Mimpi seperti kayu yang terbakar di usia pagi.
Dan ketika matahari mulai condong ke arah senja.
Mimpi mulai menjadi dongeng yang amat mustahil untuk disentuh.
Bahkan jika hati dan mimpi menjadi ambisi.
Aku hanya remaja bodoh yang mengenal ambisi sebagai batu hambatan. Bukan sebagai batu pijakan untuk melangkah lebih tinggi.
Aku bukan sepertimu yang setia pada satu wajah lalu setia dan tak pernah berpaling.
Bisakah aku mengunjungimu di negara empat musim?
Mengarungi lautan salju yang mungkin bisa membunuhku.
Setidaknya aku bisa mati membeku dengan seulas senyum