Selasa, 29 Maret 2011

PUISI PROSAIK : Berburu Masa Kecil, 002

Aku mencari Vian. Dimana Vian? Hampir satu jam perempuan ini duduk manis di hadapanku. Matanya bening membiaskan sorot mataku, senyumnya jernih memantulkan sinis bibirku. Otot-ototku hampir lunglai lantaran menghirup nafasnya yang harum. Kok bengong melulu? Aku Vian teman kecilmu dulu. Bukan. Kamu bukan Vian. Kamu cuma sesosok badan dengan kulit wajah, lengkung alis dan lesung pipit yang mirip dengan punya Vian. Tapi kamu bukan Vian meski sepasang paru-paru yang kembung-kempis di dadamu dengan sekepal jantung di tengahnya yang berdegup persis di atas usus-usus yang tersusun rapi bersama hati dan empedu adalah benar-benar milik Vianku. Tapi Vian adalah Vian, bukan sekadar semua organ dalam itu atau sepasang mata kucing atau sebuah bibir merah yang ranum merekah.
Vian tidak merokok. Vian suka pakai jilbab dan main boneka, bukan pakai pelembab rambut dan main mata sepertimu. Vian suka minum susu dan bersenandung, bukan minum bir lalu berlincah kata bagai penyair sepertimu. Vian adalah teman kecil yang belasan tahun lalu menghilang, dan kini kutemukan kembali seonggok dagingnya di sebuah kafe, masih utuh, tapi tak ada lagi Vian di situ.


Negeri Katon, Maret 2011
oleh Puisi Prosaik pada 28 Maret 2011 jam 10:17
 
_____________________________________________________________

Aku rindu pada Vian-ku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya tunggu kritik dan sarannya :D