinggalkan
Di bangku taman
Dengan sepatu boots Sling bag dan jaket biru
Dengan marah kau katakan semuanya berakhir
Lalu aku meremuk seperti debu debu
Aku pantas mendapatkan semuanya sayang.
Ku harap kau masih punya cukup ruang Untuk debu debu