Senin, 28 Desember 2020

Kamar kosong

Aku mati dalam setiap sendi
Nyeri terlambat berbicara
Arti menari nari 
Seperti ilusi
Ada roti juga seledri
Cerita tentang hati lagi lagi jadi antipati
Butuh berapa endorpin untuk bangkit lagi?
Untuk bisa bangun dan menggila kembali
Jika mimpi tak punya arti
Apalagi soal hati
Otak kopong
Aku benci matahari
Terangnya membuatku tertunduk


Selasa, 15 Desember 2020

jangan paksa aku lagi

Malam telah larut
Tapi imanku masih bergelayut
Tanganmu kulepas dengan lembut
Izinkan aku pergi
Aku masih punya hati
Sedang engkau punya suami

Badai datang bukan untuk dihindari
Apalagi berkata padaku dengan mata jeli
Tak mudah bagiku menahan birahi
Cukup sampai disini

Jumat, 11 Desember 2020

Sayur subuh

Belum subuh
Hujan mulai turun
Menderas di langkah langkah berikutnya
Hingga basah kuyup
Kakiku terjerembab dalam lumpur
Sandalku putus
Aku berjalan kembali tanpa alas kaki
Membawa beban berat di pundak kiri
Kupikul sendiri
Semoga ada rejeki untuk hari ini
Panen sawi dan seledri
Semoga habis terjual

Rabu, 09 Desember 2020

selingkuh

Rindumu hanya tumbuh saat jenuh
Dan aku terus terbunuh
Dengan bodoh terus menunggu
Rindu hanya sekedar alasan untuk bertemu
Aku masih dengan ketololan yang sama 
Berharap kemesraan ini sungguh sungguh
Saat kepalamu bersandar di pundak
Dan tumpah ruah segala penat di dadamu
Aku 
Hanya ada aku 
Disini sendiri
Berharap segala masalah itu datang kembali dan kau akan hadir disini
Ada pundakku untuk kau tangisi
Seperti tempo hari
Aku hanya pemberhentian sementara
Pengusir penat 
Di setiap hari indahmu bersamanya

Rabu, 02 Desember 2020

Lelaki itu

Adakah yang lebih istimewa
Selain terbangun di malam hari
Dan menyebut namamu
Di setiap wirid 
Ada namamu terselip di antaranya
Adakah yang lebih istimewa
Selain rasa takut kehilangan
Atau engkau tak ditakdirkan untukku
Atau tuhan punya nama lain yang lebih baik
Atau ada seseorang lain yang menyebut namaku dalam doanya
Entah atau apa lagi
Senyum itu membuatku semakin banyak berdoa
Semoga perasaan ini bukan sekedar mengada ada
Aku hanya hamba
Yang bergantung pada tuhan agar semuanya berjalan indah
Selamat malam kesayangan
Mimpi ini nyata dalam setiap doa

Minggu, 29 November 2020

konyol

Hanya angin angin
Beruntai 
Menjalar di sekeliling tulang
Semua bertanya soal cinta
Tentangku dan kamu yang berkelamin sama
Mereka tak pernah mengerti soal cinta
Yang kuanggap seperti titah raja
Kontrol atas segalanya
Banyak orang memanggilku gila
Banyak orang memanggilku hina
Bahkan hewan pun tak bercinta dengan jenis kelamin yang sama
Tapi aku
Si bodoh
Tak paham soal itu

Rabu, 25 November 2020

kesenangan

Seperti bapak pengayuh odong odong
Ada uang anda digoyang
Membiarkan segala warna menghipdotis perlahan
Kerlap kerlip dan musik berdentum 
Semua bernyanyi mengangguk dan melompat dengan riang
Dari bocah sampai dewasa tak pernah berubah

Minggu, 22 November 2020

seperti biasa

Lenguhmu mulai lirih
Matamu terpejam
Begitu saja
Lalu hilang dan muncul kembali

Sabtu, 21 November 2020

diriku

Saya hanya ibu tua
Dengan kulit longgar
Semua tak seindah dulu
Tak semanis dulu
Aku hanya ibu tua dengan perut buncit
Bermimpi setinggi langit

Selasa, 03 November 2020

budak cinta

Kegilaan ini bermula pada sebuah siluet
Bayangan seulas senyum yang membuatku menjadi bodoh
Menjadi tak punya akal sehat

Bucin
Adalah kedunguan yang mematikan
Mengacaukan segala tananan

Minggu, 01 November 2020

tingkat tinggi

Aku pernah punya mimpi
Untuk menyentuh matahari
Sambil menari di batang hari
Sampai lupa diri

mencari

Celingak celinguk
Kesana kemari
Mencari kerja
Mencari harta
Ada banyak pekerjaan
Tidak semua mendapat upah

Rabu, 28 Oktober 2020

kesinambungan

Pejuang kecil ragu ragu merogoh saku
Pada bapak tua yang menengadah

Pagi tadi di media masa
Ramai orang orang bicara
Tentang pengemis dengan gaji fantastis

Ya Allah...
Kenapa begitu mudah setan memperdaya
Membuat sedekah hilang ikhlasnya

Jika saja mereka tahu gaji pengemis lebih bersahaja
Tapi kerja membuat kita lebih berjaya
Dengan untung tak seberapa

Pejuang kecil berkata 
Bapak masih kuat bekerja bukan?
Mari menjadi pahlawan bumi bersama kami

Saya hanya tukang rombeng
Mendaur ulang segalanya demi uang
Kata orang saya ini pejuang
Pejuang zero waste yang terbuang

Sabtu, 24 Oktober 2020

Catur

Aku menyukai bidak bidak berkepala bulat
Mungil dan terdepan
Bagaimana aku tidak jatuh cinta
Langkahnya kecil kecil
Hanya satu kotak kedepan
Melangkah atau dimakan
Seperti sebuah kehidupan

Kamis, 08 Oktober 2020

Setan aristokrat

Tumbuk kebencian itu hingga remuk
Di tumpuk tumpuk
Hingga setinggi pohon lapuk
Amarah melesak ke dalam relung dada
Menghimpit rusuk
Memompa darah meletup meledak
Hingga api api itu terbakar air mata
Seperti bensin yang sengaja diletupkan
Oleh setitik pijar 

Demokrasi hanya menjadi masa transisi
Dengar atau lari
Dengan uang semua jadi tuli

Minim interaksi, bungkam saja semua kongsi
Tanpa hati tanpa nurani
Ibu puan yang maha tinggi
Jangan bungkam suara wakil kami

Saya berteriak di jalan jalan dan tidak sendiri. 
Menanti anda dan presiden membuka mata membuka hati
Meski saya tak yakin anda masih punya nurani

Sidoarjo, 8 oktober 2020
Tolak RUU prakerja, omnibus law
Buruh dan mahasiswa turun ke jalan menggenggam nurani di tangannya

Sabtu, 26 September 2020

Cinta

Perasaan gila ini datang kembali
Semua yang tidak masuk akal terasa wajar
Perasaan ini sangat kurang ajar

Selasa, 22 September 2020

Karate

Petarung kecil mengikat sabuk
Meluruskan paha 
Menapakkan kuda kuda
Bersiap menyerang juga bertahan
Menyerang apa saja
Semua di babat habis
Juga balok balok beton
Semua habis patah
Beberapa juga remuk
Petarung kecil mengusap peluh
Lalu siap berlaga kembali

Senin, 21 September 2020

Stop jangan bicara!

Ada saat saya mulai ragu dalam berkata
Takut tiba tiba hilang
Lalu dijerat pasal pasal
Dengan berbagai cara
Saya tidak mengkritik atau propaganda
Hanya berkata kata
Menulis semua apa yang ada
Tapi banyak orang terusik adanya
Lalu berlomba menyingkirkan saya
Jangan tanya apa atau bagaimana
Sudah banyak contoh yang ada
Beberapa diantaranya sangat rapi
Tak terendus media
Bahkan yang viral juga bisa di rekayasa
Yang kuat saja dibangus
Apalagi yang lemah
Siapa yang mencari saya selain keluarga
Empati hanya sekedar ketikan jari
Beberapa jari juga mampu menggoyahkan negeri
Mudah saja menggoyahkan bangunan tanpa pondasi

paradigma

Mulai diam
Hening
Lalu lalang tetang apa yang akan dikatakan orang lain perihal diri saya
Terus saja menyembul dalam otak
Lalu hati
Celingak celinguk saat melangkah pergi
Dengan hati hati
Semoga mereka tak seburuk prasangka saya
Saya takut
Saya merasa sangat bodoh

Senin, 14 September 2020

Gunjingan

Bicara saja
Katakan saja
Jangan diam
Semua boleh berkata
Saya juga boleh mendengarkan
Atau tidak mendengarkan
Silahkan saja

Sabtu, 12 September 2020

Jubah hitam

Ternyata aku rindu suaramu yang lepas, keras, tegas tanpa mendayu dayu.
Langkahmu yang tegas dan mantap membuat nyaliku menciut
Jilbab yang lebar terburai
Jadi saksi

Hasrat


Jauh di relung hati

Menginginkan disayangi

Betapa perih saat kasih beranjak pergi

Diiringi bosan dan ego

Meninggalkan iri dan emosi

Dgn yakin aku menyadari

Aku tak selevel dengan dirinya

Aku tak sempurna seperti dirinya

Tapi salahkah jika aku memimpikan kesempurnaan

Bukankah… setiap orang memiliki keinginan

Bukankah… mimpi adalah hak setiap orang

Atau… mungkin…

Hanya orang-orang elite yg boleh memiliki harapan

Oh tuhan… dimana letak keadilan

Saat di dunia tidak ada yg gratis

Saat di dunia tidak ada yg cuma-cuma

Apakah? Sedemikian halnya dengan cinta

Aku memang bukan orang terpandang

Tapi aku tetap manusia yg punya perasaan

Yg bisa menderita saat terluka

Yg bisa merasakan sakit saat ditinggalkan

Pergilah hapus bayangmu dari dimensiku

Jgn kau pernah kau tangisi kepergianku

Karna air mata takkan pernah memanggilku untuk kembali

Perih hati tersayat menerima kekalahan

Kucoba untuk tetap berdiri menegarkan

Hati karna langkah takkan terhenti

Hingga Akhir yg akan mengakhiri





By: Filiya Putri Alfath

At :8-01-2008







MIMPI


Satu hal yg kuingin

Dalam hidup ini

Lalui hari dalam pelukan sang kekasih

Dengan senyum yg slalu menghiasi

Satukan langkah melawan waktu

Lupakan semua persoalan kelabu

Dengan cita-cita

Yang tak pernah kehilangan arah

Akan ku wujudkan semua impian

Karna masa depan

Berada di kedua tangan



At: 1 desember 2007






GOOD BYE



I close my eyes

To try forgetting you

Wuth every beautifull day

Please leave me alone

For erase your smile from my brain

Because no other

Way than to say good bye



At: 4 desember 2007









RASA YANG KUPENDAM


Sampai kapan aku harus memendam

Rasa ini

Semakin lama semakin dalam

Hingga tak sanggup menahan

Antara cinta dan logika

Aku mencintaimu tapi tak sanggup memilikimu

Andai saja suatu saat kau tau

Bahwa cinta ini milikmu



At: 27 desember 2007






Cinta Itu Buta Keadilan


Tak lagi kurasa ketenangan di jiwa

Saat arogan memilih dia

Yang kedua…

Kurasa hanya…

Aku terlalu pengecut

Untuk menemukan cinta

Andai saja cinta tak membawa luka

Rasa hati ingin memiliki

Namun akal tak sanggup berkhayal

Dia disana terlalu alite untuk dimiliki


At: 27 desember 2007


Pria muda

di pelataran tepian dermaga kini
aku terpaku seorang diri
lamunan masa lalu
kembali mengusikku
di ufuk barat mentari tenggelam sinarnya
rona kemerahan muncul kembali
Mengulang rasa yang pernah sama

Mawar Kering


Kepada sejarah yang pernah tertulis 
indah diantara pualam mega
urat nadimu lembaran lotus
terpahat cinta yang merah merekah

lalu musim telah muak dengan mawar atas durinya
mengoyak tiap jiwa-jiwa rapuh
percuma diobral cinta sepicis

rombengan pun
tak mau membeli
tak ada pemulung mau memungut
perdu liar mawar di altar suci
hanya menjadi onak tanpa harga diri

mengemispun tak sudi
cinta itu telah menguap

                                 : berharap pada angin malam, kelam, bintang, rembulan, mentari

angin malam, kelam, bintang, rembulan, mentari
milik semua orang, bukan milikmu sendiri

Mawar kering hanya sejarah yang tak pernah diulang




By: Filiya Sang Putri Alfath

Jumat, 11 September 2020

kerikil

Kerikil selalu ada dimana mana
Bahkan di matamu
Tidak hanya dalam sepatu
Besar kecil
Bulat pipih
Lancip atau bergerigi
Ada pula yang kecil selembut pasir
Kerikil yang tak pernah datang
Selalu ada dan tak pernah pergi
Kerikil kerikil
Terserah kau pilih untuk melihatnya atau mengabaikan
Kerikil selalu ada dalam setiap masalah
Pola pikir juga perasaan
Dalam sepatu menyakiti
Dalam hati mengundang dengki
Kerikil kerikil selalu ada dalam setiap kehidupan
Suka atau tidak

Bisa jadi kerikil adalah dosa dosa yang menumpuk dari kecil hingga menjadi bukit
Atau sebaliknya

Tinggalah kamu disini dengan kerikil berbagai macam rupa

hari ini

Corona nyata atau rekayasa
Mengerikan atau mengada ada
Nenek berkata pagebluk memang bukan perkara mudah
Tapi soal china?
Apa yang tidak palsu dari sana?
Kemanusiaan, uyghur dan segala arogansi lainnya.
Apa lagi yang hendak di bungkam?
Form C1 diakali
Kemenangan oligarki
Kebebasan berpendapat semakin dikebiri
Ah orang orang ini
Selalu jadi topik perdebatan di warung kopi
Sembari tuma'ninah berbagi wifi

Kamis, 10 September 2020

aku tak ingin bilang cinta

Jangan omong kosong
Persetan dengan gelora
Itu hanya kalimat bod*h yang membuatku kehilangan akal sehat

Kelas

Kaki meja mulai kusam
Kilapnya mulai lenyap
Seiring hilangnya tawa bocah bocah
Yang biasa berlarian ke segala arah
Juga lantai dan papan tulis semuanya berdebu
Pandemi memaksa setiap orang mengunci diri
Tak ada lagi senyum yang nampak
Tak ada lagi jabat tangan
Semuanya harus menjauh, entah sampai kapan
Kaki kaki meja mulai bercerita 
Kepada lantai, kepada dinding, kepada pintu pintu yang tak pernah dibuka
Mereka juga sama sama merindu

Rabu, 09 September 2020

Mulai Gila

Hai...
Kubisikkan namamu pada sederet burung gereja.
Apa burung itu datang kepadamu?
Apa dia menyampaikan pesanku?
Aku sendiri termenung dan merasa sangat bodoh.

Selasa, 08 September 2020

Hatiku basah

Kemana anai anai terbang?
Dimana ada mimpi yang bisa dicuri.
Sama seperti aku yang tak penat mencari
Dimana rasaku kau bawa pergi

Kamis, 03 September 2020

miris

Jika yang agamis di cap teroris
Dan pemuda hanya duduk meringis
Lalu apa yang seharusnya di gubris?
Sejak idealis dijajah faktor ekonomis?

Perih menahan tangis
Pancasila di iris iris
Kesaktiannya tak lagi magis

Oh tidak

Hai gadis
Jangan menampakkan diri di depanku ya
Karena kecantikanmu menguapkan setiap tinta
Hingga aku kehabisan pena
Besoknya aku membawa pensil kemudian mata pensilnya meluruh seperti jam pasir

Hingga aku lupa dengan smartphone yang kumiliki, kucoba menangkap ulasan senyum di wajahmu.
Tapi ah...
Bateraiku kosong, lowbat
Semua menjadi kacau tak sesuai rencana
Lagi lagi aku pulang dengan tangan hampa

Aku hanya mencoba mengabadikan sedikit saja keindahan yang diciptakan tuhan
Semuanya berjalan kacau saat kau ada

Kenapa tak kau sisakan se-jepret foto manja di sosial media seperti layaknya perempuan lain yang kukenal. 
Segala yang misterius tentangmu membuatku gila
Membuatku bodoh
Membuatku seperti kerbau yang mengangguk sepanjang hari

Entah sihir macam apa ini?
Jangan tanya soal detak jantungku
Semuanya berdegup lebih kencang, bahkan nadi di tanganku
Darah darah itu mengalir begitu cepat

Jantungku seperti piston yang bergerak meletup letup
Darahku mendidih

Aku hanya menunduk melewati perempuan ini
Hanya agar semua terlihat normal
Aku tak ingin semua kegilaan membuatmu takut padaku

Hai gadis, yang selalu menundukkan pandangan!
Hati hati
Sekali matamu melirik padaku
Aku mungkin tak sadarkan diri

Selasa, 01 September 2020

inikah aku

Adakah yang mencari nenek tua bersyair hantu
Tentang daun daun gugur
Bercerita tentang hujan
Dan aroma tanah basah
Nenek tua hanya punya kata
Si bodoh yang terus saja berlaga
Bahwa putik setiap bunga punya cerita
Dan fabel fabel adalah benar adanya
Rambutnya telah memudar
Kulitnya tak lagi bersinar
Kebodohan kebodohan datang silih berganti
Tulisannya makin tak berarti
Nenek tua tak pernah berhenti

Komentar netizen

Hanya sepasang jempol
Tanpa jari
Tanpa nurani
Merangsek ke ulu hati
Membuatku mati
Semua berasa benar sendiri
Aku semakin gusar

Mencuci hati

Aku merendam rindu rindu dalam bak
Semalaman tanpa jeda
Memutihkan serat serat seperti sediakala
Hingga aku lalai
Rindu rindu itu mulai membusuk
Wangi telah pergi
Noda noda merebak lagi

Kamis, 06 Agustus 2020

pokok tua

Kayu kayu itu mulai lapuk dan gila
Berjuang mati matian agar akarnya bangkit lagi
Akar akar itu sudah busuk
Dan kayu kayu mulai lapuk
Dedaunan rontok
Musim berganti
Pokok itu tetap tergar
Bertengger tanpa sejumput kehidupan
Batangnya yang telanjang meliuk liuk kecoklatan eksotis
Kulit kayu dimakan ngengat bubuk
Hanya tersisa kayu kayu dan ranting 
Hujan pertama
Kedua, ketiga
Tak mampu merubah segalanya

Minggu, 12 Juli 2020

aku hanya malu

Hai gadis
Jangan menampakkan diri di depanku ya
Karena kecantikanmu menguapkan setiap tinta
Hingga aku kehabisan pena
Besoknya aku membawa pensil kemudian mata pensilnya meluruh seperti jam pasir

Hingga aku lupa dengan smartphone yang kumiliki, kucoba menangkap ulasan senyum di wajahmu.
Tapi ah...
Bateraiku kosong, lowbat
Semua menjadi kacau tak sesuai rencana
Lagi lagi aku pulang dengan tangan hampa

Aku hanya mencoba mengabadikan sedikit saja keindahan yang diciptakan tuhan
Semuanya berjalan kacau saat kau ada

Kenapa tak kau sisakan se-jepret foto manja di sosial media seperti layaknya perempuan lain yang kukenal. 
Segala yang misterius tentangmu membuatku gila
Membuatku bodoh
Membuatku seperti kerbau yang mengangguk sepanjang hari

Entah sihir macam apa ini?
Jangan tanya soal detak jantungku
Semuanya berdegup lebih kencang, bahkan nadi di tanganku
Darah darah itu mengalir begitu cepat

Jantungku seperti piston yang bergerak meletup letup
Darahku mendidih

Aku hanya menunduk melewati perempuan ini
Hanya agar semua terlihat normal
Aku tak ingin semua kegilaan membuatmu takut padaku

Hai gadis, yang selalu menundukkan pandangan!
Hati hati
Sekali matamu melirik padaku
Aku mungkin tak sadarkan diri

anakku

Nak. 
Jadilah anak yang jujur
Jadilah anak yang amanah
Kau tahu kenapa tikus takut matahari?
Karena dia suka mencuri
Mengambil sesuatu yang bukan haknya
Menggerogoti segala yang disimpan rapi
Apa kau pernah melihat tikus menantang matahari?
Itu tak pernah tejadi.
Barangkali sesekali ia muncul di siang hari
Mengintip dari selokan
Lalu pergi bersembunyi
Diantara tumpukan sampah
Juga berbagai barang yang tak terjamah
Jika kau anak yang jujur, tak perlu risau dengan apa saja yang ada di hadapanmu
Karena jujur adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. 
Begitu kata orang.
Jangan menukar kebohongan hanya untuk membuat orang lain bahagia. Pun jika itu ibumu sendiri


Terinspirasi dari, novel sonata musim kelima. Karya Lan Fang

Sabtu, 11 Juli 2020

Rencana

Adakah namaku selalu kau rapal
Di sepertiga malam yang sunyi
Dalam sujud
Dan diantara buku jemari wirid dilantunkan

Adakah aku dan kamu dalam kebenaran atau kebetulan?
Aku hanya penikmat skenario tuhan

Apapun yang terjadi, biarlah...
Barangkali itu yang terbaik
Garis tangan bukan untuk di ramal
Gurat tangan itu di beri tuhan
Agar tangan kita lebih kuat mencengkeram

Semoga tuhan mempermudah setiap jalan
Dan menerangi setiap tujuan

Kamis, 09 Juli 2020

lambaikan tanganmu

Selamat tinggal cintaku
Matamu yang lucu
Nampak selalu basah
Tinggalkan jejak jejakmu untuk ku titi
Bila usai tugas ini
Aku akan mencarimu
Janji

Rabu, 08 Juli 2020

berharap lebih banyak

Aku terus saja berusaha
Dalam upaya, doa, dan apa saja
Apa kau juga sama?

Pensil

Halo pensil
Sedang apa kau disana?
Dengan sisa sisa ujung yang menumpul
Kulihat kayumu semakin kusam

Jika saja hari berganti
Dan musim terus bersemi
Ada perasaan yang tak kunjung ditulis

Hanya doa
Yang terus mencari di setiap lembar
Semoga namaku dan namamu
Bertemu jadi satu

Amin, semoga

Senin, 06 Juli 2020

perempuanku

Jangan bicara persoalan majemuk padaku
Apalagi dengan frasa yang terpenggal penggal.
Aku bukan pakar mikro ekspresi yang sanggup memaknai semua tingkahmu

Bicaralah
Katakan dengan pasti
Jangan membuatku semakin benci

Membuatku bergelut dengan berbagai paradigma?
Sayang cobalah mengerti, aku lelah dengan semua ambiguisasi

Minggu, 05 Juli 2020

kadang aku merasa dungu 1

Aku lelah meyakinkan banyak orang bahwa aku baik
Semuanya omong kosong
Aku ingin menjadi hebat
Seperti dewa dewa

Seperti tuhan yang maha segalanya
Di hadapanNya aku hanya pecundang yang terus meminta minta


Kadang aku merasa dungu

Aku hanya orang bodoh yang berusaha meyakinkan banyak orang bahwa aku masih sehebat itu.

Aku melihat cermin kembung
Lalu melihat bayanganku lenih besar dari yang sebenar
Aku tersenyum bangga lalu pergi
Dan kuceritakan ke banyak orang
Bahwa aku sebesar itu

Aku tak sekecil yang mereka katakan
Aku sedikit lebih baik dari kebanyakan sampah sampah yang lain. 

ada saja

Rambutku semakin renta
Gigiku juga payah
Kurasa cita cita ini semakin mengada-ada


Kamis, 02 Juli 2020

mencari janji janji

Koran bersebaran
Berhambur memenuhi tiap jengkal
Semua berisi janji pemanis hati
Gemah ripah loh jinawi

Bangsat...
Otak bejat
Laknat

Kami yang kecil bermodal doa 
Dalam hati memaki
Ribuan sumpah serapah merajalela

Tetap kembali ke sarang dengan tangan hampa.

Rabu, 01 Juli 2020

hati hati

Aku melihat saja
Dari sini
Orang orang mondar mandir
Beberapa dengan senyum
Ada yang saling bertukar
Bertukar mimpi bertukar senyum
Ada juga yang sedang membagi hati
Pada setiap tangan yang menengadah
Secuil hati itu diterima
Dengan seulas senyum
Beberapa anak berlari membawa hati
Menangkupnya dengan jemari
Lalu pergi kerumah
Disampaikannya sebuah pesan hati
Untuk ibu
Dan berceritalah dia
Hari ini seseorang menyapaku dan berkata hati-hati dijalan.
Dengan matanya seorang anak bertanya
"Ibu kenapa jarang orang perduli?"
Mereka bukan jarang perduli
Namun keperdulian itu hanya untuk diri masing masing, bukan untuk orang lain.

Minggu, 14 Juni 2020

Mas ini

Dulu aku punya rasa
Pada lelaki yang kini jadi suamimu
Dia cinta pertama yang pemalu

Selamat menempuh hidup baru
Dengan bidadarimu yang jelita
Semoga Allah memudahkan semua inginmu

Doaku selalu
Dala keheningan aku bertanya
Tuhan kenapa dia masih semanis dulu

") Doa terbaik untuk guru terbaik. Mas Wa dan jeje

Kamis, 11 Juni 2020

Normal baru

Ada yang berbeda darimu sayang
Kenapa kini begitu lusuh
Wajahmu tak lagi klimis seperti biasa?

Maaf aku tak mampu belikan krim wajah
Sejak krim jadi kebutuhan primer
Makan beralih jadi barang mewah yang jarang kau beli

Biar langsing katamu?
Ah sudahlah sayang
Kuharap kau bahagia dengan kebiasaan barumu

Minggu, 07 Juni 2020

Lusuh

Sayang, bisakah kita belajar bercumbu seperti dulu.
Saat kita berdia masih malu malu
Hingga meletup rasa di dadaku
Ayo mengulangnya sekali lagi
Barangkali bosanku akan pergi
Sampai rindumu terasa menggigit kembali

Rabu, 03 Juni 2020

Jangan ambil renjanaku

Gigiku gemeretak
Aku tak mampu bersajak
Dadaku sesak
Sejak rinduku kau bajak
Aku hilang gerak

Sabtu, 25 April 2020

Jingga


Satu warna yang turun dan hinggap di banyak hati
Menerka banyak hal tentang perkara emosi
Beberapa hati meletup letup menari
Ada jarak ada hati juga benci
Seperti kita yang saling mengunci diri
Dalam lemari semua serba menyendiri
Hanya layar kaca dan jari yang terus menari
Diiringi genderang syair ibu pertiwi
Menahan perih untuk wabah di batas hari
Ada cinta yang tertahan 
Ada rindu yang mendekam
Adakah rindumu juga sama sama mencekam
Di sini dadaku meledak
Dalam semburat jingga merebak
Aku merintih di terka rindu yang makin sebak
Sayang... Berdoalah 
Aku takut kita akan berpisah


Sidoarjo, melawan covid19
6 april 2020