Paparan ini saya dapatkan dari Brainly. Imaji asal katanya dari bahasa Inggris yaitu image. Imaji adalah gambaran atau bayangan. Imaji atau bayangan bisa berupa gambaran secara visual, suara, bau, rasa atau bisa juga merupakan gabungan dari semua penginderaan tersebut.
Imaji bisa merupakan salah satu unsur yang ada dalam suatu karya sastra, seperti sajak. Pengarang sajak menggunakan unsur imaji dalam membuat sebuah sajak. selain unsur imaji, dalam membuat sajak juga ada beberapa unsur lainnya yang perlu diperhatikan, yaitu seperti unsur simbol, irama, tema dan gaya bahasa. Dengan menggunakan jenis-jenis imaji yang ada, pengarang sajak dapat membuat sajak secara lebih ekspresif.
Jenis-jenis imaji yang ada adalah seperti imaji penglihatan, imaji pendengaran, imaji penciuman, imaji perasaan, imaji rabaan, dan imaji gerak. Dengan jenis-jenis imaji yang ada tersebut, pengarang sajak dapat merangkai kata-kata yang ada sehingga para pembaca sajak dapat membayangkan atau menggambarkan apa yang dimaksud oleh si pembuat sajak tersebut.
Misalnya, dengan imaji penglihatan, pengarang sajak dapat menyusun kata-kata yang melukiskan bayangan yang timbul karena adanya daya saran penglihatan. Dengan imaji pendengaran, pengarang sajak dapat merangkai kata yang berhubungan dengan usaha memancing bayangan pendengaran guna membangkitkan suasana tertentu. Dengan imaji penciuman, dapat melukiskan ide abstrak menjadi konkrit melalui suatu rengsangan yang seolah – olah dapat ditangkap oleh indera penciuman.
Kemudian dengan imaji perasaan, dapat memilih kata-kata untuk membangkitkan emosi pada sajak guna menggiring daya bayang pembaca yang seolah olah dapat dirasakan oleh pembaca sajak. Dengan imaji rabaan, yaitu berupa lukisan yang mampu menciptakan suatu daya saran bahwa seolah – olah pembaca dapat tersentuh, bersentuhan, atau apapun yang melibatkan efektivitas indera kulitnya. Dengan imaji gerak, bertujuan untuk lebih menghidupkan gambaran dengan melukiskan sesuatu yang diam itu seolah–olah bergerak.
Untuk lebih memerjelas tentang imaji ini, mari kita simak puisi berjudul ‘Meditasi’ dari Acep Zamzam Noor. Acep adalah seorang penyair asal Tasikmalaya. Anak dari mendiang KH Ilyas Rukiat, Rais Aam Suriyah NU periode 1992-1999.
*MEDITASI*
Angin itu masih duduk-duduk
Di halaman. Merenungi bunga-bunga
Musik hanya lewat
Juga waktu. Angin itu
Seperti abadi. Ketika sunyi
Ketika dingin menggetarkan daun-daun
Membakar ngungun. Gerimis pagi
*1983*
Puisi ‘Meditasi’ ini sangat kaya imaji walau hanya terdiri dari satu bait. Tiap larik membawa imaji tersendiri. Puisi dibuka dengan personifikasi (pengibaratan sebagai manusia) angin yang duduk-duduk di halaman. Angin yang merenungi bunga-bunga. Dan, angin yang bersifat abadi, keabadian.
Musik digambarkan sebatas lewat. Waktu juga diwujudkan sebatas lewat.
Di antara musik dan waktu yang sebatas lewat itu, angin menjadi seperti abadi. Keabadian yang dibangun oleh sunyi, oleh ‘ketika dingin menggetarkan daun-daun’.
Gambaran itu lantas berimbas pada ‘membakar ngungun’. Kata ‘ngungun’ dalam bahasa Jawa artinya gelisah, gundah. Sehingga, aktivitas angin dan waktu tersebut sanggup menghilangkan kegundahan.
Puisi lantas ditutup dengan adegan ‘gerimis pagi’. Setelah ngungun yang terbakar, terbitkan kesejukan dari gerimis.
Secara teknis imaji; ada gerak (angin yg duduk2 di halaman), ada gambar (bunga2 yang direnungi), ada suara (musik yg hanya lewat), ada suasana sunyi, ada suhu (dingin yang menggetarkan daun-daun, juga pembakaran ngungun).
Pada puisi ini, kita membayangkan seseorang yang bermeditasi. Berkonsentrasi atau fokus pada keheningan. Meditasi tersebutlah yang diberi beragam gambaran, imaji. Sehingga, pembaca pun bisa memproduksi makna atau memperoleh makna.
Acep juga mempersandingkan atau mengkontradiksikan waktu. Ada dua waktu. Pertama, waktu yang bersifat sementara. Kedua, waktu yang bersifat abadi.
Jadi, dalam puisi ‘Meditasi’ itu, Acep hanya menggunakan 1 bait. Setiap diksinya sangat efektif, tidak percuma. Imaji nya banyak. Penuh pengadeganan. Tidak perlu menggunakan banyak kata ‘andai’, ‘seperti’, ‘bagai’, ‘laksana’, ‘merupakan’, ‘adalah’, yang mungkin dianggap pemborosan.
Ketika mengambil setting (pilihan tempat) halaman atau mungkin taman, dia memaksimalkan ekosistem yang ada. Misalnya angin, tempat duduk, bunga, daun, gerimis, pagi. Dia tidak secara tiba-tiba menghadirkan bantal, mobil, lemari, komputer, laut, maupun pistol. Sehingga, keseluruhan citraan membentuk kesatuan yang memberi bingkai atas tema.
Begitulah teman-teman, puisi boleh pendek, puisi boleh sederhana, tetapi bobot tidak boleh kendor. Meski pendek, kita perkaya puisi dengan beragam imaji. Sehingga puisi bisa memancar ke beragam pintu tafsir. Mengantar pembaca berpetualang ke beragam pengalaman.
Terima kasih.