Senin, 27 Desember 2021

mimpi kecil

bisakah mimpi ini membawaku terbang ke negeri sakura??
bertemu takeru satoh, terunosuke takezai atau keita machida
aku tak tahu siapa yang punya kantong doraemon
dan pintu kemana saja yaang melegenda
ah
biasa saja pintu itu kini di segel karena pandemi
atau terlalu banyak pengunjung sosialita 
bapak fujiko fujio
adakah engkau membuat salinannya?
aku ingin pinjam sekali saja
aku ingin berkunjung ke negeri sakura
makan ramen, bento, onigiri dan sushi
mimpiku yag begitu konyol
tapi akau akan membuatnya menjadi nyata
seperti impian orang orang yang teguh pendiriannya
ganbatte kudasai

By: Filiya 

Kamis, 04 November 2021

senja


Selasar berkata pada batu batu dan bunga di jambangan. Dia pernah ada disini, sebuah kenangan soal lelaki dan tawa. Dia hanya sebuah lolongan perih yang tak kunjung usai. Bilakah dia datang kembali malam ini. Sukulen mungil menjadi saksi tentang rasa yang tetap tumbuh meski tak banyak berubah.

Minggu, 24 Oktober 2021

aih....

Lelaki berkacamata datang dengan senyum
Akupun tersenyum
Lalu kutinju dadanya yang bidang dengan lembut
Hai...
Apa kau sudah punya pacar.
Dia mengangguk
Akupun berkata aku juga akan menikah
Lalu dia berpesan padaku untuk menjadi istri yang baik
Akupun tersenyum kudoakan semoga kau segera dipertemukan dengan seseorang yang terbaik, yang lebih baik, lebih cantik, lebih pintar, segalanya yang terbaik.
Jika kau tak mampu mendapatkannya, cukup carilah yang lebih baik dariku.
Lalu kami berdiri berhadapan dalam wqktu yang cukup lama tanpa kata
Lalu aku mulai berpaling dan meninggalkanmu.

pinus

Duduk, angin, kertas, juga sebotol air
Biarkan aku mengorek selarik sajak
Dengan gemetar

Di lembah pohon pinus
Beberapa bunga pinus jatuh tepat di depanku
Kau tahu bunga yang kuat biasanya tak seberapa indah
Di situ aku berkaca


Jumat, 23 April 2021

Jumat, 26 Februari 2021

kutipan

Kata-kata digunakan untuk dipahami.
Kadang kata-kata juga menuntut untuk dirasakan.

Rabu, 24 Februari 2021

semoga corona sirna

Kawan....
Betapa rindunya aku dengan kalian
Bersenda gurau dalam permainan
Bersama guru dan teman teman
Corona membuatku sangat bosan

Kemana kemana harus pakai masker
Mau keluar pengap, di rumah terus mager
Lagi lagi harus bermain di dalam pagar
Aku penat ingin lari lari keluar

Belajarnya di rumah 
Bermainnya di rumah
Liburannya di rumah
Gurunya hanya papa mamah

Mama berkata kita tak boleh berhenti berdoa
Semoga corona segera sirna
Dan kita bisa kembali berjumpa
Aku rindu sekolah
Pak Guru, Bu Guru juga kawan kawan semua. 

Sabtu, 20 Februari 2021

Kamis, 18 Februari 2021

lepas kendali

Bagaimana jika aku memilihmu dari pahit getir benci yang kemudian jadi rindu
Seperti plot sinetron yang kau bilang murahan.
Dengan akhir yang selalu bisa ditebak
Dan rindu ini membuatku semakin jatuh terjebak
Aku ikan yang terus melawan arus hingga tak tahu jalan pulang
Jika punuk bisa merindukan bulan
Apakah aku harus jadi merpati yang menantang matahari
Diamku kali ini bukan menjadi saksi
Atau sekedar aksi fantasi
Antara biru dan legamnya imajinasi
Tentang pikiran kotor dan bajumu yang dilucuti
Apakah mimpi masih ada saat tengah hari
Keramaian yang sama
Kebisingan yang sama
Kebodohan yang jamak
Aku menelusuri lorong rindu tak berujung

Selasa, 16 Februari 2021

Minggu, 14 Februari 2021

kutipan Fily

Hal terberat yang pernah kurasakan adalah saat menggenggam tanganmu dan mengatakan aku tak bisa berjanji untuk terus bersama

Jumat, 12 Februari 2021

kutipan

Belajar berkaca sebelum mencinta
Bukan rendah diri
Agar tak mati saat tak bisa memiliki

Rabu, 10 Februari 2021

bangkit sekali lagi

Siang menggelepar di matamu
Dan batu batu mejadi saksi
Hari ini aspal menguliti kakiku
Keringat takkan membuatku berhenti
Mencari puing-puing ambisi

Selasa, 09 Februari 2021

Terus Berlari

Bukan saatnya untuk menyerah pada mimpi
Keterasingan takkan mengakhir
Selama jemari dan ilusi masih punya arti

Minggu, 31 Januari 2021

**Memaksimalkan Imaji dalam Puisi** Belajar pada Puisi Acep Zamzam Noor* _Oleh Ribut Wijoto_


Paparan ini saya dapatkan dari Brainly. Imaji asal katanya dari bahasa Inggris yaitu image. Imaji adalah gambaran atau bayangan. Imaji atau bayangan bisa berupa gambaran secara visual, suara, bau, rasa atau bisa juga merupakan gabungan dari semua penginderaan tersebut.

Imaji bisa merupakan salah satu unsur yang ada dalam suatu karya sastra, seperti sajak. Pengarang sajak menggunakan unsur imaji dalam membuat sebuah sajak. selain unsur imaji, dalam membuat sajak juga ada beberapa unsur lainnya yang perlu diperhatikan, yaitu seperti unsur simbol, irama, tema dan gaya bahasa. Dengan menggunakan jenis-jenis imaji yang ada, pengarang sajak dapat membuat sajak secara lebih ekspresif.

Jenis-jenis imaji yang ada adalah seperti imaji penglihatan, imaji pendengaran, imaji penciuman, imaji perasaan, imaji rabaan, dan imaji gerak. Dengan jenis-jenis imaji yang ada tersebut, pengarang sajak dapat merangkai kata-kata yang ada sehingga para pembaca sajak dapat membayangkan atau menggambarkan apa yang dimaksud oleh si pembuat sajak tersebut.

Misalnya, dengan imaji penglihatan, pengarang sajak dapat menyusun kata-kata yang melukiskan bayangan yang timbul karena adanya daya saran penglihatan. Dengan imaji pendengaran, pengarang sajak dapat merangkai kata yang berhubungan dengan usaha memancing bayangan pendengaran guna membangkitkan suasana tertentu. Dengan imaji penciuman, dapat melukiskan ide abstrak menjadi konkrit melalui suatu rengsangan yang seolah – olah dapat ditangkap oleh indera penciuman.

Kemudian dengan imaji perasaan, dapat memilih kata-kata untuk membangkitkan emosi pada sajak guna menggiring daya bayang pembaca yang seolah olah dapat dirasakan oleh pembaca sajak. Dengan imaji rabaan, yaitu berupa lukisan yang mampu menciptakan suatu daya saran bahwa seolah – olah pembaca dapat tersentuh, bersentuhan, atau apapun yang melibatkan efektivitas indera kulitnya. Dengan imaji gerak, bertujuan untuk lebih menghidupkan gambaran dengan melukiskan sesuatu yang diam itu seolah–olah bergerak.

Untuk lebih memerjelas tentang imaji ini, mari kita simak puisi berjudul ‘Meditasi’ dari Acep Zamzam Noor. Acep adalah seorang penyair asal Tasikmalaya. Anak dari mendiang KH Ilyas Rukiat, Rais Aam Suriyah NU periode 1992-1999. 

*MEDITASI*

Angin itu masih duduk-duduk
Di halaman. Merenungi bunga-bunga
Musik hanya lewat
Juga waktu. Angin itu
Seperti abadi. Ketika sunyi
Ketika dingin menggetarkan daun-daun
Membakar ngungun. Gerimis pagi

*1983*

Puisi ‘Meditasi’ ini sangat kaya imaji walau hanya terdiri dari satu bait. Tiap larik membawa imaji tersendiri. Puisi dibuka dengan personifikasi (pengibaratan sebagai manusia) angin yang duduk-duduk di halaman. Angin yang merenungi bunga-bunga. Dan, angin yang bersifat abadi, keabadian. 

Musik digambarkan sebatas lewat. Waktu juga diwujudkan sebatas lewat. 

Di antara musik dan waktu yang sebatas lewat itu, angin menjadi seperti abadi. Keabadian yang dibangun oleh sunyi, oleh ‘ketika dingin menggetarkan daun-daun’. 

Gambaran itu lantas berimbas pada ‘membakar ngungun’. Kata ‘ngungun’ dalam bahasa Jawa artinya gelisah, gundah. Sehingga, aktivitas angin dan waktu tersebut sanggup menghilangkan kegundahan. 

Puisi lantas ditutup dengan adegan ‘gerimis pagi’. Setelah ngungun yang terbakar, terbitkan kesejukan dari gerimis. 

Secara teknis imaji; ada gerak (angin yg duduk2 di halaman), ada gambar (bunga2 yang direnungi), ada suara (musik yg hanya lewat), ada suasana sunyi, ada suhu (dingin yang menggetarkan daun-daun, juga pembakaran ngungun).

Pada puisi ini, kita membayangkan seseorang yang bermeditasi. Berkonsentrasi atau fokus pada keheningan. Meditasi tersebutlah yang diberi beragam gambaran, imaji. Sehingga, pembaca pun bisa memproduksi makna atau memperoleh makna. 

Acep juga mempersandingkan atau mengkontradiksikan waktu. Ada dua waktu. Pertama, waktu yang bersifat sementara. Kedua, waktu yang bersifat abadi. 

Jadi, dalam puisi ‘Meditasi’ itu, Acep hanya menggunakan 1 bait. Setiap diksinya sangat efektif, tidak percuma. Imaji nya banyak. Penuh pengadeganan. Tidak perlu menggunakan banyak kata ‘andai’, ‘seperti’, ‘bagai’, ‘laksana’, ‘merupakan’, ‘adalah’, yang mungkin dianggap pemborosan. 

Ketika mengambil setting (pilihan tempat) halaman atau mungkin taman, dia memaksimalkan ekosistem yang ada. Misalnya angin, tempat duduk, bunga, daun, gerimis, pagi. Dia tidak secara tiba-tiba menghadirkan bantal, mobil, lemari, komputer, laut, maupun pistol. Sehingga, keseluruhan citraan membentuk kesatuan yang memberi bingkai atas tema.  

Begitulah teman-teman, puisi boleh pendek, puisi boleh sederhana, tetapi bobot tidak boleh kendor. Meski pendek, kita perkaya puisi dengan beragam imaji. Sehingga puisi bisa memancar ke beragam pintu tafsir. Mengantar pembaca berpetualang ke beragam pengalaman.  

Terima kasih.

Sabtu, 30 Januari 2021

Di sebuah upacara yang hikmat 
Aku melihatmu di gunduli
Lalu ditahbiskan

Entah berapa rangkaian upacara lagi
Yang akan dilaksanakan
Aku tak paham dengan semua itu

Hanya hikmat di matamu
Cukup jelas 
Sinar mata yang perlahan teduh

Ekspresi wajahmu lebih banyak bercerita
Bahasa semesta

Aku menyaksikan dari kejauhan
Terasa matamu meremas hatiku
Memaksanya keluar

Kebisuan ini membuatku memahami
Dan sesuatu yang kau imani

Terasa begitu hikmat, begitu damai


Kamis, 28 Januari 2021

Sejuk

Akar rumput begitu bergairah
Menyambut hujan pertama
Aroma ilalang menyembur ke udara
Membuai lembut rambutmu

Menegakkan punggung
Menggenggam emosi
Menghujam begitu dalam
Musim ini takkan kubiarkan berlalu tanpa selarik sajak

Senin, 25 Januari 2021

Tegar

Aku adalah ladang.
Yang hijau dan dipaksa selalu hijau
Pak tani pusing jika hijauku tak lagi tajam
Pupuk disebar lebih banyak agar daun lebih menyenangkan untuk dipandang
Hingga mereka lupa pada saatnya daun daun yang terlalu hijau dan lebat membuatku mudah runduk saat angin dan hujan.
Cintai aku dengan sederhana
Dengan pupuk kandang dan sedikit insektisida
Aku akan berjuang untuk tegar hingga pada masanya

Mereka mungkin jarang melihat. Ada sejumput padi liat di ujung lapang. Dari gabah yang tak sengaja jatuh segenggam. Lalu membentuk seikat padi
Bersanding dengan perdu
Tumbuh tanpa kasih sayang
Tetap tegar berdiri sendiri tanpa kawan

Daunnya yang kurus membuat angin lalu begitu saja
Juga akarnya yang menghunjam di tanah tak terbajak. 
Tumbuh lebih kuat dari padi pada umumnya.

Hingga saatnya menguning, kantung benih terisi padat lebih dari padi pada umumnya.
Cukup untuk mengenyangkan dua keluarga.
Kelurga burung gereja

Minggu, 24 Januari 2021

kebisingan di otakku

Bagaimana jika aku memilihmu dari pahit getir benci yang kemudian jadi rindu
Seperti plot sinetron yang kau bilang murahan.
Dengan akhir yang selalu bisa ditebak
Dan rindu ini membuatku semakin jatuh terjebak.
Seperti ikan yang terus melawan arus hingga tak tahu jalan pulang
Jika punuk bisa merindukan bulan
Apakah aku harus jadi merpati yang menantang matahari
Diamku kali ini bukan menjadi saksi
Atau sekedar aksi fantasi
Antara biru dan legamnya imajinasi
Tentang pikiran kotor dan bajumu yang dilucuti
Apakah mimpi masih ada saat tengah hari
Keramaian yang sama
Kebisingan yang sama
Seperti kebodohan yang jamak
Aku melesak semakin dalam dan tenggelam
Aku belum tak menemukan dasar maupun tepian

Sabtu, 23 Januari 2021

BL (boy love) cinta anak lelaki

Di warung kopi muda mudi berbaris
I'tikaf
Anteng khusyuk
Diam berjam-jam
Beberapa diantaranya ada petarung antar galaxy
Ada pula bergoyang dengan di depan ponsel
Ada yang berkaraoke
Ada yang kasmaran
Ada yang masuk dunia perbokepan
Ada pula gadis belia menyaksikan bintang korea
Satu orang diataranya menyaksikan film negeri tetangga
Serial dari negeri gajah putih
Boy love story
Tentang lelaki yang saling mencintai sesama lelaki
Pernah kutanya dia

"Why u love BL story?"
Dia menjawab
"Cause i'am tired with ordinary couple"

Dan aku pergi dengan mulut membulat
"Oh...."

Jumat, 22 Januari 2021

larik larik sajak dari sahabatku. "Ribut Wijoto"

https://borobudurwriters.id/sajak-sajak/puisi-ribut-wijoto/

*Damarsi di Masa Pandemi Covid-19*
_Oleh Ribut Wijoto_

Kami menemukan ketakutan yang lain di Damarsi
Ketakutan dari daun-daun pohon kelengkeng 
Yang jatuh, berserakan, seperti waktu

Di situ tak ada anak-anak bersedia memungut
Tidak lagi, tidak seperti kenangan kami
-- Memang, daun-daun kelengkeng  jatuh 
    tanpa membawa kenangan

Tapi kami membawa kenangan masing-masing
Karung emas, buku-buku bekas, bengkel mobil, tiket pesawat
Waktu bergerak semakin ke belakang

Ketika tanah ini masih di bawah permukaan laut
-- Kami berjalan mundur, menaiki tangga waktu
   dengan cara terbalik

Lalu kami bikin taman bermain di situ, di Damarsi
Taman dari kenangan yang tak boleh luntur
Ayunan, komedi putar, jungkat jungkit, dan batu-batu

Kami berlari mengejar bayang-bayang kami sendiri
Kami berlompatan mengelilingi taman
Kami berhimpitan, berdesakan, bertukar lenguh dengan lepas
Kami saling bertanya dan kami tak mau mendengar jawaban
-- Ketakutan mana yang lebih tua dibanding kenangan?

Pada rumput-rumput taman, kami cecap bau yang lain
Kami mabuk dan menderita karenanya

Lalu sayap-sayap angin, membawa terbang pikiran kami
Begitu keras, begitu dingin, begitu asin, lengang, berkarat
Dan kami turun kembali ke taman, 
Tanpa tahu, taman ini adalah ibu
Dia yang melahirkan kami tanpa persetujuan kami

Seraut wajah waktu dan senja berpagar kenangan
Kami tuliskan nama kami di situ, di Damarsi

Memang, kami telah tua ketika mengenal tanah ini
Tapi kami tak mungkin mengelak
Kami tak mungkin mengkhianati takdir
Tak ada pilihan, 
Kami mengunci rapat pada segala kemungkinan
Dan kami hanya bersandar pada tafsir

Antara usia dan detak jantung
Kami raba pusar di tengah perut kami
Kami rasakan maut melangkah pergi

Tapi kami temukan maut yang lain
Bongkahan bulat yang sejuk, berdenyar
Menyedot yang bisa disedot, menghisap yang bisa dihisap
Membelah yang bisa dibelah

Tubuh kami serasa diremas, dipotong-potong
Kami memberontak dan kami tahu itu sia-sia
-- Tak ada strategi melawan waktu
   kecuali menyerah

Kami susun ulang potongan-potongan tubuh kami
Kami rias wajah kami seperti raja-raja dalam komik
Genangan waktu, kami berenang di deras alirnya

Kami temukan bayang-bayang lain yang jatuh
Kami menangkapnya dengan kegembiraan
Aufklarung, enlightenment, pencerahan
Di antara arus air yang kian menghanyutkan,
-- Kami menjadi anak-anak, menjadi kanak-kanak

Kami bercakap dengan ikan-ikan plastik
Kami kecup gelembung udara sebelum pecah
Kami bersijingkat tanpa menjejak tanah
Kami teriak dan berputaran mengikuti pusaran 
Kami bernafas dalam lumpur
Kami megap-megap lalu terlempar tinggi ke udara

Damarsi ada di bawah kami, menggemaskan
Seperti wanita keluar dari kamar mandi
Rambut basah, handuk melilit tubuh
-- Sembari melayang di udara, 
   tubuh kami mengejang-ngejang liar,
   kami dibikin berahi oleh penampakan Damarsi

Damarsi, damar - besi, sebuah desa dengan nama lampu
Petak-petak tambak dengan mulut menganga
Sungai yang selebar fantasi
Seseorang sendirian memancing dengan lumut basah
Dan petani menggarap sawah yang bukan miliknya
Dan lalu lalang pengembang properti
Dan jalan yang kian kotak-kotak
Dan serangga hijau mati
Dan mati dan mati
Dan mati

Kami saksikan semuanya dari udara yang kian dingin
Tubuh kami bergetar dan basah
Kuyup oleh berahi

Mendung tebal tersaput angin kelam
Tubuh kami terus membumbung tinggi
Mendekati batas atap langit 
-- Tubuh kami, mungkin, sudah mendekati rumah Tuhan

Tiba-tiba tubuh kami terhempas, jatuh
Hujan turun dalam dada kami
Berdenting seperti peluru

Kematian yang tertunda, barangkali, tak pernah ada
Sepuluh jari-jari kami menancap pada tanah
Darah mengalir, seperti busa sabun cucian
-- Bening, berbuih, dan kesepian

Duka semakin abadi, bermantel ungu
Kami kini jasad yang ditinggalkan ruh
Dan kunang-kunang terbang 
berputar di atas kepala

Kami tak pernah menyangka
Maut begitu cantik dan selalu menolak dicintai

Ada suara-suara lain memanggil kami
Mungkin suara Tuhan
Lebih dekat dari telinga, lebih bening dari bayi
Lebih nyaring dari rayuan wanita jalang

Kami bangkit dan bergegas pulang
Pada rumah yang terbangun dari bait-bait puisi
Tetapi pintu tertutup dan segalanya telah berubah
Kami dapati orang-orang mengenakan masker
Saling menjaga jarak
-- Orang lain adalah neraka

Begitulah, kami pernah membangun rumah
Tetapi dengan perasaan bimbang kami bertanya
Ke mana harus pulang?

Damarsi yang menyakitkan
Seperti perampok
Seperti delta
Seperti Jawa
Seperti ruh yang mengkhianati tubuh kami sendiri
Seperti kenangan yang tak pernah ada
Seperti ingatan yang perlahan sirna

Akhirnya, pada bulan kesepuluh ini, kami memilih pergi
Kami lupakan Damarsi
Kami cari kitab suci yang lain
Kami berjalan ke arah matahari terbenam
-- Serupa petarung kidal 

Jalan setapak bercecabang kami lalui
Terus berjalan dengan mata terpejam
Terus, terus, terus ke barat
Kami telusuri lagi kota lama Adi Wicaksono
Dan sebagaimana tokoh suci Subagio Sastrowardoyo
-- Kami hanya makan harum kunyahan bunga
    dan minum tetes angin pagi

Terus berjalan, sampai pada tepi
Di mana waktu kian tercerai berai
Seperti mimpi seorang wanita telanjang
-- Ingatan tentang masa depan
   ramalan tentang masa silam

Lalu kami temui ruang baru tempat bermukim
Sebuah desa yang dilumuri cahaya
Tanpa kami sadari, kami telah kembali 
Di Damarsi

_Sidoarjo, 22 Januari 2021_

tidak ada yang istimewa

Bagaimana jika aku mencintaimu dengan cara biasa saja.
Apakah kamu masih bisa menerima?

Kamis, 21 Januari 2021

Rabu, 13 Januari 2021

apakah aku gila?

Aku melihatmu 
Aku mengerling
Kita tersipu
Semudah itu
Aku terjatuh
Dalam rasa yang begitu dalam
Lebih dalam dari samudera
Hingga menembus batas gender
Dan aku mulai bertanya-tanya
Apakah aku masih waras?
Apakah aku normal?
Jangan bertanya lagi
Aku juga tak paham dengan rasa ini
Aku jatuh dan tenggelam
Dalam kedalaman rasa yang tak terbatas

Jumat, 08 Januari 2021

usia

Ketika aku tak lagi remaja
Cinta bukan lagi segala-galanya
Aku bergelut dengan realita
Seluruhnya menggunakan logika
Aku menjadi dewasa lalu terus menua tanpa jeda.

Rasa

Mencintaimu adalah membuat waktuku banyak terbuang. 
Untuk sekedar memandang foto.
Atau untuk sekedar memejamkan mata dan mulai mengingat kembali hal manis yang kita lakukan bersama. 

Kamis, 07 Januari 2021

butuh kamu

Karena kamu
Dan hanya kamu saja
Sudah lengkap semuanya
Cukup kamu
Aku takkan jenuh
Untukmu selalu