Minggu, 12 Juli 2020

aku hanya malu

Hai gadis
Jangan menampakkan diri di depanku ya
Karena kecantikanmu menguapkan setiap tinta
Hingga aku kehabisan pena
Besoknya aku membawa pensil kemudian mata pensilnya meluruh seperti jam pasir

Hingga aku lupa dengan smartphone yang kumiliki, kucoba menangkap ulasan senyum di wajahmu.
Tapi ah...
Bateraiku kosong, lowbat
Semua menjadi kacau tak sesuai rencana
Lagi lagi aku pulang dengan tangan hampa

Aku hanya mencoba mengabadikan sedikit saja keindahan yang diciptakan tuhan
Semuanya berjalan kacau saat kau ada

Kenapa tak kau sisakan se-jepret foto manja di sosial media seperti layaknya perempuan lain yang kukenal. 
Segala yang misterius tentangmu membuatku gila
Membuatku bodoh
Membuatku seperti kerbau yang mengangguk sepanjang hari

Entah sihir macam apa ini?
Jangan tanya soal detak jantungku
Semuanya berdegup lebih kencang, bahkan nadi di tanganku
Darah darah itu mengalir begitu cepat

Jantungku seperti piston yang bergerak meletup letup
Darahku mendidih

Aku hanya menunduk melewati perempuan ini
Hanya agar semua terlihat normal
Aku tak ingin semua kegilaan membuatmu takut padaku

Hai gadis, yang selalu menundukkan pandangan!
Hati hati
Sekali matamu melirik padaku
Aku mungkin tak sadarkan diri

anakku

Nak. 
Jadilah anak yang jujur
Jadilah anak yang amanah
Kau tahu kenapa tikus takut matahari?
Karena dia suka mencuri
Mengambil sesuatu yang bukan haknya
Menggerogoti segala yang disimpan rapi
Apa kau pernah melihat tikus menantang matahari?
Itu tak pernah tejadi.
Barangkali sesekali ia muncul di siang hari
Mengintip dari selokan
Lalu pergi bersembunyi
Diantara tumpukan sampah
Juga berbagai barang yang tak terjamah
Jika kau anak yang jujur, tak perlu risau dengan apa saja yang ada di hadapanmu
Karena jujur adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. 
Begitu kata orang.
Jangan menukar kebohongan hanya untuk membuat orang lain bahagia. Pun jika itu ibumu sendiri


Terinspirasi dari, novel sonata musim kelima. Karya Lan Fang

Sabtu, 11 Juli 2020

Rencana

Adakah namaku selalu kau rapal
Di sepertiga malam yang sunyi
Dalam sujud
Dan diantara buku jemari wirid dilantunkan

Adakah aku dan kamu dalam kebenaran atau kebetulan?
Aku hanya penikmat skenario tuhan

Apapun yang terjadi, biarlah...
Barangkali itu yang terbaik
Garis tangan bukan untuk di ramal
Gurat tangan itu di beri tuhan
Agar tangan kita lebih kuat mencengkeram

Semoga tuhan mempermudah setiap jalan
Dan menerangi setiap tujuan

Kamis, 09 Juli 2020

lambaikan tanganmu

Selamat tinggal cintaku
Matamu yang lucu
Nampak selalu basah
Tinggalkan jejak jejakmu untuk ku titi
Bila usai tugas ini
Aku akan mencarimu
Janji

Rabu, 08 Juli 2020

berharap lebih banyak

Aku terus saja berusaha
Dalam upaya, doa, dan apa saja
Apa kau juga sama?

Pensil

Halo pensil
Sedang apa kau disana?
Dengan sisa sisa ujung yang menumpul
Kulihat kayumu semakin kusam

Jika saja hari berganti
Dan musim terus bersemi
Ada perasaan yang tak kunjung ditulis

Hanya doa
Yang terus mencari di setiap lembar
Semoga namaku dan namamu
Bertemu jadi satu

Amin, semoga

Senin, 06 Juli 2020

perempuanku

Jangan bicara persoalan majemuk padaku
Apalagi dengan frasa yang terpenggal penggal.
Aku bukan pakar mikro ekspresi yang sanggup memaknai semua tingkahmu

Bicaralah
Katakan dengan pasti
Jangan membuatku semakin benci

Membuatku bergelut dengan berbagai paradigma?
Sayang cobalah mengerti, aku lelah dengan semua ambiguisasi

Minggu, 05 Juli 2020

kadang aku merasa dungu 1

Aku lelah meyakinkan banyak orang bahwa aku baik
Semuanya omong kosong
Aku ingin menjadi hebat
Seperti dewa dewa

Seperti tuhan yang maha segalanya
Di hadapanNya aku hanya pecundang yang terus meminta minta


Kadang aku merasa dungu

Aku hanya orang bodoh yang berusaha meyakinkan banyak orang bahwa aku masih sehebat itu.

Aku melihat cermin kembung
Lalu melihat bayanganku lenih besar dari yang sebenar
Aku tersenyum bangga lalu pergi
Dan kuceritakan ke banyak orang
Bahwa aku sebesar itu

Aku tak sekecil yang mereka katakan
Aku sedikit lebih baik dari kebanyakan sampah sampah yang lain. 

ada saja

Rambutku semakin renta
Gigiku juga payah
Kurasa cita cita ini semakin mengada-ada


Kamis, 02 Juli 2020

mencari janji janji

Koran bersebaran
Berhambur memenuhi tiap jengkal
Semua berisi janji pemanis hati
Gemah ripah loh jinawi

Bangsat...
Otak bejat
Laknat

Kami yang kecil bermodal doa 
Dalam hati memaki
Ribuan sumpah serapah merajalela

Tetap kembali ke sarang dengan tangan hampa.

Rabu, 01 Juli 2020

hati hati

Aku melihat saja
Dari sini
Orang orang mondar mandir
Beberapa dengan senyum
Ada yang saling bertukar
Bertukar mimpi bertukar senyum
Ada juga yang sedang membagi hati
Pada setiap tangan yang menengadah
Secuil hati itu diterima
Dengan seulas senyum
Beberapa anak berlari membawa hati
Menangkupnya dengan jemari
Lalu pergi kerumah
Disampaikannya sebuah pesan hati
Untuk ibu
Dan berceritalah dia
Hari ini seseorang menyapaku dan berkata hati-hati dijalan.
Dengan matanya seorang anak bertanya
"Ibu kenapa jarang orang perduli?"
Mereka bukan jarang perduli
Namun keperdulian itu hanya untuk diri masing masing, bukan untuk orang lain.